
Setelah membujuk putrinya kini Vaiz menuju kamar untuk berbicara pada istrinya. Pintu kamar ia buka dan netranya menatap kearah ranjang miliknya. Shasa menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"kau kesal?" tanya Vaiz sambil berjalan kearah ranjang. Perlahan Ia duduk di samping istrinya, selimut pun di tarik turun agar ia dapat melihat wajah kesal sang istri.
"kenapa?" tanya Vaiz.
"ouhh ayolah sayang kau seharusnya tahu kenapa aku sekesal ini?" keluh Shasa.
"dia masih kecil sayang."
"lalu? apa aku tidak boleh memberi pengertian? Mau nunggu sampai besar dan kelakuannya akan menjadi?"
"bukan begitu setidaknya jangan meninggikan suaramu. Itu tidak baik." tutur Vaiz.
"entahlah, aku merasa jengkel." ucap Shasa.
"putrimu ketakutan tadi. Lain kali beri pengertian, oke!" ucap Vaiz di angguki Shasa.
Vaiz pun ikut berbaring di samping istrinya. Di kecupnya kening sang istri.
"baiklah ayo tidur, sini biar suamimu peluk." Shasa merapatkan tubuhnya pada suaminya, merekapun memejamkan mata hingga tertidur.
Pagi hari, semburat sinar matahari memaksa menerobos masuk melalui celah celah jendela rumah besar Vaiz . Shasa tengah terganggu dengan sinar yang tengah menerpa wajahnya.
"morning sayang." ucap Shasa sambil mencium pipi suaminya. Ia bangun dan menuju kamar mandi. Sementara Vaiz masih asih dengan selimut tebal.
Selesai mandi, Shasa mencoba membangunkan suaminya lagi.
"sayang dingin." keluh Vaiz saat merasakan pipinya dingin saat di sentuh oleh Shasa.
"makanya bangun." ucap Shasa.
Vaiz pun membuka mata dan langsung mendekap tubuh istrinya.
"kapan ini ada isinya?" tanya Vaiz sambil mengelus perut rata istrinya.
"ikhtiar dan berdoa sayang. Jika Allah masih percaya pada kita untuk di beri momongan pasti kita akan di beri secepatnya." jelas Shasa sambil mengusap rambut suaminya. Shasa mengecup kening suaminya penuh rasa sayang. Vaiz menatap sang istri.
"aku selalu bersyukur punya kamu juga ber.." ucapannya terhenti saat mendengar teriakan melengking gadis kecil yang berada di luar kamar.
"Ayah, ibu." teriak Ayu.
"bersyukur juga punya Ayu yang suka mengganggu keromantisan kita." lanjut Vaiz dengan nada melemas.
"Ayah, jangan bilang gitu. Cepat bangun jangan menahanku. Jangan sampai mobilmu yang lainnya di lempar dengan ulekan lagi." ucap Shasa berdiri meninggalkan suaminya. Vaiz bangun dari tidurnya dan berlari kekamar mandi.
cekleek.
"sayang, anak ibu sudah bangun?" tanya Shasa pada putrinya. Ayu si gadis kecil itu tengah melipat kedua tangannya pada dadanya.
"dimana ayah , ibu?" tanya Ayu pada ibunya.
"ayah sedang mandi? putri cantik ibu sudah mandi?" Ayu mengangguk lalu berjalan ke dalam kamar orang tuanya.
__ADS_1
"tinggal saja mbak, biar sama saya." pelayan tersebut mengangguk lalu pergi meninggalkan majikannya.
Shasa berjalan kearah putrinya dan ikut duduk di sampingnya.
"kok cemberut?" tanya Shasa.
"ini hali libul ibu," ucap Ayu singkat.
"yaaa tunggu Ayah dulu sedang mandi." tutur Shasa. Ayu pun mengangguk.
Beberapa menit anak dan ibu menunggu kepala keluarga sedang berada di kamar mandi membuat Ayu jenuh. Ia berjalan dengan langkah terburu dengan raut muka sangat kesal.
"ayah, apa ayah teltidul di dalam? aku ingin mainan." teriak Ayu sambil menggedor dengan tangan kecilnya.
"sayang, tunggu ayah masih mandi jangan mengganggunya nanti akan lama." tutur Shasa.
"haaahh ibu, aku ingin ayah cepat cepat."
Ceklek.. pintu kamar mandi terbuka dengan Vaiz yang terlihat segar.
"ayo ayah kita beli mainan." ajak Ayu dengan suara khas anak kecil.
"sebentar sayang, ayah harus ganti baju dulu." jelas Vaiz .
"sayang, jangan menggangu ayah katanya kamu ingin mainan jangan ganggu ayah dulu dong nanti ayah enggak selesai. Ayu paham." terang Shasa.
Vaiz tersenyum saat melihat putrinya menganggukan kepala setelah mendengar penjelasan dari ibunya.
"kau terhebat sayang." lirih Vaiz membuat Shasa tersipu malu.
"sayang, apa kau tidak bosan menatapku?" tanya Vaiz membuat Naya tersipu.
"bagaimana aku bosan kalau makin lama kamu nya makin tampan." ucap Shasa.
"masa??" goda Vaiz . Ia berniat akan mencium Shasa.
"ayah ayo aku ingin mainan." teriak Ayu dengan suara cemprengnya.
"maaf maaf." ucap Vaiz. Ia langsung menggendong putrinya dan mengambil kunci di atas nakas.
"ibu, cepat kita tunggu di bawah ya." teriak Vaiz kepada istrinya.
"iya." jawab Naya sambil mengecek isi tas nya.
Shasa menyusul suami dan putrinya namun sebelumnya ia menemui ART nya lebih dulu.
"mbak Hilma, aku suami sama Ayu mau pergi dulu . Nanti enggak perlu nyiapin makan siang."
"oh baim nyonya."
"jaga rumah ya mbak." ucap Shasa lalu berjalan tergesa gesa takut putrinya mengamuk.
Shasa masuk kedalam mobil dan menoleh kebelangan. Ia tersenyum saat melihat putrinya sedang asik bermain boneka barbie nya.
__ADS_1
"tumben anteng." lirih Shasa pada sang suami.
"sudah, anaknya anteng kok ibu nya yang usil." ucap Vaiz tersenyum membuat Shasa ikut tersenyum
"mobilnya udah di benerim yah?" tanya Shasa.
"tadi di bawa sama Dino. Biar dia yang ngurus." jelas Vaiz dengan fokus kemudinya.
"ohhh."
"tadi Arka telpon, tanya kapan kita main ke tempatnya .Aku bilang nunggu keputusan nyonya besar."
"siapa nyonya besar?" tanya Shasa bingung.
"siapa lagi kalau bukan istriku yang cantik ini." goda Vaiz membuat Shasa tertawa lebar.
"ibu, jangan tertawa lebar, itu tidak sopan." ucap Ayu membuat Shasa langsung menutup mulutnya.
"maaf sayang ibu lupa." jawab Shasa.
"oke."
Sampai di mall, Ayu berjingkrak jingkrak ia terlihat tidak sabar untuk membeli mainan. Kedua tangan Ayu di gandeng oleh ayah dan ibunya. Sampai pada toys store Ayu nampak bingung memilih.
"sayang jika sudah punya tidak boleh di beli ya."
"iya." ucap Ayu.
"ayah, ibu kesupermarket sebentar ya mau beli buah."
"iya kamu hati hati. Jangan beli makanan instant yang pedas ya." titah Vaiz membuat Shasa tersenyum hambar.
"Sudah cukup kamu makan pedas sayang."
"iya sayang, jaga putri kita." Shasa melangakah meninggalkan suami dan putrinya menuju supermarket . Ia memilih milih buah yang akan di beli nya. Tapi netranya menangkap suatu barang yang membuatnya ingin mencomotnya.
"haduh, pasti pedas ini." gumam Shasa .
"Shasa." panggil seseorang. Shasa meletakakn kembali barang yang di pegang dan menoleh kebelakang.
"kamu." ucap Shasa.
"apa kabar kamu."
"baik, maaf aku buru buru." Shasa melangkah pergi namun di tahan .
"aku ingin bicara, Sha." ucap nya.
"tidak ada yang harus di bicarakan, No. Toh soal apa? Sudah bertahun tahun kita tidak saling ketemu .Dan untuk apa kita bicara." ucap Shasa pada Nino.
"kamu semakin cantik Sha, aku kagum padamu."
"tidak mungkin kan no kau akan memungut permen karet yang sudah kau buang? itu akan menjijikan." ketus Shasa. Membuat Nino terdiam.
__ADS_1
"maaf No aku harus pergi." Shasa meninggalkan Nino yang hanya mematung di tempat.