
Siang hari Shasa meregangkan ototnya . Ia tertidur cukup lama , perlahan membuka mata dan melihat di sekeliling . Ia mendudukan tubuhnya perlahan ,setelah merasa sudah terkumpul nyawanya ia berjalan kearah kamar mandi menurutnya akhir akhir ini ia serung merasa buang air kecil tak lupa Shasa membasukh mukanya . Tak butuh waktu lama , Shasa keluar kamar ia melihat di sekelilingnya tampak sepi . Shasa berjalan perlahan kearah samping rumah , mengambil posisi duduk menghadap taman kecil miliknya .
"nyonya sudah bangun ." sapa pelayannya .
"sudah bu, aku hanya ingin menghirup udara di luar rumah ."
"oh begitu,"
"bu, dimana suamiku?" tanya Shasa .
"tuan sudah berangkat di kantor sedari tadi nyonya ."
"ohhh, baiklah terimakasih bu ."
"kalau begitu saya undur diri nyonya ." Shasa mengangguk tersenyum .
Di kantor Taban Group , Vaiz sudah berada di ruangannya.
"tuan , kali ini kita akan berangkat kesana lebih lama ." ucap Dino .
__ADS_1
"apa tidak bisa di tunda? kau tahu bukan jika istriku sedang hamil hanya menunggu minggu saja ." keluh Vaiz .
"tapi tuan , ini adalah proyek besar jika di tunda maka." menjeda ucapannya .
"pergilah biar ku fikirkan ." Dino pun undur diri sedangkan Vaiz berjalan kearah jendela . Ia terlihat bingung antara pekerjaannya dan istrinya .
"apa yang aku fikirkan , jika aku berangkat istriku bagaimana? tapi jika tidak impianku akan hilang dalam sekejap." ucap Vaiz lirih . Ia membuang nafas kasar betapa penatnya ia sekarang . Ia di ambang kebimbangan .
Ia kembali ke kursi kebesarannya sambil memijat pelipisnya . Saat meraih lembaran kertas kertas pikirannya tidak fokus akhirnya Vaiz meraih kunci mobil dan tas kerjanya . Ia berjalan keluar ruangannya dan mulai pergi meninggalkan kantornya . Ia memasuki mobil dan perlahan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh . Sampai di kediamannya Ia langsung memasuki kamarnya dan mencari istrinya .
Greebbb ..
"kau sudah pulang ." Vaiz hanya menganggukan kepala nya .
"kau punya masalah?" tanya Shasa sambil mengusap kepala suaminya lembut .
"tidak ." Shasa pun membalikkan tubuhnya menghadap suaminya . Ia oun menuntun suaminya untuk duduk di ranjang milik mereka berdua .
"jika tidak keberatan ceritakan apa masalahmu siapa tahu istrimu bisa meringankan bebanmu ." ucap Shasa pelan .
__ADS_1
Vaiz hanya diam dengan bersandar pada kepala ranjang dengan mata terpejam .
"istirahatlah aku akan mengambilakn secangkir teh ." ucap Shasa akan beranjak pergi .
"tetaplah disini." titah Vaiz .
Shasa hanya menurut dengan ucapan suaminya tanpa membantah . Ia ikut menyadarkan tubuhnya saat merasa perutnya ada pergerakan Shasa meraih tangan suaminya dan meletakkan diatas perutnya . Mata yang sedari tadi terpejam kini terbuka , bibir yang sedari tadi sulit tersenyum kini tersenyum lebar.
"dia terbangun." tanya Vaiz pada Shasa .
"iya , mungkin ia tidak terima karena ayahnya sudah nyuekin ibu nya ." ucap Shasa sambil tertawa .
"sayang, maafkan aku ." ucap Vaiz penuh penyesalan .
"iya aku tahu kau ada masalah , aku hanya bercanda ." ucap Shasa membuat Vaiz tersenyum
CUP .. satu kecupan untuk bayi yang ada di perut Shasa. Shasa tersenyum melihat perlakuan suaminya yang selalu romantis . Menurutnya suaminya tak pernah bosan melakukan hal yang romantis .
"baiklah ayah, sekarang pergi mandi dan ganti baju ." titah Shasa , mendengar panggilan ayah dari istrinya Vaiz lebih tersenyum lebar . Ia sangat suka istrinya memanggilnya dengan sebutan ayah.
__ADS_1
"baiklah aku mandi dulu ." Vaiz bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi . Sedangkan Shasa seperti biasa menyiapkan pakaian untuk suaminya .