
Sudah 3 hari nafsu makan Shasa meningkat membuat Vaiz heran. Dan saat ini Shasa mengahadap kearah cermin dan membolak balikkan tubuhnya .
"sayang kamu ngerasa gak sih kalau aku sekarang gendutan." keluh Shasa.
"iya." ucap Vaiz yang tengah fokus pada leptop yang tengah di pangkunya.
"kok iya, emang beneran aku gendutan." Shasa menoleh kearah suaminya.
"iya sayang." ucap Vaiz lagi lagi tanpa menoleh.
"kalau aku gendutan aku tambah jelek dong."
"iya."
"oohhh gitu sekarang kamu mulai ngakuin aku kalau aku gendutan terus jelek. Kamu udah bosan?"
"iya." Vaiz masih fokus pada pekerjaannya tanpa mendengar curhatan istrinya ia lebih baik mengiyakan karena menurutnya lebih aman.
Dengan kesal, Shasa menghampiri suaminya dan langsung menutup leptop milik suaminya.
"sayang kenapa?" tanya Vaiz tanpa rasa bersalah.
"kamu nyebelin." ucap Shasa.
"sayang apa salahku." Vaiz meletakkan laptop nya dan berjalan mengahampiri istrinya. Vaiz memeluk dan bersiap mencium istrinya, namun Shasa menjauhkan wajahnya. Ia melepas pelukan suaminya lalu berjalan menjauhi suaminya.
"sayang." panggil Vaiz menghampiri istrinya.
"stop jangan dekat dekat orang jelek dan gendut." ucap Shasa.
"siapa yang jelek dan gendut?" tanya Vaiz nampak bingung.
"aku." ucapnya memalingkan wajahnya.
"kata siapa? kau itu cantik dan tidak gendut." Vaiz perlahan menghampiri istrinya.
"dasar pria suka modus, tadi di tanya bilangnya iya aku gendut. Sekarang bilang aku cantik tidak gendut."
"haa kapan aku bicara seperti itu?" tanya Vaiz tampak bingung.
"wah wah wah.. Sekarang kau pura pura lupa."
"sayang aku tidak merasa bilang begitu. Kau cantik dan tidak gendut." Vaiz duduk sambil memeluk istrinya.
"lalu kalau tidak gendut apa?" todong Shasa membuat Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Karena gemas dengan istrinya, Vaiz berdiri lalu meraih tubuh istrinya dan menggendong merebahkan tubuh isitrinya di atas ranjang.
"aaaaaaa, turunkan aku." teriak Shasa menggoyangkan tubuhnya .
"diam, nanti kita jatuh bersama." Vaiz meletakkan tubuh istrinya. Lalu ia membalikkan tubuhnya dengan posisi Shasa di atas tubuhnya.
"lepas, aku gak mau di peluk kamu." protes Shasa. Namum Vaiz mengeratkan pelukkannya . Gemas dengan aksi marah istrinya, Vaiz pun mencium paksa istrinya hingga membuat Shasa tertawa geli.
__ADS_1
"kamu selalu curang, tiap aku marah kamu bikin aku geli jadi aku gak bisa marah terus ." protes Shasa sambil tertawa cekikikan.
"salah sendiri sama suaminya marah mulu." ucap Vaiz .
"kamu nya nyebeli. Harus nya istrinya di tenangin bilang kamu cantik enggak gendut gitu.. ehh kamu malah iya in aku." terang Shasa membuat Vaiz tertawa cekikian.
"kamu emang cantik dan enggak gendut tapi kamu berisi." jelas Vaiz membuat Shasa membulatkan kedua matanya.
"sayaaaaang." teriak Shasa sambil memukul lengan suaminya. Vaiz tertawa terbahak mendengar teriakan istrinya. Ia senang sekali jika mengusili istrinya apalagi membuat Shasa sampai kesal.
"ibuuu."
Kedua suami istri tersebut langsung diam dan menoleh ke sumber suara. Shasa yang awalnya masih diatas suaminya langsung turun dan duduk di samping Vaiz .
"sayang, sini." ucap Vaiz pada putrinya yang tengah berkaca pingganv sambil menatap sang ibu.
"kacau, dia pasti akan memusuhiku." gumam Shasa yang masih di dengar oleh Vaiz .
"ibu, jangan dekat dengan ayahku." ucap Ayudia sambil mendorong kecil sang ibu. Ia lalu naik keatas ranjang melewati sang ibu dan langsung memeluk ayahnya .
"sayang tidak baik seperti itu kepada ibu."
"ibu nakal ayah."
"nakal kenapa?" tanya Shasa pada putrinya .
"ibu naik keatas ayah kan ayah gak kuat ibu gendut kan berat ." cerocos sang putri. Shasa seketika membola mendengar ucapan Ayu sementara Vaiz menahan tawanya.
"aku mau tidur dengan ayah." ucap Ayu tak menghiraukan ucapan Vaiz .
"baik tapi ibu juga ya?"
"no, ibu tidur di kamar Ayu saja."
"ini kan kamar ibu juga kenapa ibu harus pergi?" tanya Shasa membela dirinya sendiri.
"kan ibu nakal. Ibu harus di hukum." Shasa memutar kedua matanya malas .
"baiklah sekarang sini ayah temani Ayu tidur. Sini peluk Ayah." Vaiz menarik tubuh putri nya dan memunggungi istrinya. Saat bersiap merebahkan tubuhnya Ayu menjulurkan lidahnya pada sang ibu.
"Ayu itu tidak baik." ucap Shasa memperingatkan. Ayu pun menggembungkan pipinya dan langsung memeluk ayahnya.
Shasa berjalan menutup pintu dan kembali ikut merebahkan diri di belakang suaminya. Tangan Shasa mulai merambat akan memeluk Vaiz namun Vaiz lebij dulu memperingatkan.
"sayang tunggu anaknya tidur dulu." ucap Vaiz lirih membuat Shasa menarik kembali tangan nya. Ia mendengus kesal. Kepala Shasa menyembul mencoba melihat putri nya .
"dia sudah tidur sayang boleh aku memelukmu." lirih Shasa.
"ibu jangan bicara aku mengantuk."
Vaiz langsung menepuk pelan punggung putri nya agar ia kembali terlelap. Sementara Shasa kembali berbaring .
Setelah setengah jam Vaiz menarik tangan istrinya, Shasa yang setengah sadar ia memeringakan tubuhnya.
__ADS_1
"sudah tidur yank?" tanya Shasa dengan suara serak.
"sudah." Shasa kembali mengeratkan tubuhnya menempel pada punggung Vaiz . Ketiganya pun tidur bersama dengan posisi Vaiz di tengah antara istri dan putrinya.
Sinar menatari mulai menerangi bumi pertanda semua manusia bersiap akan menjalani aktivitas masing masing. Shasa kini tengah berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk suami dan putri kesayangan nya . Kali ini ia menyiapkan menu kesukaan keduanya, jika sang suami lebih memilih memakan salad sementara putrinya menyukai menu nasi putih kecap dan telur goreng. Setelah menyiapkan sarapan, Shasa naik keatas untuk membangunkan kedua orang yang dicintainya.
"morning kesayangan ibu." ucap Shasa dengan suara menggelegarnya.Sementara keduanya menutup telinga karena suara melengking Shasa.
"ayo bangun sayang." jelas Shasa sambil menciumi keduanya.
"ahhh ibu aku masih mengantuk." keluh Ayu.
"tidak, kamu harus pergi sekolah sayang." tutur Shasa pelan. Ia perlahan mendudukan tubuh putrinya.
"ayoo ayah juga bangun, beri contoh yang baik untuk putrinya." tutur Shasa. Vaiz mengucek kedua matanya. Shasa berjalan menuju kamar mandi menyiapkan air untuk suaminya mandi. Setelah itu ia menggendong putrinya menuju kamar putrinya. Ia pun membantu putrinya mandi dan bersiap sia untuk pergi kesekolah. Selesai membantu memakai seragam TK putrinya, lalu menguncir rambut putrinya. Shasa meminta Ayu untuk turun kebawah lebih dahulu Ayu pun mengiyakan tanpa protes.
Shasa keluar kamar putrinya dan masuk kekamar miliknya. Ia menemui sang suami dan membantu suaminya bersiap. Merapikan kemeja dan memakaikan ikat pinggang setelah itu memasang dasi sang suami. Selesai dengan tugasnya ia turun dengan meneteng jas dan tas milik suaminya .
"jangan lupa antar makan siangku nanti ." ucap Vaiz mengingatkan.
"enggak kamu bawa sekalian yank?" tanya Shasa.
"enggak aku maunya kamu sama Ayu kekantorku buat semangat aku kerja." jelas Vaiz .
" iya, mau di masakin apa?" tanya Shasa.
"terserah kamu aja, yang terpenting kamu dan Ayu datang ke kantor." ucap Vaiz .
"iya."
Keduanya pun duduk untuk sarapan.
"makannya pelan pelan sayang." tutur Vaiz .
"iya ayah."
Selesai sarapan, Vaiz pamit kepada Shasa.
"sayang berangkat ya." ucap Vaiz .Shasa mengiyakan dan mencium punggung tangan suaminya .
"ibu." panggil Ayu . Ayu pun mencium punggung tangan Shasa mencium kedua pipi Shasa. Begitu juga dengan Shasa yang selalu mencium putrinya dengan gemas hingga sang putri selalu kesal kepadanya.
"sekolah yang pintar ya sayang, cinta ibu." ucap Shasa.
"iya ibu." ucap Ayu langsung masuk kedalam mobil.
"kamu hati hati sayang." ucap Shasa setelah Vaiz menutup pintu untuk Ayu
"iya." Vaiz mencium pipi Shasa.
"aku jalan." ucap Vaiz kembali mencium kening Shasa.
"iya." Vaiz berjalan menuju kursi kemudi . Mobil tersebut pun berjalan meninggalkan kediaman taban.
__ADS_1