
Siang hari Shasa bersiap untuk menjemput putrinya dari sekolah. Dengan memakai pakaian santai namun tetap terlihat elegant. Dengan tas slempang mewah berwarna hitam dan 1 buah bekal yang juga di tenteng di tangan kanannya.
"pak Damar sudah makan?" tanya Shasa pada supirnya.
"sudah nyonya." jawab Pak Damar. Shasa pun mengangguk lalu masuk kedalam mobil. Pak Damar membantu menutup pintu mobil setelah itu ia kembali meniju kursi kemudi.
Di perjalanan Shasa tengah fokus dengan suasana di kota nya. Sesekali ia juga bermain ponsel agar tidak bosan saat di dalam mobil. Ia juga akan mengajak di supirnya mrngobrol untuk mencairkan suasana .Sampai di gerbang sekolah Shasa meliahat putrinya berdiri dengan bibir tersenyum. Mobil yang di tumpangi berhenti di depan Ayu , tanpa menunggu ibunya keluar ia lebih dulu masuk kedalam mobil.
"apa ibu terlambat menjemput sayang?" tanya Shasa pelan sambil melepas tas putrinya.
"tidak ibu, aku baru saja keluar dari kelas ." jelas Ayu.
"ooo iya? lalu tadi Ayu belajar apa?"
"ibu guru meminta Ayu untuk membaca. Karena Ayu bisa Ayu dapat coklat." teriak Ayu dengan gembira.
"pinter anak ibu." puji Shasa.
"ibu, kita ke kantor Ayah?" Shasa menganguk.
"yeaaay." teriak Ayu bahagia .
Sampai di kantor, Shasa nampak kebingungan untuk menggendong putrinya. Karena tak ada pilihan lain Shasa menhubungi suaminya.
"biar saya saja nyonya yang menggendongnya."
"tidak pak Damar, Ayu sudah besar dan bertambah gemuk. Biar suami saya saja Pak Damar nanti tinggal parkir mobilnya saja."
"baik nyonya."
Tak beberapa lama Vaiz datang dengan wajah bahagia. Ia menghampiri mobil alphard berwarna hitam tersebut dan membuka. Netranya menatap putri cantiknya tengah tertidur dengan nyenyak.
"apa dia kelelahan?" tanya Vaiz yang bersiap menggendong putrinya. Shasa ikut turun sambil menenteng kotak makan.
"pak langsung pulang tidak apa apa. Biar istri dan putri saya pulang sama saya nanti."
"ohh baik tuan." Pak Damar mengangguk pada Vaiz.
"bagaimana tidak lelah jika putrimu itu tidak bisa anteng." keluh Shasa berjalan mensejajari langkah suaminya. Para karyawan menunduk hormat saat mendapati Vaiz dan Shasa melewati dirinya.
"tapi dia se bar bar dirimu sayang." jelas Vaiz pada Shasa yang langsung mencebikkan bibirnya.
Di dalam lift, Shasa menyenderkan kepalanya pada lengan suaminya. Sesekali ia menciumi pipi gembul putrinya.
"sayang, putriku cantik seperti ku bukan?" tanya Shasa menatap Ayu yang sedang memejamkan matanya.
"hmmmm, tapi banyak orang bilang dia mirip denganku." goda Vaiz langsung dapat pelototan dari Shasa.
triiing..
__ADS_1
Pintu lift terbuka, mereka berjalan berdampingan membuat sang sekretaris cantik langsung berdiri menyapanya.
"selamat siang nyonya."
"siang mbak, aku masuk dulu ya mbak?" pamit Shasa .
"iya nyonya."
Pintu ruang Vaiz kembali tertutup. Shasa yang sudah berada di dalam ruangan Vaiz mengedarkan pandangannya dan menahan tawa.
"sayang jangan meledek ruanganku." ucap Vaiz yang nampak kesal dengan tingkah istrinya.
"bagaimana aku tidak menahan tawa. Dulu ruanganmu sangat istimewa sekarang seperempat ruanganmu telah di kuasai putriku." ledek Shasa menatap ruangan dengan seperempat yang telah di pakai Ayu untuk mainan miliknya terdapat juga tenda kecil untuk Ayu bermain saat di kantor Vaiz.
"huh, yang penting putri kita nyaman dan tidak rewel." ucap Vaiz berjalan kearah ruang pribadi nya. Ia menidurkan Ayudia di kamar pribadi yang berada di ruangan miliknya. Setelah itu ia kembali duduk di samping istrinya yang tengah menyiapkan makan siangnya.
"sayang, setelah makan siang aku akan rapat dengan rekan bisinis ku . Kau tidak apa kan jika aku tinggal sebentar."
"pergilah lakukan pekerjaanmu."
"iya."
Selesai makan siang Vaiz akan bersiap untuk rapat.
"sayang." panggil Shasa.
"iya sayang." Vaiz berjalan menghampiri istrinya.
"boleh."
"pakai uangmu ya."
"iya, coba minta sekretarisku untuk membantu memilihkan yang terbaru." ucap Vaiz setelah mengecup kening dan kedua pipi Shasa.
"iya , terima kasih sayang." ucap Shasa manja dan langsung mencium bibir suaminya.
"iya sama sama, aku rapat dulu ya." pamit Vaiz diangguki Shasa.
Kini Shasa di ruangan seorang diri, putrinya masih asik dengan tidurnya ia pun memilih bermain ponsel
Selang 1 jam, Ayu berjalan keluar kamar pribadi Vaiz dengan muka bantal dan kedua tangannya bergerak mengucek kedua mata .
"ibu." panggil Ayudia.
"sayang, putri ibu sudah bangun?" tanya Shasa.
"iya, dimana ayah?"
"sedang rapat, apa kau lapar?" tanya Shasa saat memangku putrinya. Ayu menyandarkan tubuhnya pada dada Shasa dan kembali menguap.
__ADS_1
"mau makan?" tanya Shasa lagi. Ayudia pun mengangguk wajah malasnya.
"aku ingin makan telur ibu di suapi ayah." pinta Ayu.
"tidak bisa sayang, ayah masih bekerja."
"aku ingin makan dengan ayah." rengek Ayu.
"sama ibu saja ya." Ayu menolak dan menggeleng membuat Shasa jengah.
Ayu menangis ingin dengan ayahnya, namun Shasa memilih diam. Ia lelah memberi pengertian pada putrinya hingga membuat Ayu menangis terus. Vaiz yang baru membuka pintu ruangannya terkejut saat melihat putri menangis berteriak memanggil ibunya namun Shasa hanya diam sambil menutup kedua telinga.
"sayang ada apa?" tanya Vaiz pada istrinya dengan nada sedikit keras . Ia juga menoleh pada sang anak yang masih menangis dengan menghentak hentakan kakinya .
"cup.. cup sayang. Ada apa?"
"biarin yah, anaknya udah mulai nakal. Gak nurut sama ibunya. Jangan di bantuin, biarin dia." omel Shasa pada sang putri.
"ada apa ini sayang." tanya Vaiz lagi .
"minta makan maunya di suapin sama kamu gak mau sama aku. Udah aku kasih tau kamunya lagi kerja tapi malah ngeyel." omel Shasa. Namun Ayu malah mengencangkan suaranya.
"sudah sayang, cup cup cup. Sudah." Vaiz meraih putrinya . Ayu tetap menangis sambil terbatuk batuk.
"tuh tuh nangis terus , biat tenggorkannya sakit biar suaranya hilang." omel Shasa.
"sayang sudah, kamu ngomel terus gimana anaknya mau diam." Vaiz kini mengomeli Shasa membuat Shasa diam dan bermain handphone.
Vaiz menggendong putrinya dan mengajaknya di meja kerjanya. Setelah beberapa menit mencoba mendiamkannya akhirnya Vaiz berhasil dan Ayu pun kini diam. Terdengar sesenggukan tapi sudah tidak menangis.
"Anaknya mau makan apa?" tanya Vaiz pada Shasa.
"katanya mau makan sama telur." ucap Shasa singkat.
Vaiz pun menghubungi cleaning service dan meminta untuk mengantarkan nasi, telud dan tumis wortel di ruangan nya. Setelah itu ia mengangkat putrinya untuk duduk di samping Shasa. Vaiz duduk di samping Shasa dengan memangku putrinya. Namun Ayu menoleh kearah lain dan tidak ingin melihat ibunya. Sementara Shasa melihat hal itu menahan tawa membuat Vaiz menggelengkan kepalanya.
"sayang , ibu mau minta maaf." ucap Vaiz . Ayu menggeleng sambil memeluk Ayahnya.
"ibu." panggil Vaiz . Shasa mengatupkan kedua bibir nya melihat tingkah putrinya.
"sayang, maafin ibu ya." ucap Shasa pada putrinya. Ayu mengangguk namun masih tak mau melihat ibunya membuat kedua orang tua tersebut menahan tawa.
Shasa memeluk anak dan suaminya. Namun tangannya di dorong oleh Ayu.
"jangan peluk ayahku." ucap Ayu dengan mencebik.
Shasa pun menarik tangannya. Ia kembali memeluk namun di larang oleh putrinya.
"sayang, jangan mengganggu." tutur Vaiz.
__ADS_1
Mendengar ketukan pintu, Vaiz memintanya untuk masuk seorang OB mengantar pesanan Vaiz ia meletakkan di meja lalu undur diri. Vaiz pun menyuapi putrinya dengan tlaten sementara Shasa hanya diam menatap keduanya. Ingin bermain ponsel pun tidak bisa karena Vaiz melarang siapapun bermain ponsel saat bersama atau ada Ayudia .