
Shasa POV
Dulu aku bagaikan sampah dimata mantan kekasihku , disaat aku sudah tidak dipakai aku di buang . Sebenarnya aku tidak mencintainya, tapi aku menyayanginya . Aku menangis bukan karna dia meninggalkanku tapi karna kata katanyalah yang membuatku menangis .
Lalu aku di pinang oleh Vaiz, suamiku . Aku fikir aku tidak akan bahagia dengannya yaa walaupun dia kaya . Aku tidak pernah berfikir untuk menikah dengan pria kaya, hanya saja karna hutang bapakku yang menurutku banyak jadi aku terpaksa menikahinya . Awalnya aku benci padanya , aku tidak menyukainya sama sekali . Aku berfikir saat aku bersikap jahat dia akan meninggalkanku tapi nyatanya dia tetap berdiri dengan tegak meski aku mencacinya membentakknya . Suamiku selalu sabar menghadapaiku . Dan karna kata kata ibu dan sikap suamiku yang terlalu baik dan sabar . Aku nyaman saat berada di pelukannya . Dan akhirnya aku jatuh cinta benar benar cinta . Hingga akhirnya hubungan kami mulai baik di tambah adanya jabang bayi yang ada di perutku . Aku selalu berdoa semoga hubunganku dengan suamiku selalu baik , dan dalam perlindungan dari Tuhan .Semoga tidak ada masalah lagi kedepannya .
...****************...
Shasa merenung dengan berpangku tangan diatas meja . Sesekali ia mendesah kasar, pikirannya melayang malayang tak karuan .
"sayang kau melamun?" tanya Vaiz yang duduk di hadapan istrinya .
"ahhh tidak ," lamunannya buyar saat Vaiz berhadapan dengannya .
"apa yang kau fikirkan ?" tanya Vaiz .
"tidak ada , kau butuh sesuatu?" Shasa mengalihkan pembicaraan .
"tidak , hanya saja aku melihatmu kau berpangku tangan seperti itu ."
"tidak apa ."
"kau ada masalah?"tanya Vaiz ingin tahu .
Shasa diam tak merespon . Membuat Vaiz mendesah perlahan .
" aku ingin bicara ." ucap Vaiz tegas .
"haaa , bicaralah ada apa?"
__ADS_1
"sayang temanku mengadakan pesta pernikahannya . Aku ingin menghadirinya dengan mu apa kau mau ?" tanya Vaiz .
"boleh ." Shasa menyetujuinya .
"baiklah , besok pukul tujuh malam kita berangkat , kau harus bersiap ." Shasa mengangguk
Vaiz mengajak Shasa untuk tidur . Vaiz membantu Shasa berdiri ,karna perutnya yang membesar membuat ia kesusahan berdiri setelah duduk di lantai kamarnya .
Vaiz berbaring memeluk Shasa yang sedang memunggunginya , saat berbaring ia akan selalu mengelus perut Shasa yang membuat istrinya menjadi nyaman ..
"sayang , aku mau dengar cerita tentang Diana ." ucap Shasa membuat mata Vaiz terbuka. Kantukan menjadi hilang .
"untuk apa? bukannya kamu tidak perduli tentangnya?" ucap Vaiz .
"entahlah , aku hanya ingin tahu ." membalikan tubuhnya terlentang .
"tidak , aku janji ." Vaiz mendesah kasar .
"Diana, mantan kekasihku cinta pertamaku dulu . Aku lama menjalin hubungan dengannya , dulu Almarhum orang tuaku setuju jika aku dengannya . Dan saat aku terpuruk karna kehilangan orang tuaku . Diana selalu menemaniku . Namun , saat aku akan lebih serius aku memergoki dia bersama laki laki lain yang terlihat mesra . Ia berjalan menemuinya dan saat itu aku mendengar bahwa dia lebih memilih laki laki tersebut ketimbang aku . Tanpa alasan aku langsung pergi meninggalkan mereka berdua ." jelas Vaiz yang terlihat menghela nafas .
"kau masih mencintainya?" tanya Shasa tiba tiba .
"apa maksudmu sayang ?"
"sorot matamu melihatkan bahwa kau masih punya perasaan dengannya . Jujur saja mungkin kau akan lebih lega ." jelas Shasa menahan sesak di dada .
"tidak , aku mencintaimu dengan sangat . Jadi jangan berfikir jika aku masih mencintainya . Tidak ada cinta untuk masa lalu sayang . Kau sekarang istriku jadi jangan berfikir jika aku mencintai yang lain ." jelas Vaiz membuat senyum Shasa melebar .
"jangan pernah bertanya tentang masa laluku . Aku bukan sepertimu yang banyak mantan dimana mana ." jelas Vaiz .
__ADS_1
"hey apa maksudmu ." ucap Shasa menoleh menatap suaminya dengan tajam ..
"aku benar bukan?"
"ahhh kau ini sok tahu sayang ." Shasa mencebikkan bibirbya .
"hey jangan memasang wajah begitu jika aku gemas bisa tahu rasa kau." goda Vaiz .
"ahhh kau ini selalu begitu . Lalu aku harus pasang wajah seperti apa?" Shasa kesal .
"kau pemarah sekali ." Vaiz mencium pipi Shasa dengan lama hingga Shasa meminta untuk di lepas .
"kau bisa membuat pipiku habis dengan ciumanmu sayang ." Vaiz tergelak mendengar gerutuan Shasa . Bukan malah berhenti Vaiz malah menghujani wajah Shasa dengan ciuman hingga Shasa teriak minta ampun . Namun bukan Vaiz jika melepas begitu saja .
"sayaaaaang ampun bisa habis wajahku ." teriak Shasa dengan menggeleng gelengkan kepalanya .
Vaiz tetap menggoda Shasa dengan ciuman mautnya . Dan tidak mau melepaskan .
"bilang ampun baru aku lepas ." ucap Vaiz .
"baik baik, ampun sayang aku." Vaiz pun menghentikan ciumannya dan merasa dirinya kini menang . Ia tertawa begitu keras yang malah membuat istrinya kesal .
ini Vaiz saat duduk di lantai menemani Shasa . Ademkan liat Vaiz waktu tersenyum
Dan ini Shasa yang sedang mengobrol dengan Vaiz .
__ADS_1