
Malam hari sebelum tidur Shasa menyiapkan koper milik suaminya yang akan di bawa ke luar Negri . Ia menata rapi barang suaminya tersebut,sesekali ia berfikir takut jika ada yang kurang. Saat terlalu sibuk dengan kebutuhan suaminya, mendadak perutnya merasa nyeri . Shasa pun langsusng duduk perlahan sambil mengelus perutnya .
Ceklek . pintu kamar terbuka menampilkan sosok gagah dan tampan . Shasa menoleh dan tersenyum
"apa perutmu sakit?' tanya Vaiz mendekati istrinya .
" tidak, jika sakit aku sudah meringis ."
"jangan menutupi sakitmu itu? kau sakit bukan? dari situs yang aku baca jika hamil tua dan mendekati waktu melahirkan perut ibu hamil akan terasa nyeri ." jelas Vaiz .
"huh kau ini, siapa yang hamil? lalu siapa yang merasakan ?"
"kau yang hamil dan kau yang merasakan .Tapi kau duduk sambil mengelus perutmu aku tau perutmu pasti sakit." ucap Vaiz .
"anakku menendang perutku, lalu aku mengelus supaya dia kembali tidur." ucap Shasa beralasan
"kau bohong tidak? atau aku tidak usah berangkat saja aku akan mengembalikan pakaian ku pada tempatnya ." ucap Vaiz , langkahnya terhenti saat lengannya di tarik oleh istrinya .
__ADS_1
"baiklah , urungkan saja niatmu jika tetangga sebelah menjadi lebih kaya denganmu bolehlah aku pindah tempat kesana ." ucap Shasa pada suaminya .
"kenapa begitu? aku sudah lebih kaya darinya dia tidak ada apa apapnya ." jelas Vaiz .
"pergilah, capailah impianmu . Setelah impianmu selesai maka temani aku selalu dan jangan pergi lagi . Berjanjilah ini terakhir kalinya kau melakukan bisnis jauh ." jelas Shasa memeluk lengan suaminya . Mendengar ucapan istrinya , air mata yang di tahannya lolos membasahi pipi miliknya .
"apa aku egois , meninggalkanmu dengan keadaan hamil hanya karna mencapai tujuanku?" tanya Vaiz kepada istrinya .
"jika kau tak pergi maka aku yang egois . Aku merasa akulah penghambat impianmu ." ucap Shasa menatap wajah suaminya .
"tidak, jika kau mau aku menemanimu maka aku tidak akan pergi . Biarkan aku disini bersamamu . Aku mencintaimu .Aku rela meninggalakan impianku hanya demi dirimu . Kau cintaku ." Vaiz memeluk tubuh istrinya dengan erat .
"apa kau yakin ?" tanya Vaiz ,Shasa mengangguk dan dengan cepat mencium bibir suaminya agar suaminya yakin dengannya .
"baiklah , aku akan pergi . Aku berjanji aku akan kembali sebelum anak kita lahir ." memegang kedua pipi milik Shasa dan menempelkan dahi miliknya pada dahi istrinya . Shasa mengangguk tersenyum
"baiklah sayang, kebutuhanmu sudah aku siapkan . Sekarang tinggal kita menikmati malam panjang kita berdua ." ucap Shasa mencairkan suasana .
__ADS_1
"malam panjang? sayang apa kau mengajak untuk ...."
"tidak,maksud dari kata kataku malam panjang . Kau akan memelukku malam ini dan juga mengelus bayi kita didalam perut ini ." ucap Shasa sedikit salah tingkah .
"apa kau yakin? apa kau tidak bohong?" tanya Vaiz dengab tatapan menggoda .
"suami , jangan menggoda istrimu ." omel Shasa memukul lengan suaminya lirih . Vaiz tergelak saat melihat istrinya lebih salah tingkah lagi . Ia selalu puas menggoda istrinya .
"senang sekali sepertinya kau menggodaku ." omel Shasa bersiap tidur dengan menyelimuti tubuhnya .
"disana nanti aku pasti akan rindu untuk menjahilimu . Lalu aku akan menjahili siapa disana?" Vaiz memeluk tubuh istrinya dari belakang .
"kenapa pusing memikirkan , kau bisa menjahili Sekertaris Dino." jawab Shasa asal .
"enak saja . Dia tidak bisa diajak bercanda ."
"jelas tidak bisa, kau dan dia sama sama dingin di depan orang . Saat di depanku saja kau bisa romantis dan banyak bicara ." omel Shasa .
__ADS_1
"hey memangnya tidak boleh seperti itu.?"
"boleh, aku lebih suka ." terang Shasa . Ia menarik tangan suaminya dan mengarahkan pada perut besarnya . Vaiz pun mengelus perut istrinya dengan lembut . Mereka pun sama sama memejamkan mata dan tak lama merekapun sudah terlelap .