
Sudah seminggu tubuh Shasa lemas, setiap pagi ia juga merasa pusing. Levi selalu khawatir, namun Shasa selalu bicara jika nantinya akan sembuh. Saat ini keduanya tengah berada di ruangan dokter Thalita.
"kenapa dokter Andy memintaku ke ruanganmu Thalita?" celetuk Vaiz.
"aku akan periksa istrimu, ayo Sa aku priksa dulu." Shasa mengikuti langkah dokter Thalita. Ia berbaring di atas brankar lalu dokter Thalita mulai memeriksa.
"apa yang kau keluhkan ?"
"hanya pusing saja dok." ujar Shasa.
Setelah memeriksa Shasa kembali duduk di samping suaminya, setelah itu dokter Thalita duduk di depan keduanya.
"apa yang terjadi?" tanya Vaiz menatap dokter Thalita .
"apalagi, harusnya kau bahagia. Istrimu hamil Vaiz. Selamat kau akan menjadi ayah untuk kedua kalinya." ucap dokter Thalita tersenyum.
"apa dokter? aku hamil?" tanya Shasa terkejut.
"iya."
"alhamdulillh. Sayang." lirih Shasa pada suaminya. Matanya nampak berkaca kaca.
Vaiz menatap istrinya dengan pandangan sulit ditebak, bahagia terharu dan entah apa yang pasti saat ini dia akan menjadi ayah untuk yang kedua kali nya.
"bayi kalian sangat sehat, dan Sa aku harap kau jangan banyak pikiran. Dan lo Iz jangan istrimu dengan baik." ujar Dokter Thalita.
"itu pasti." lirih keduanya serentak.
Dokter Thalita selalu tersenyum jika melihat keduanya terkadang ia juga iri pada pasangan suami istri yang selalu romantis, tapi apalah daya suaminya begitu kaku dan tidak bisa romantis padanya.
"aku akan merespkan vitamin untuk kau tebus, dan jaga pola makanmu ingat sa jangan terlalu makan pedas."
"ingat sayang, aku tidak mau di kehamilan ini banyak makan pedas, mungkin bukan kamu yang aku omeli tapi Thalita dokter kesayanganmu." ujar Vaiz. Mendengar ucapan suaminya Shasa hanya memberengut dan mengangguk pasrah.
"baiklah dokter, aku permisi dulu."
"yaa, sehat terus untukmu dan bayimu." Shasa mengangguk tersenyum.
Setelah keluar dari ruangan dokter, Vaiz menggandeng istrinya dengan posesif. Tersenyum sesekali mencium punggung tangan istrinya.
"apa kau bahagia?" tanya Shasa begitu sampai di dalam mobil.
"sangat bahagia." Vaiz melajukan mobilnya keluar dari lingkungan rumah sakit.
"kau ingin bayi perempuan atau laki laki?" tanya Shasa.
"apa pun jenis kelaminnya aku tidak akan mempermasalahkan." jelas Vaiz.
"bukannya pengusaha sepertimu ingin putra sebagai penerus perusahaan?" tanya Shasa lagi.
"sama saja, perempuan juga tidak kalah hebat." ucap Vaiz.
__ADS_1
"jadi tidak masalah jika anak kita perempuan lagi?" tanya Shasa.
"tidak, yang penting anak dan ibunya sehat terus." ujar Vaiz tersenyum.
"aaa sayang, cinta mu selalu tanpa syarat." ucap Shasa merengkuh lengan suaminya.
"dan kau istri dan ibu yang hebat, selalu temani aku sampai maut memimasahkan." ucap Vaiz mengecup pucuk kepala istrinya.
"ya aku doakan kita selalu berjodoh dikelahiran berikutnya berikutnya." ucap Shasa dengan senyum merekah.
"amin." ucap Levi .
Sampai di rumah, Vaiz dan Shasa di sambut oleh putri cantiknya.
"assallamualaikum." ucap Vaiz dan Shasa.
"waalaikumsallam, Ayah apa ibu sakit?" tanya Ayudia.
"tidak sayang, ayo ke kamar ayah mau kasih tau." ucap Vaiz .
"apa ayah."
"ikuti ayah." ucap Vaiz sambil menggandeng istrinya.
Ketiganya naik tangga menuju kamar utama. Shasa bersandar pada kepala ranjang dengan kaki di selonjorkan. Sementara Ayu duduk di samping Shasa berhadapan dengan Vaiz.
"sayang, putri cantik ayah." panggil Vaiz.
"mmmm, Ayu mau punya adik." bisik Vaiz pada putrinya.
"adik?" tanya Ayu pada Vaiz lalu menatap ibu nya.
"iya, kamu ingin adik bukan?" tanya Vaiz lagi.
"Iya, tapi ayah, dimana adik Ayu?" tanya Ayu lagi. Raut wajahnya nampak bingung.
"hmmm, adiknyya masih diperut nak." jelas Shasa sambil mengelus rambut putrinya.
"diperut? kenapa di perut? apa ayah tidak beli adik ibu?" tanya Ayu nampak bingung.
"sayang, adik itu tidak beli. Adik nya Ayu masih di perut ibu dan nanti kalau sudah 9 bulan adiknya keluar?" tanya Ayu, ia nampak bingung dengan ucapan kedua orang dewasa.
"mmmm, iya kan adik nya masih kecil."
"ooooo, adiknya kalau masih kecil masuk perut ya ibu?" tanya Ayu.
"iya, Ayudia dulu kan juga gitu masih kecil masuk perut." jelas Vaiz .
"ooooo. Terus kalau Ayu ingin lihat adik bagaimana ayah?" tanya Ayu. Vaiz menggaruk kepala nya, ternyata lebih susah menjelaskan pada putrinya ketimbang dengan client nya. Sorot mata nya memohon pada istrinya untuk membantu menjelaskan. Namun bukan membantu Shasa nampak tertawa .
"baiklah, jika ayah tidak menjawab Ayu mau main dulu." gadis kecil nya tuan Vaiiz itu turun dari ranjang dan berlari kecil keluar kamar.
__ADS_1
Vaiz nampak menghela nafas, kala melihat putrinya keluar dari kamar. Sementara Shasa masih tertawa melihat ekspresi suaminya.
"bhaahahah." tawa Shasa menggelegar.
"ibu mengejek Ayah?" tanya Vaiz dengan tatapan tajam.
"sayang, bagaimana mungkin aku mengejekmu." ucap Shasa beralasan.
"lalu kenapa kau tertawa?" tanya Vaiz .
"aku tertawa karena putri mu sangat pandai, sampai ayahnya sulit menjelaskan." ucap Shasa.
"ooo iya sayang, bagaimana kau kalah dengan putrimu? bukannya kau selalu menang jika berdebat dengan clien atau rekan bisnismu? atau dengan musuhmu sekaligus?"
"ya, menejawab pertanyaan putriku lebih sulit daripada berlomba memenangkan tander." jelas Vaiz.
"ya karena dia bukan pintar lagi. Tapi cerdas." ujar Shasa yang di setujui oleh Vaiz .
Vaiz pun langsung berbaring di samping istrinya sambil memeluk Shasa.
"sayang, aku rindu." lirih Vaiz .
"hmmmm, rindu lagi?"
"kau tau bukan jika suamimu ini selalu rindu padamu." ucap Vaiz memeluk tubuh istrinya dengan kepala bersandar pada dada istrinya.
"dan suamiku ini selalu manja seperti bayi besar." celetuk Shasa.
"yaaa, dan kau yang selalu memanjakanku." ucap Vaiz mendongak menatap wajah manis istrinya.
"aku mencintaimu." ucap Shasa mengusap kepala suaminya.
"aku lebih mencintaimu. Melebihi segalanya." ucap Vaiz memeluk erat tubuh istrinya.
Keduanya memejamkan mata menikmati moment mesra seperti ini. Tangan Shasa terus mengusap kepala suaminya. 6 tahunan mereka menikah tak ada pertengkaran hebat, tak ada kata keluhan dari keduanya. Keromantisan yang selalu di lakukan oleh Vaiz dan kemanjaan dari Shasa membuat pernikahan selalu awet dan adem ayem.
Entah sejak kapam keduanya tertidur saling memeluk. Sedangkan Ayu putri keduanya kembali untuk menemui kedua orang tuanya, namun saat netranya menatap ayah ibunya yang sedang terlelap. Perlahan Ayu naik keatas lalu mencium pipi ayah dan pipi ibunya.
"selamat tidur ibu dan ayah." ucap Ayu.
Perlahan ia turun perlahan, dan berjalan mengendap endap. Ia lalu menutup pintu perlahan dan memastikan jika orang tuanya tidak terbangun.
Mbak Cristin, Art yang biasa menemani Ayudia tersenyum saat melihat tingkah menggemaskan Ayu.
"nona kecil sangat menggemaskan ." gumam mbak Cristin.
"non Ayu." ucap mbak Cristin.
"ssssttttt, jangan berisik mbak, ayah dan ibu sedang tidur." bisik Ayu.
"oppsss, sorry. Kita ke kamar?" bisik mbak Cristin juga.
__ADS_1
Ayu mengangguk berjalan masuk ke kamar di ikuti mbak Cristin.