
Tubuh Vaiz lemah, sementara Zidan menepuk bahu Vaiz dengan angkuh ia merasa dirinya lah yang menang .
Vaiz menghampiri istrinya ia tatap Wajah istrinya seketika hatinya sakit melihat senyum istrinya . Bicara semaunya tanpa ada rasa bersalah .
"baiklah jika ingin mu seperti itu , aku pergi ." Vaiz membalikkan badan akan melangkah . Tangan Shasa langsung meraih lengan suaminya . Langkah Vaiz pun terhenti di menoleh dan melihat istrinya menggelengkan kepalanya .
"tapi tuan Zidan , bagiku kau tidak ada apa apanya di bandingkan suamiku . Oh iya tuan Zidan yang terhormat , kau ingat baik baik suamiku bukan pilihan kau fikir suamiku gorengan yang harus aku pilih mana aku suka. Tidak tuan , di yang terbaik untukku . Suami yang mencintai istri dan anaknya, menyayangi istri dan anaknya , sabar , penuh kasih dan selalu ada untuk keluarganya . Dia tidak pernah mengeluh ,selelah apapun dia suamiku selalu tersenyum . Di mataku suamiku yang terbaik dan tersegalanya . Dan kini kau datang memintaku memilih untuk apa tuan? itu sia sia hanya membuatmu malu saja tuan . Apa kau fikir kau sudah mampu melebihinya tuan? Ingat satu hal sehebat apapun kau , kau tidak akan pernah bisa mengambil hatiku , karna hatiku sudah terpatri namanya ." Vaiz terasa lega mendengar pengakuan istrinya . Sementara Zidan hanya berdiri mematung .
"apa maksudmu nona , bukannya kau tadi mengakui akulah yang mengagumkan ? tapi sekarang kau malah memuji suamimu?" Zidan sangat tidak terima dengan ucapan Shasa .
"memang , tapi di mata ku suamiku lah paling segalanya . Sekarang anda sudah mengerti bukan tuan . Sia sia jika kau mengejarku , aku tidak akan menggubrismu . Kau akan lelah hati dan pikiran saja ." jelas Shasa .
"kau ..." Zidan menunjuk ke arah Shasa .
"kita pulang sayang, aku lelah bicara terus." ajak Shasa menggandeng tangan suaminya .
__ADS_1
"lihat saja kau nona , kau akan menyesal kelak ."
"justru kau yang akan menyesal , tuan perusak akan mendapatkan yang rusak . Lebih baik kau bertaubat sebelum mendapatkan balasannya . Suatu saat jika kau sudah berumah tangga kau akan tahu rasanya jika rumah tanggamu terusik ."
"ayo sayang kita pulang ." ajak Vaiz .
Mereka berjalan keluar resto , Shasa menyapa para pekerja restaurant dengan senyuman dan anggukan seolah tidak terjadi apa apa .
Kini Shasa menghempaskan tubuhnya di sandaran jok mobil . Sementara Vaiz setelah keluar dari restaurant ia tidak berbicara apapun lagi .
"sayangnya ibu sudah bangun ya nak , di cuekin terus ya nak sama ayah?" sindir Shasa untuk suaminya .
"maaf ." ucap Shasa lirih .
"untuk apa?" Vaiz tak menatap wajah istrinya .
__ADS_1
"untuk ucapanku tadi . Aku tidak berniat menyakitimu sumpah, aku hanya ingin memberi pelajaran untuknya aku lelah jika di ganggu ." jelas Shasa .
"aku paham maksudmu . Tapi tidak mengorbankan perasaanku bukan?" Vaiz kembali duduk lalu menjalankan mobilnya .
"maaf , bukan maksudku begitu . Maafkan aku ."
"hemmmm ."
Vaiz hanya berdehem , Shasa menatap suaminya lalu menghela nafas panjang .
"marahlah jika kau ingin marah , ini memang salahku ."
"hemmmm."
Shasa lalu diam , ia tak ingin meneruskan ucapannya . Di tengah diamnya mereka bayi kecilnya merengek .Shasa pun menenangkannya dengan memberinya ASI .
__ADS_1
Sampai di rumah , Shasa langsung turun dan menuju kamarnya . Penyesalan sangat terlihat pada raut wajahnya , ia langsung meletakkan putrinya yang kembali tertidur setelah itu Shasa langsung menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya .
Setelah keluar kamar mandi, ia melirik kesana kemari namun tak mendapati suaminya. Ia pun hanya menghela nafas kasar dan menyusul putrinya berbaring .