
Shasa nampak bingung, sepulang dari mall hingga makan malam suaminya diam jika di tanya hanya menjawab singkat. Saat ini Shasa menunggu suaminya masuk kedalam kamar tapi waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam namun Vaiz tak kunjung masuk kedalam kamar. Ia meraih jubah tidurnya lalu berjalan menuju ruang kerja Vaiz . Shasa mengerutkan keningnya saat mendapati Vaiz memilih tidur di sofa ruang kerja. Ia menghampiri suaminya dan mencium bibir suaminya berkali kali. Perlahan lahan Vaiz membuka mata dan menatap wajah istrinya. Tampak Shasa terlihat cantik dan menawan.
"kenapa menjauhiku?" tanya Shasa pelan.
"tidak, aku hanya ketiduran terlalu lelah bekerja."
"kita menikah bukan setahun dua tahun. Aku tahu kau sedang menjauhiku. Apa salahku? bukankah kamu pernah bilang jika setiap ada masalah kita harus sharing lalu kenapa kau malah menjauhiku.Sekarang katakan di mana kurang dan salahku. Insyaallah aku pasti akan memperbaikinya." tutur Shasa sambil mengelus pipi suaminya. Vaiz pun bangun dari tidurnya dan meminta istrinya duduk si samping dirinya.
"apa aku salah jika aku memiliki rasa cemburu?" tanya Vaiz pelan.
Shasa tampak menahan tawa mendengar penuturan suaminya.
"tidak, tapi kau cemburu karena apa? bahkan kamu tahu cinta dan sayangku hanya aku bagi dengan suami dan putriku. Sayang.. jangan bilang kau cemburu dengan putrimu itu tidak baik sayang." tutur Shasa memperhalus ucapannya.
"aku tidak seburuk itu ibu, tadi siang aku melihatmu kau berbicara dengan Nino." mendengar pengakuan suaminya sontak Shasa membulatkan matanya.
"dan kau cemburu akan hal itu mendiamkan istrimu ayolah sayang jangan seperti ini. Kau tau bukan aku bukan tipe wanita yang suka mencabang. Ayo ikut aku." Shasa menarik lengan suaminya dan berjalan menuju kamar di ikuti Vaiz. Mereka berdiri di depan cermin dengan Shasa memeluk dari belakang.
"katakan apa yang membuatmu cemburu pada Nino?" Vaiz menatap dirinya yang terlihat menua tapi masih tampan.
"lihat saja aku terlihat tua sedangkan kau terlihat cantik dan nampak seperti seorang gadis." ucap Vaiz menatap dirinya di cermin. Mendengar keluhan sang suami Shasa hanya menunggingkan senyumannya .
"tapi kau tetap sexy, setua apapun dirimu kau tetap suamiku, kau tetap cintaku , sayangku. Jadi buang rasa cemburumu,itu tidak baik." ucap Shasa sambil mengelus dada bidang suaminya.
Vaiz membalikkan tubuhnya menghadap kearah Shasa. "sayang.. aku mencintaimu." ucap Vaiz sambil memeluk tubuh istrinya .
"aku tau ayah, jadi jangan ada rasa cemburu itu tidak baik." ucap Shasa sambil melepas belitan tangan suaminya.
"tidak, maafkan aku sayang."
"aku maafkan, jadi kau masih ingin tidur di ruang kerjamu?" goda Shasa sambil melepas jubah yang di gunakan menutupi tubuhnya karena terbungkus dengan kain tipis.
"sayang kau menggodaku?"
"tidak. Aku mengantuk." ucap Shasa sambil naik keatas ranjang dan menidurkan tubuhnya tak lupa ia juga menyelimuti tubuhnya sampai atas leher .
"Sayang kau menggodaku." keluh Vaiz menyusul istrinya ke atas ranjang. Vaiz menatap sang istri yang pura pura tidur. Dengan cekatan ia langsung menarik selimut tersebut.
__ADS_1
"sayang aku mengantuk, jangan menggangguku." ucap Shasa .
"jangan pura pura ibu, kau telah menggoda Ayah." Shasa tak menggubris suaminya membuat Vaiz menjadi gemas. Vaiz pun memeluk tubuh istrinya lalu menciumi seluruh tubuh istrinya, namun istrinya tetap tak menggubris . Vaiz pun mengusap jambang miliknya pada wajah Shasa juga pundak Shasa membuat wanita beranak satu itu tertawa kegelian.
"sayang jangan seperti itu aku geli." ucap Shasa dengan tertawa lebar.
"siapa suruh kau menggodaku, ha! rasakan ini sayang." lagi lagi Vaiz mencium i seluruh wajah Shasa dan leher Shasa dengan sesekali menggelitiki Shasa.
"sayang cukup rahangku sakit tertawa terus." pinta Shasa. Namun Vaiz malah menindih tubuh Shasa dengan kedua tangannya menompang untuk menahan bobot tubuhnya.
"mana yang harus aku cium, sini." kecupan mendarat pada leher Shasa dengen jambang Vaiz yang ia gesekkan membuat Shasa kegelian.
"cukup sayang cukup, aku lelah." Shasa menahan kepala Vaiz agar berhenti menciuminya. Ia mengatur nafas yang tersengal sengal akibat suaminya.
"huh, rahangku sakit karena tertawa terus." keluh Shasa sambil menyunggingkan senyumannya.
"mau lagi?" tanya Vaiz dengan tatapan nyalang siap untuk mengerjai istrinya.
"tidak aku lelah tertawa terus." Vaiz tersenyum menatap wajah istrinya begitu juga dengan Shasa. Tanpa kode dan aba aba Vaiz mel***t bibir istrinya lalu menciumi seluruh wajah dan leher istrinya dengan lembut. Perlahan gaun tidur milik Shasa sudah terlepas dari tubuh Shasa, lekuk tubuh Shasa terekspos membuat Vaiz menciuminya. Mata Shasa terpejam menikmati permainan suaminya. Suara suara aneh kian terdengar satu sama lainnya. Keringat mengucur dan hentakan demi hentakan Vaiz lakukan . Selesai dengan aktivitas keduanya, Vaiz membaringkan tubuh nya di samping istrinya. Mereka mengatur mulai mengatur nafas, Shasa pun menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan dari belakang suaminya memeluknya. Keduanya memejamkan mata dan mulai mengistirahatkan tubuh nya.
Setelah Sholat subuh , Shasa sibuk di dapur. Ia menyiapkan sarapan dan bekal untuk putri nya. Setelah semua selesai, Ia meminta pelayannya untuk menyiapkan sarapan di meja makan.
"iya nyonya."
Shasa naik ke ataz untuk melihat putrinya. Ia membuka kamar putrinya senyumnya mengembang.
"wahh, putri ibu sudah siap untuk sekolah?" ucap Shasa berjalan menghampiri putrinya.
"Iya ibu, aku di bantu dengan mbak Hilma." jelas Ayu dengan suara khas anak kecil.
"baiklah, ibu kembali ke kamar dulu kamu yang anteng nanti mbak Hilma nya gak pas nguncir kamu kalau kamu nya gerak terus." tutur Shasa sambil mencium pipi putrinya.
"iya ibu."
"sayang." teriak Vaiz dari kamar utama.
"ayah memanggil sebentar." Shasa berlari keluar kamar putrinya dan masuk ke kamar utama. Kamar mereka memang bersandingan, jadi tanpa Vaiz berteriak dua kali Shasa pasti sudah muncul.
__ADS_1
"jangan berteriak sayang, ada apa?" tanya Shasa.
"kau melupakan tugasmu." ucap Vaiz sambil menunjukkan dirinya yang masih berantakan.
"kau ini coba sekali kali lakukan sendiri."
"tidak."
"kenapa tidak?"
"setidaknya aku ingin kau manja di pagi hari dan malam hari. Bukan hanya ayu saja aku juga ingin." jelas Vaiz enteng.
"kau bukan bayi sayang." protes Shasa sambil merapikan pakaian yang di kenakan suaminya.
"tidak ada salahnya bukan minta di manja istri sendiri. Gak mungkin kan minta sama wanita lain.". goda Vaiz.
" coba saja kalau berani." ucap Shasa menatap nyalang suaminya sambil menarik dasi suaminya hingga membuat suaminya tercekik.
"auhh sayang, itu tidak sopan." keluh Vaiz.
"makannya jangan main main sama aku. Sudah ayo kita sarapan. Jika lama putri kita akan mengamuk." terang Shasa melangkah sambil menenteng jas dan tas suaminya .
Sampai di meja makan, Shasa menatap putrinya yang lahap memakan sarapannya. Shasa mengambil sarapan untuk suaminya lalu untuknya sendiri. Selesai sarapan, ketiganya berjalan keluar menuju teras rumah.
"sayang, bekalnya sudah masuk tas?" tanya Shasa pada putrinya.
"iya."
"belajar yang baik sayang." tutur Shasa saat putrinya berpamitan padanya. Shasa mencium kedua pipi gembul putrinya.
"iya ibu." Ayu masuk mobil. Dan giliran Vaiz berpamitan pada istrinya.
"hati hati di jalan ayah, anaknya di ajak berdoa dulu saat akan berangkat ." titah Shasa.
"iya ibu." Shasa mencium punggung tangan suaminya. Tak lupa Ia mencium kening dan kedua pipi istrinya.
Mereka pun berangkat dengan Shasa yanv menatap laju mobil sampai tak terlihat oleh pandangannya. Shasa pun kembali masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Jangaan lupa like,vote dan bagi gift nya juga ya kak.. Untuk penyemangat author.. Tunggu extra part selanjutnya ya kak..😀😊