
"bu , tahu suamiku nggak?" tanya Shasa pada Bu Nin .
"setahu saya tadi tuan berjalan ke ruang olah raga nyonya ."
"oh ya sudah ,terimakasih ."
"iya nyonya ."
Bangun tidur Shasa meraba ranjang miliknya , namun merasa rajang tersebut rata ia langsung membuka mata dan bangun dari tempat tidur untuk mencari suaminya . Saat ini Shasa berdiri di balik tirai jendela sambil memandangi suaminya yang terlihat berada di ruang olah raga .
Lama memandangi ia pun berjalan menghampiri suaminya . Shasa menatap sekeliling ruangan tersebut dengan mata berbinar . Vaiz yang merasa ada seseorang menoleh ke belakang .
"sayang, kau disini?"
"iya , aku bosan boleh aku melihatmu berolah raga ." ucap Shasa sambil menyandarkan tubuhnya .
"aku sudah selesai , kau ingin kemana? ayo aku temani." ucap Vaiz menghampiri istrinya .
"huffft , baiklah kita ke gazebo ya ." Vaiz mengangguk menuruti kemauan istrinya .
Mereka berjalan berdampingan menuju gazebo samping rumah. Shasa terlihat nyaman saat berada di gazebo tersebut . Ia mendudukan bokongnya di samping Vaiz .
"kau senang ?" tanya Vaiz tak bosan memandangi wajah istrinya .
__ADS_1
"sangat senang ,"
"kau sangat manis benar benar manis ." ucap Vaiz lirih . Shasa menoleh kearah suaminya di tatapnya wajah wanis milik suaminya . Shasa tersenyum dan langsung mencium bibir milik suaminya .
"biasanya suami akan memuji istrinya dengan bilang kalau istrinya itu cantik ,tapi kau malah bilang kalau aku itu manis ."
"bagiku cantik itu membosankan sayang , tapi kalau manis itu menggemaskan ." bisik Vaiz membuat tubuh Shasa kaku .
"berarti aku menggemaskan ?" tanya Shasa menetralkan degub jantungnya .
"iya , dan aku ingin setiap hari melahapmu ." goda Viaz membuat mata Shasa melotot .
"kau itu selalu bicara seperti itu ." Shasa memukul lengan kekar Vaiz membuat Vaiz terkekeh .
Vaiz menunduk mengelus perut istrinya .
"hai anak ayah?kau sedang apa? ayah tidak sabar menunggu kehadiranmu . Suara tangisannmu dan melihat wajahmu yang rupawan . Kau pasti menggemaskan seperti ibumu bukan ? kau juga pasti lucu . Jangan nakal ya di perut ibu. Sehat selalu untukmu sayangnya ayah ." kata kata Vaiz menyentuh hati Shasa , Shasa mengelus rambut milik suaminya dengan lembut sementara Vaiz terenyum kepada Shasa dan mendongak . Lalu ia kembali manatap perut besar istrinya dan mengecupnya .
Shasa mengusap air mata yang lolos membasahi pipnya . Saat Vaiz kembali duduk sejajar , ia terkejut istrinya menangis .
"hey , kau kenapa menangis?" Vaiz mengusap pipi basah istrinya.
"kau yang membuatku cengeng . Gara gara kau aku menangis ." protes Shasa .
"kenapa aku?" tanya Vaiz bingung .
__ADS_1
"ya karna ucapanmu pada anakmu ini, aku terharu ." ucap Shasa menghapus air matanya. Vaiz kembali tertawa , melihat istrinya terbawa perasaan gara gara ucapannya .
"sudah jangan menangis, kau ini . Seperti anak kecil ." mengusap punggung istrinya .
"aku tidak di peluk nih?" ucap Shasa memanyunkan bibirnya .
"kau ingin aku peluk? untuk apa ?"
"huh kau ini tidak ada romantisnya sama sekali ." gerutu Shasa .
Mendengar hal itu Vaiz kembali tergelak langsung memeluk istrinya sambil menciumi pipi milik istrinya dengan rakus .
"hey , kau ingin menghabiskan pipiku ya ?" mengusap pipi nya dengan menggerutu .
"jangan menggerutu , mau aku melahapmu disini ," goda Vaiz lagi .
"huh itu lagi itu lagi. Kau itu suka sekali bicara mesum aku jadi menyesal memintamu menemaniku."protes Shasa.
"hahahhaha , kau gampang sekali marah, aku cuma bercanda sayang ."
"huh, keterlaluan ."
"lagian , mesum dengn istri sendiri tidak.apa apa sayang ."
"tapi tidak setiap hari ." omel Shasa . Vaiz krmbali tergelak . Membuat Shasa memutar bola mata malas .
__ADS_1