
Sudah 3 hari Shasa di rawat di rumah sakit. Ia selalu merengek pada suaminya untuk bisa pulang awalnya Vaiz menolak karena ia ingin istrinya sembuh lebih dulu. Ia tahu jika di rumah istrinya tidak akan bisa diam .
"baik aku izinkan pulang, tapi dengan syarat jangan lebih dulu bekerja. Bagaimana?" tawar Vaiz.
"iya, aku janji sayang. Jadi kita pulang?" tanya Shasa lagi dengan girang.
"ya. Sebentar aku akan membereskan semuanya dan menghubungi Thalita." ujarnya di angguki Shasa.
"terima kasih." ucap Shasa di angguki Vaiz.
Setelah mendapat persetujuan dokter Thalita Vaiz pun membantu istrinya bersiap.
"kalian benar ingin pulang? tidak menunggu 4 hari lagi?" goda dokter Thalita.
"ouhhh dokter jika aku disini aku seperti terpenjara. Kau tahu bukan betapa posesifnya suami tercintaku." gelak tawa Shasa membuat Vaiz memberengut.
"yaaa aku tahu itu. Dia memang menyebalkan." imbuh dokter Thalita.
"kau juga ikut mengejekku. Awas saja jika kau meminta tolong, aku tidak akan menolongmu." ancam Vaiz .
Shasa dan Thalita hanya tertawa renyah.
"sayang, kau mengejekku?" tanya Vaiz dengan nada memelas.
"tidak, ayo kita pulang. Aku sudah rindu dengan putri dan rumahku." tutur Shasa.
Shasa berjalan perlahan menuju dokter Thalita. Ia meraih tangan dokter Thalita.
"dokter, terima kasih atas bantuanmu." ujar Shasa.
"sama sama, aku ikut bahagia atas kelahiran putramu Sa." ucap Dokter Thalita. Shasa memeluk dokter Thalita pun membalasnya.
"thalita, terima kasih. Atas bantuanmu putraku lahir dengan selamat." ujar Vsiz bersungguh.
"sama sama. Aku, dokter Riska dan para perawat berterima kasih atas hadiah yang kau berikan. Dan jaga keluarga kecil mu dengan baik." ucapnya.
"aku pamit dokter." Shasa mengambil putranya dari gendongan suaminya. Vaiz menenteng tas perlengkapan bayi dan baju istrinya.
"ya, hati hati di jalan." ucap dokter Thalita.
Di rumah besar milik Vaiz, Ayu selalu meminta untuk diantar ke rumah sakit. Namun uti dan kakungnya menolak.
"ibu hari ini pulang. Ayu senang?" tanya Ibu Nur.
"yeaaayyy, apa itu benar uti?" tanya Ayudia terlihat senang.
"ya."
"hmmm, uti bisa bantu Ayu menghias untuk adik kecil?" tanya Ayu.
"tentu sayang."
"aku ikut." teriak Sita.
"aunty Sita." Ayu berlari menuju teman ibunya .
"om Arka."
"yess sayang. Aunty sudah beli keperluan menghias kita akan menghias bersama." ucap Sita.
"yeaaayyyy, ayooo aunty."
Sita bersalaman dengan Ibu dan bapak Shasa.
"udah gede anaknya ya." ujar Bu Nur mengelus punggung anak berumur 2 tahun itu.
"iya bu, tambah pintar juga." celetuk Arka.
"Alhamdulillah." ujar Bu Nur tertawa.
"ya sudah tidurin dulu di kamar tamu. Kasian capek kayaknya." tutur Pak Yono. Arka menuruti apa yang di titahkan.
"assalamuallaikum."
__ADS_1
"waalaikumsallam." jawabnya serempak.
Ira dan Ryan suaminya berjalan menggandeng putranya. Dari tangannya tak luput juga kado besar untuk bayi sahabatnya yang beberapa hari lalu telah lahir.
Mereka pun mendekor rumah Shasa dengan sangat indah untuk menyambut kepulangan baby boy dan sang ibu.
Setelah beberapa jam menghias rumah tersebut terlihat meriah. Mereka berbaris saat mendapat kabar jika Shasa dan Vaiz sudah datang. Lampu rumah di matikan dan menunggu saat Shasa masuk.
Vaiz membuka pintu dan ..
..."selamat datang datang di istana besar. Selamat Atas kelahairan pangeran kecil yang tampan." ucap mereka serempak membuat Shasa terkejut....
"kalian." ucap Shasa menatap kedua sahabatnya.
"yaa kita datang." seru Sita.
Shasa memeluk kedua sahabatnya dan mengucapkan terima kasih. Ia juga menghampiri ibu dan bapaknya dan mencium punggung tangan keduanya.
"yan, Ka. Thanks ." ucap Vaiz .
"sama sama. Selamat buat lo atas kelahiran putra kedua lo." ucap Ryan.
"semoga jadi putra yang soleh, cerdas, pintar, pokoknya yang baik baik buat anak lo." imbuh Arka.
"ibuuu." panggil Ayu.
"yess sayang, kau ingin lihat adik kecilnya?" tanya Shasa diangguki Ayu.
"kemari." Shasa duduk di sofa, Ayu datang untuk melihat adik kecilnya. Begitu juga dengan putra Ira dan Sita
"ma, aku juga ingin adik seperti punya nya adik Ayu." celetuk putra Ira
Ryan pun tersenyum menggoda Ira.
"anaknya yang minta Ma, aku sebagai papa cuma bisa ngabulin." celetuk Ryan. Ira membola menatap suaminya
"buruan buat sono Ir." goda Sita.
"nohh tuh, juga sono bikin." ledek Ira . Membuat Sita menggembungkan kedua pipinya. Arka hanya terbahak melihat ekspresi istrinya.
Ketiga bocah kecil itu bergantian menciumi pipi bayi tersebut. Sesekali mereka tertawa gemas.
Bu Nur dan Pak Yono hanya menggeleng melihat tingkah anak kecil.
"pak doain, Ira punya anak lagi ya." ujar Sita .
"amin. Kamu juga buruan tambah biar cucu bapak sama ibu banyak." ujar Bu Nur di setujui Pak Yono .
"iya bu, pak siap nanti produksi lagi." celetuk Arka.
"apaan sih beb." ujar Sita melirik dengan nyalang.
"udah punya nama om?" tanya Sita pada Vaiz .
"gak tau, udah belum yank?" tanya Vaiz pada Shasa.
"belum, kamu udah dapat Namanya yang?" tanya Shasa.
"sebenarnya udah, tapi takut kamu keberatan."
"ya enggaklah, siapa namanya?" tanya Shasa.
"Ebrahim Zabir Putra Taban yang artinya pembawa pesan dari Allah yang pintar dan kuat dari keluarga Taban." ucap Vaiz .
"nama yang indah." ucap Pak Yono.
"apa arti Taban yang sesungguhnya sayang?" tanya Shasa.
"bercahaya atau berkilauan." jawab Vaiz .
"putra dan putrimu memiliki arti nama yang sangat bagus om." ujar Sita
"putra dan putri kalian juga." ucap Shasa .
__ADS_1
Ketiga sahabat itu tersenyum. Lama bercengkrama akhirnya semuanya pamit untuk pulang ke rumah. Shasa masih butuh istirahat.
"bye.. " ucap Shasa yang tidak mengantar keluar rumah.
Selang beberapa jam...
"nduk bapak sama ibu pulang ya, kasian adekmu sudah 3 hari di tinggal." ujar Bu Nur.
"iya nduk. Bapak sama ibu akan sering sering kesini." jelas Pak Yono.
"iya pak, terima kasih ya pak Bu sudah membantu Shasa." ujar Shasa.
"ya ndak papa, kamu gik lekas sembuh." Shasa mengangguk .
Beberapa menit, Vaiz kembali masuk kedalam rumah
"kok ibu pulang yang." tanya Vaiz .
"kasian Anggara dirumah sendiri. Dia juga gak pernah mau nginep disini." ujar Shasa.
"oooh ya udah, mau ke kamar?"
"iya, bantuin ya."
"iya, Ayu kemana?" tanya Vaiz .
"lagi tidur di atas."
Vaiz hanya ber-oh ria. Sampai di kamar, Shasa meletakkan bayinya pada box bayi. Kemudian ia berbaring di ranjang milik pasutri. Tak butuh waktu lama, Shasa tertidur dengan pulas, setelah itu Vaiz beranjak dari ranjangnya menuju ruang kerja.
...****************...
Malam hari, nampak bintang bintang gemerlap menghiasi indahnya malam. Membuat keluarga kecil betah di dalam kamar besar. Ayu sedang bermain dengan adikknya di atas ranjang king size, sementara sang ayah ibu duduk di sofa tak jauh dari ranjang.
"yang baik ya kak, jangan di bikin nangis adeknya." tutur Shasa.
"enggak kok yah, kan kakak pintar." ujar Ayu.
Shasa dan Vaiz tersenyum saat melihat tingkah putrinya. Nampak terlihat jika Ayu sangat menyayangi adeknnya.
"yang," bisik Vaiz.
"ya, ada apa sayang?" tanya Shasa.
"aku puny sesuatu untukmu?"
"apa? hadiah?" Vaiz mengangguk.
Ia berdiri lalu berjalan menarik laci dekat ranjang. Di ambilnya sebuah benda kotak yang di bungkus rapi kain merah bludru. Vaiz kembali pada istrinya lalu menyodorkan benda yang ada di tangannya tersebut pada istrinya. Shasa meraba dan membolak balikan benda tersebut. Ia lepas tali emas tersebut dan ia buka kain merah bludru. Shasa mengerutkan keningnya saat mengetahui apa isi tersebut.
"apa ini?" tanya nya.
"buka."
Pada sampul tersebut terlihat jika itu sertifikat rumah. Ia membaca, dan alamat tersebut bukan alamat kediaman yang selama ini mereka tinggali.
Di dalam surat tersebut, nampak sebuah foto rumah. Ia pun membola dan tanpa sadar tetesan air mata jatuh di pipinya.
"rumah impian masa tua kita?" ucap Shasa menoleh kearah suaminya.
"kau benar, suatu saat ada masa nya kita butuh tempat untuk istirahat, menjauh dari beban berat, menjauh dari pekerjaanku. Hanya ada aku dan kamu, dan suatu saat jika anak anak ingin mengunjungi kita." ucap Vaiz .
"sayang, berjanjilah padaku hidup atau mati kita akan bersama. Sampai aku tua, dan sejelek apapun nantinya kita berjanjilah kau akan tetap menjadi tumpuan terakhir untukku. Sayang aku mencintaimu lebih dari nyawaku, maka tempatmu pulang itu disisiku. Aku tau aku egois, inilah kebenarnya, jika aku ingin kau hanya milikku, bahkan di kelahiran seterusya." ujar Shasa berlinang air mata.
"aku berjanji, aku selalu bersamamu hingga di kelahiran seterusnya." mendengar kalimat suaminya Shasa menangis tergugu. Ia memeluk suaminya. Sementara Vaiz merasakan pelukkan istrinya penuh cinta.
"Ayah, ibu. We love you." ucap Ayu pada kedua orang tuanya.
Shasa dan Vaiz melepaskan pelukannya dan tersenyum bahagia. Keduanya berdiri dan berjalan kearah putra putrinya.
"ayah dan ibu juga mencintai kalian." ujar Vaiz memeluk putrinya, Sementara Shasa menggendong putranya. Kemudian Saling memeluk.
... TAMAT...
__ADS_1