Mengejar Cinta Wanita Biasa

Mengejar Cinta Wanita Biasa
Bab 87


__ADS_3

Vaiz mengajak Shasa untuk turun karna waktunya makan malam . Namun Shasa menolak karna ia masih marah dengan Vaiz .


"ayolah sayang , kasian bayi kita nanti ." bujuk Vaiz .


"ini bukan bayi kita tapi bayiku ." ucap Shasa dengan lantang .


"oke oke , ayo kita makan . Aku tidak ingin kamu sakit ."


"jika tidak ingin aku sakit harusnya kau tidak membiarkanku menunggumu lama di rumah sakit." sindir Shasa yang membuat Vaiz kalah telak .


Ya Tuhan , aku bisa mati berdiri jika dia selalu marah marah begini minta maaf salah tidak minta maaf lebih salah. Vaiz memijit keningnya karna terasa berdenyut .


"tidak usah mengumpatku , pergilah makan sendiri." usir Shasa .


"kau tidak ingin menemani suamimu? berdosa sayang jika kau tidak melayanani kebutuhan suamimu ."


"lebih berdosa mana dengan menelantarkan istrnya ." mendengar sindiran istrinya tubuh Vaiz mulai melemas . Bahkan istrinya berbicara dengan selalu menyindirnya .


"baiklah aku akan turun makan sendiri ."


"makanlah sana memang kau ini tidak pernah peka ." sindir Shasa , awalnya akan berdiri kini diurungkannya saat mendengar sindiran istrinya lagi . Tanpa aba aba Vaiz menggendong tubuh Shasa ala bridal style .


"aaaaaaa, hey apa yang kau lakukan turunkan aku ."


"diamlah jika kau banyak gerak kau akan jatuh ." ucap Vaiz berjalan keluar kamar .


"aku tidak ingin kau gendong , turunkan aku ." teriak Shasa .


"sedari tadi kau menyindirku . Membuatku lelah saja ."

__ADS_1


"ohhhh jadi kau sudah lelah denganku ." Vaiz mendudukan Shasa di kursi ruang makan karna Shasa tak berhenti mengomel akhirnya Vaiz mel**at bibir Shasa ,para pelayan yang berbaris rapi langsung pergi meninggalkan tuan dan nyonyanya .


"kau ini apa tidak melihat kondisi sekarang dimana . Kau suka sekali menyosor seperti itu disini pelayan melihat kita ." omel Shasa setelah ciuman Vaiz dilepaskan


"makannya jangan mengomel terus . Ayo makan ."


"aku tidak ingin makan ."


"jika kau tidak makan lalu bagaiman bayi kita ."


"aku tidak ingin makan itu ." Shasa memalingkan wajahnya .


"lalu kau ingin makan apa? biar pelayan buatkan ."


"aku tidak ingin pelayan yang buatkan ,aku ingin kita membelinya ."


"baiklah kau ingin apa?" ucap Vaiz setelah menyuapkan 1 sendok makanannya kedalam mulutnya .


"bakso apa?"


"bakso yang berada di jalan pahlawan itu ."


"kita beli tapi berjanjilah setelah itu kau harus menurut denganku ." Shasa mengangguk .


"biar aku habiskan makanku ini setelah itu aku akan mengambil jaketmu dan kita kesana ." wajah Shasa terlihat berbinar ia langsung mencium pipi Vaiz dan mengucapkan terimakasih . Hilang sudah marahnya pada suaminya hanya karena ingin bakso .


Vaiz hanya menggeleng melihat istrinya yang cepat marah kadang juga berubah romantis . Setelah menghabiskan makannya , Vaiz kembali ke kamar untuk mengambil jaket istrinya dan kunci mobil , tak lupa ia meraih dompet mahalnya . Mobil melaju perlahan menuju penjual bakso yang di inginkan Vaiz .


Sampai di tempat , saat mobil Vaiz berhenti untuk mencari tempat parkir Shasa turun begitu saja yang membuat Vaiz teriak , namun teriakan suaminya tak dihiraukan oleh Shasa .

__ADS_1


"sayang, hati hati ." ucap Vaiz dengan suara lantang . Melihat kelakuan istrinya yang seperti anak kecil Vaiz hanya menggelengkan kepala . Setelah mendalat tempat parkir ia menyusul istrinya .


"sudah pesan?" tanya Vaiz .


"sudah, mungkin sebentar lagi datang ." Vaiz mengangguk . Benar apa yang di katakan Shasa jika bakso pesanannya datang sementara Vaiz melotot melihat pesnan istrinya .


"apa nama bakso ini?" tanya Vaiz kepada pelayan bakso .


"bakso lava tuan ."


"ada bakso selain lava , yang tidak pedas gitu?" tanya Vaiz perlahan.


"kau ingin sayang, baiklah pak berikan 1 mangkuk bakso biasa untuk suamiku ." penjual bakso mengangguk. Setelah memesan lagi Shasa akan bersiap menyantap .


"kau tidak ingin menunggu suamimu?"


"maaf, baiklah aku akan menunggu . Sayang bukannya kau tadi sudah makan ? kenapa memesan lagi?" tanya Shasa .


"aku ingin , apa tidak boleh?"


"baiklah ." Bakso kedua datang terlihat kuah bening yang tidak pedas, setelah mengucapkan terima kasih Vaiz menukar bakso milik istrinya dengan baksonya .


"sayang kenapa di tukar?" tanya Shasa terlihat bingung .


"aku kasihan dengan calon anakku harus menutrisi sari makanan yang tidak sehat , makanlah bakso kuah bening itu aku akan memakan bakso ini ."


"sayang kau tidak akan sanggup, itu sangat pedas ."ucap Shasa memeperingati .


" tidak aku sanggup ." karna perintah suaminya tidak bisa di bantah akhirnya Shasa mengalah dengan tidak rela ia harus memakan bakso yang tidak pedas, sementara Vaiz terlihat kepesasan keringatnya mengucur dengan sesekali mengusap air mata yang jatuh karan kuah yang sangat pedas dan bertambah bibirnya terlihat merah menahan pedas . Sesekali ia meneguk air minum yang sudah tersedia di meja .

__ADS_1


*******


__ADS_2