
Tubuh Shasa sudah segar sehabis mandi, ia mengganti baju lalu menuju meja rias , merias wajahnya secantik mungkin. Lalu ia turun dan duduk di meja makan tempat suaminya berada sekarang .
Setelah makan malam, Shasa menonoton tv serialnya kesayangannya dengan serius . Vaiz menyusul tiba tiba mengganti serial tv tersebut .
"kenapa diganti?" tanya Shasa .
"nonton yang lebih bermanfaat saja ," jawab Vaiz singkat .
Dengan wajah kecewa Shasa berlalu pergi , Vaiz tak menghiraukan kemarahan Shasa . Ia menaiki tangga berjalan menuju kamar milkknya dan menuju balkon kamarnya . Shasa berdiri mematung menatap langit langit .
5 menit berdiri di balkon kamar , tiba tiba tangan milik Vaiz sudah melingkar pada pinggang Shasa seperti biasa .
"kenapa kesini?" tanya Shasa .
"aku merindukanmu , aku ingin memelukmu seperti ini ." ucap Vaiz sambil meletakkan kepalanya di pundak Shasa .
"Sehari aku belum meraba anakku, sedang apa dia?" tanya Vaiz lembut .
"bermain sepak bola ." ucap Shasa ngasal .
"apa dia menendang sayang ? kok aku tidak merasakan ." Shasa memutar bola matanya malas .
"sudah jauh jauh sana , aku lagi tidak ingin dekat denganmu ."
"kenapa?"
__ADS_1
"kau menyebalkan , sore tadi kau bilang aku bau iler dan barusan kau merebut remot tv ." keluh Shasa .
"kau marah?" tanya Vaiz .
"apa menurutmu orang yang di ganggu kesenangannya tidak akan marah ?"
"maafkan aku sayang , jangan marah . Besok akan ku beli kan tas keluaran terbaru ." ucap Vaiz asal .
"apa kau fikir kemarahanku bisa hilang saat di ganti dengan tas baru. Cih kau ini ." gerutu Shasa .
"baiklah tatap aku ." memutar tubuh Shasa untuk menghadap padanya . Namun pandangan Shasa menoleh kearah lain membuat Vaiz gemas sendiri .
"sayang ." ucap Vaiz lirih .
"baiklah jika kau marah ." menggendong tubuh Shasa ala bridal Style membuat Shasa berteriak .
Vaiz menurunkan istrinya keatas ranjang , lalu ia merangkak menaiki ranjang .
"mau apa kamu?" tanya Shasa sinis .
"hey, aku ini seperti akan dip****sa saja berteriak seperti itu ." kekeh Vaiz .
"memang aku akan dip****sa ." ucap Shasa ketus .
"hah dengan siapa ?" Vaiz memiringkan tubuhnya menghadap istrinya .
"dengan CEO Taban Group ." sindir Shasa yang membuat Vaiz terbahak .
__ADS_1
"kenapa kau tertawa?" menatap suaminya dengan tajam
"bahkan kau menikmatinya sayang ." bisik Vaiz tapat di daun telinga istrinya yang membuat Shasa meremang.
"ihhh kau ini ," wajah Shasa memerah menahan malu karna ulah suaminya yang menggodanya .
"bukannya begitu?"
"terserah ," Shasa mengerucutkan bibirnya . Vaiz lebih gemas lagi dengan istrinya ia langsung mencium bibir istrinya lebih lama .
"sayang kau selalu menciumku terus ." gerutu Shasa setelah suaminya melepas ciumannya .
"salah sendiri kenapa kau membuatku gemas kepadamu , atau jangan jangan kau mau menggoda ku saja?"
"jangan asal kalau ngomong siapa yang mau menggodamu ? kau ini percaya diri sekali ."
"hahahahahaha , sudah akui saja sayang jika kau memang ingin aku sentuh ." goda Vaiz .
"ngomong sama telapak tangan nih ." ucap Shasa kesal dengan suaminya .
"hahahahahaha ," gela tawa Vaiz memenuhi ruang kamar pribadi dan malah membuat Shasa kesal .
"berhenti tertawa atau tidur di balkon ." Vaiz pun menutup mulutnya mendengar ancaman Shasa .
"hey kau mengancamku hem ." mengeratkan pelukannya kepada istrinya . Shasa hanya memutar bola matanya malas .
"lepasakan pelukanmu , membuatku sesak ada anakmu di dalam sini ." ucap Shasa yang tak di hiraukan suaminya .
__ADS_1
"sayang ." rengek shasa , Vaiz yang mendapatkan rengekan dari Shasa malah pura pura tertidur . Karna kesal ucapannya tak dihiraukan , Shasa pun langsung me***at bibir milik suaminya , senang bukan main membuat Vaiz juga membalas perlakuan mesra istrinya . Saat asik dengan ciuman tiba tiba ......