
Rumah megah di tengah kota denga konsep minimalis, tertutup oleh gerbang yang menjukang tinggi . Gerbang tersebut terbuka saat mobil warna hitam mengklakson , Mobil memasuki pelataran rumah yang begitu sangat luas . Turunlah seorang laki laki yang terlihat aura kemarahan .
Laki laki tersebut berjalan memasuki rumah tersebut dengan tatapan tajam . Dia berjalan menuju ruangan besar , Di ikuti oleh beberapa pengawalnya .
"Vaiz ." panggil wanita yang terlihat lemah .
"kau tahu apa kesalahmu?" tanya Vaiz dengan duduk berhadapan dengan wanita tersebut .
"Vaiz , apa aku salah ingin kembali denganmu. Lihat aku lebih menarik daripada istrimu . Ayooo kita jalin hubungan kita berdua , diam diam . Aku rela jika menjadi istri keduamu ."
"Diiiiii ." teriak Vaiz yang membuat Dianan terlonjak .
"sejak kapan kau berani marah padaku? ha ? kau ingat dulu aku yang paling kau sayang . Jika kau tidak akan kembali padaku aku yang akan membunuh istrimu."
"hentikan bicaramu di , akan ku tembak kau ." melepas jaket miliknya dan meraih pistol milik pengawalnya menodongkan pada wajah Diana .
"sudah ku peringatkan bukan Di, jangan pernah menyentuh istriku kau membuatnya bahaya apalagi dia mengandung darah dagingku . Tapi semalam kau meliwati batas maka akan ku hukum kau dengan setimpal ." ucap Vaiz penuh kemarahan .
__ADS_1
"aku tidak peduli , akan ku hancurkan kau dengan istrimu . Akan kubuat hidup istrimu seperti neraka . Aku tidak rela jika kau bahagia dengannya . Aku tidak rela . Bunuh aku bunuh ." teriak Diana .
Karna terbawa emosi mendengar ucapan Diana , Vaiz bersiap akan menembak namun Dino yang sedari tadi mematung langsung menyadarkan tuannya untuk tidak menembaknya .
"tuan jangan bunuh dia, lebih baik kita kirim ketempat dimana dia tidak bisa berkutik ."
"apa maksdmu ?"
"tuan ,jika anda menghabisinya itu memudahkan dia untuk mati . Lebih baik siksa dulu tuan kita kirim ke tempat terpencil dimana dia tidak mampu untuk melakukan sesuatu . Dengan begitu dia akan lelah dan akan menghabisi diri sendiri ." bisik Dino . Lama terdiam Vaiz pun menyetujui ucapan Dino .
"urus dia aku akan kembali menemui istriku ." Dino mengangguk . Lalu Vaiz berjalan keluar Rumah mewah tersebut dan menuju rumah sakit . Ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi . Karna ia sudah terlalu lama meninggalkan istrinya .
Langkah Vaiz terhenti diambang pintu . Di tatapnya istrinya dengan seksama , senyum manisnya mengembang membuatnya merasa gemas . Vaiz tak mau mengganggu istrinya sedang asik berbicara dengan jabang bayinya . Ia lebih baik menunggu di ambang pintu .
Tak lama kemudian Shasa menyadari jika suaminya berada di ambang pintu.
"sayang ,kenapa kau tidak masuk?" tanya Shasa .
"tidak aku hanya tidak ingin membuat senyumanmu memudar kala kau sedang berbicara dengan bayi di perutmu ." berjalan menuju brankar tempat istrinya .
__ADS_1
"hmmmm, jujur saja kalau kau menikmati wajah manisku ini . Aku tahu kau sangat mencintaiku bahkan tatapan mu tadi sampai tak berkedip ." goda istrinya .
"apa aku tidak boleh manatap istriku . Kau begitu cantik sayang ." goda Vaiz yang membuat pipi Shasa memerah .
"hey kenapa pipimu merona? apa kau malu?" tanya Vaiz .
"kau memang selalu membuatku malu ." menutup wajahnya dengan kedua tangan .
"kau tidak perlu malu sayang , memang kenyataannya kau cantik dan manis aku pun tak bosan menatapmu ." puji Vaiz .
"kau itu gombal sekali . Aku tidak cantik ."
"lalu kalau tidak cantik?" tanya Vaiz .
"aku lebih manis dan menggemaskan ." ucap Shasa memuji dirinya .
"ish kau ini , tadi aku puji kai tidak mau sekarang kau malah memuju dirimu sendiri ." gerut Vaiz yang membuat gelak tawa Shasa terdengar nyaring .
"kau tertawa iya , kau tertawa ." Vaiz menyondongkan tubuhnya dan menghujani ciuman pada wajah Shasa seperti biasa . Shasa menghentikan ciuman suaminya . 2 pasang mata saling menatap, dan dengan tiba tiba Vaiz me***at bibir milik istrinya.
__ADS_1
Jangan lupa Vote ya kak .