
Shasa meminta supir taksi tersebut berhenti di sebuah taman kecil yang berada di pinggir kota . Setelah membayar ia berjalan ke tempat duduk di bawah pohon rindang . Shasa memejamkan mata juga menyandarkan tubuhnya .
"setiap dia berada di sampingku, suamiku selalu menahan malu karna ejekan teman temannya . Apa benar aku tidak pantas berada di samping suamiku ." gumamnya .
"jika memang benar seperti itu , aku lebih baik pergi tidak perlu berada di samping suamiku . Toh kenyataanya aku yang selalu numpang hidup . Aku akan merelakan suamiku mencari yang sejajar dengannya . Bukan aku yang tidak sebanding dengannya ."
"Tuhan aku lelah , lelah jika harus menghadapi orang orang kaya yang selalu merendahkan ku . Aku tau tempatku bukan di atas , tapi apakah aku harus mendengar hinaan hinaannya . Kau tahu Tuhan? aku juga mempunyai kelemahan . Aku akan rapuh jika terus dihina . Aku pernah berfikir jika aku berada di samping suamiku aku akan kuat . Nyatanya setiap orang yang menghinaku membuatku menciut . Aku tidak pernah lupa siapa aku dan darimana asalku . Aku lelah Tuhan sangat lelah ." gerut Shasa menanatap kearah langit .
Shasa mengusap wajahnya dengan kasar , Batinnya lelah sangat lelah saat orang lain melihatnya sebelah mata . Ingin rasanya ia pergi jauh , ia merasa jika suaminya menahan malu karnanya .
*******
Sementara di kediaman Pervaiz taban , Laki laki berusia 34 tahun itu menuju kamar untuk menemui istrinya . Pintu terbuka namun tak nampak sosok istrinya berada di kamar . Ia berjalan membuka pintu kamar mandi , kosong . Vaiz kembali turun dengan cepat menemui pelayan . Pelayan tersebut berkata jika tak mendapati nyonyanya pulang . Hati Vaiz semakin gusar . Dimana istrinya, Vaiz meminta pelayan untuk mencari istrinya keseluruh rumah .
Vaiz kembali mengemudikan mobil keluar gerbang menyusuri jalanan . Ia mencari di cafe yang dulu istrinya bekerja. Ia bertanya pada teman Shasa dulu bekerja, mereka berkata jika Shasa tidak kemari . Vaiz kembali berjalan kearah mobilnya dan mengendarai mobilnya .
__ADS_1
"sayang kau dimana? kau tak kembali kerumah . Aku khawatir denganmu ." gumam Vaiz masih fokus kearah jalanan .
Kini Vaiz berada di halaman rumah mertuannya .
"assalamuallaikum ." Vaiz mengetuk pintu rumah yang sudah direnovasi .
"waalaikumsallam , nak Vaiz masuk ." ucap ibu Shasa .
"nak Vaiz , loh Shasanya dimana nak?" tanya Pak Yono .
DEG
"begini nak Vaiz , Shasa itu anaknya selalu memendam perasaanya sendiri . Ia tidak pernah ingin membebani orang yang berada di sekitarnya . Saat ia sudah lelah saat itu ia butuh sendiri . Mungkin sudah berkali kali Shasa mendengar hinaan dari teman atau rekan kerja nak Vaiz , yang membuat dirinya down . Apalagi sekarang dia hamil . Jad jangan khawatir dia butuh sendiri untuk meluapkan segalanya ." terang ibu Shasa .
"tapi bu, saya takut jika Shasa kenapa napa. Bahkan dihubungi pun dia tidak bisa ." ucap Vaiz lemah .
__ADS_1
"nanti ibu coba hubungi siapa tahu dia mau mengangkat ." Vaiz mengangguk lalu pamit kepada kedua mertuanya untuk kembali mencari Shasa .
"kasihan nak Vaiz pak , Gik ya Shasa itu dimana ?" gerutu ibu Shasa .
"sabar , anakmu lagi butuh ketenangan ." ucao Bapak Shasa menenangkan .
Di dalam mobil , Vaiz menoleh kekana kekiri. Sesekali ia bergumam berdoa kepada Tuhan agar di ketemukannya istrinya . Sibuk mencari istrinya, tiba tiba ponsel miliknya berdering .
Vaiz : "halo no , gimana?"
Dino : "semua sudah beres , saya yakin perusahaan pak Gilang akan jatuh ketangan anda ."
Vaiz : "hukum mereka seberat beratnya , karan mereka istriku tidak kembali ."
Dino : "apa? nyonya pergi tuan?" Dino terkejut .
__ADS_1
Vaiz : "iya bantu cari ."
Setelah selesai berbicara dengan Dino , Vaiz kembali mecari istrinya . Ia terlihat harap harap cemas . Takut jika ia tidak menemukan istrinya .