Mengejar Cinta Wanita Biasa

Mengejar Cinta Wanita Biasa
Extra Part 10


__ADS_3

Kehamilan kedua Shasa sudah mengijak usia kandungan 3 bulan, selama trimester pertama Shasa selalu merasa mual pusing dan sangat sensitive. Namun jika sudah bertemu dengan suaminya semua keluhan yang ada pada Shasa hilang seketika. Sementara Ayudia, sangat antusias dengan adik yang masih di dalam perut ibunya. Setiap berangkat dan pulang sekolah ia selalu mengelus dan mencium perut ibunya.


"sepertinya putri ibu sangat senang?" tanya Shasa saat sedang bersantai sore hari di sofa ruang tengah.


"yaa ibu, karena perut ibu sudah buncit." ucap Ayu sambil terkekeh.


"iya berarti tandanya adik sehat di dalam perut ibu." jelas Shasa.


"oooo, apa masih lama ibu adik keluar?" tanya Ayu sambil mengelus perut ibunya.


"sekitar 6 bulan lagi sayang." jelas Shasa.


"berapa 6 bulan itu ibu?" tanya Ayu yang nampak bingung.


"yaaa masih sangat lama sayang, kakak setiap Sholat berdoa ya biar adeknya sehat terus di dalam perut ibu." tutur Shasa dengan lembut.


"iya ibu, aku berdoa ayah yang mengajarkan."


"anak pintar, sini peluk ibu." Shasa merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum. Ayu langsung memeluk ibunya tanpa diminta kedua kali. Ia memeluk erat ibunya begitu juga Shasa, memeluk putri kesayangan nya.


"assallamualaikum." ucap Vaiz berjalan menuju istri dan putrinya.


"ayah, ayah sudah pulang?" tanya Ayu dengan mata berbinar.


"sudah sayang." ucap Vaiz mengecup pipi putrinya.


"apa kabar ibu?" tanya Vaiz sambil mencium pipi istrinya.


"baik ayah." ucap Shasa tersenyum.


"ayah, kita jadi jalan jalan?" tanya Ayu.


"jadi sayang, anak ayah sudah mandi?" tanya Vaiz . Ayu menjawab dengan gelengan.


"lohh kok belum mandi? katanya ingin jalan jalan. Go cepat mandi minta tolong yang baik pada mbak Cristin." titah Vaiz .


"oke ayah." Ayu turun dari sofa dan langsung berlari kecil menemui mbak Cristin.


"ayah, tidak lelah kah?" tanya Shasa.


"tidak ibu, lelah dan penat ku hilag saat melihat senyum kalian berdua." jelas Vaiz .

__ADS_1


"tidak berbohong?" Shasa mencoba memastikan ucapan suaminya.


"ooo, ayolah sayang. Apa suamimu ini pandai berdusta?" ucap Vaiz .


"baiklah, cepat mandi."


"kau sudah mandi sayang?" tanya Vaiz .


"belum."


"kita mandi bersama?" tawar Vaiz. Shasa mengerutkan keningnya. Ia tahu apa yang di maksud suaminya dengan mandi bersama.


"hanya satu ronde. Tidak lebih dari itu." goda Vaiz membuat Shasa membola.


"janji." ujar Vaiz meyakinkan.


"baiklah, ingat jangan lama putrimu akan mengacaukan segalanya nanti. Tidak mungkin bukan jika barang mahalmu rusak karena ulahnya."


"iya cintaku." ucap Vaiz langsung menggendong Shasa.


"sayang, kenapa gendong aku bisa jalan sendiri. Dan kau tau bukan aku berat." protes Shasa.


"biarkan, kapan lagi kita romantis seperti ini?" jelas Vaiz .


"ooo ayolah sayang, jangan protes." Vaiz menaiki tangga sambil menggendong Shasa.


Sampai di kamar, Vaiz meletakkan Shasa di atas wastafel kamar mandi. Tanpa menunggu lama ia meraih tengkuk Shasa lalu menci*m bibir istrinya. Shasa membalas ci*man suaminya. Namun seketika ia mendorong lirih tubuh suaminya.


"sayang, kenapa?"


"kau lupa mengunci kamar, kau tidak ingin bukan tiba tiba putri kita masuk?" memdengar ucapan istrinya, Vaiz langsung menepuk jidatnya.


"untung kau mengingatkan." Vaiz berlari keluar kamar mandi untuk menguci kamarnya. Setelah terkunci dengan aman, Vaiz kembali ke kamar mandi dan langsung menci*mi pipi istrinya, ia kembali mel**at bibir istrinya, mata terpejam dan sama sama menikmati sapuan lembut keduanya. Ci*man tersebut turun ke leher jenjang milik Shasa dan kemudian perlahan Vaiz menye*apnya.


"sayang, jangan berbekas." ujar Shasa mengingatkan dengan suara serak.


Mendengar peringatan istrinya membuat Vaiz sadar, jika ketahuan putrinya akan sulit menjelaskan. Ia pun mengurungkan nya. Ci*uman bertubi tubi yang membuat Shasa semakin mende*ah membuat Vaiz dengan cekatan membuka daster milik istrinya. Tampak tubuh setengah polos dengan bagian intim tertutup dengan dalaman miliknya. Vaiz kembali menci*umi tubuh istrinya membuat Shasa mengeluarkan suara sexy yang membuat Vaiz berg**rah. Setelah melakukan pemanasan keduanya pun melakukan hubungan suami istri.


Kini keduanya keluar dari kamar mandi dengan rambut keduanya basah. Setelah berganti pakaian Vaiz menuju pintu untuk membuka kunci nya. Sementara Shasa masih memoles wajahnya dengan skin care, make up tipis, dan memakai body lotion. Terakhir ia menyisir rambutnya setelah suaminya membantunya mengerikan rambut.


Kedua sudah siap untuk pergi, tak berapa lama putrinya masuk ke kamar untuk mengajak keduanya pergi jalan jalan. Ayu nampak bahagia menuruni tangga dengan di gandeng Vaiz dan Shasa.

__ADS_1


Sampai di mobil, Vaiz langsung menjalankan mobilnya menuju keluar gerbang.


"mau kemana nak?" tanya Vaiz pada putrinya.


"mall ayah, aku ingin bermain." jelas Ayu.


"baiklah."


Shasa hanya tersenyum saat mendengar interaksi ayah dan anak tersebut.


"ibu, aku rasa kita harus merenovasi rumah kita." jelas Vaiz yang masih fokus menyetir.


"kenapa? bukannya rumah kita tidak ada maslah?"


"ya aku tahu, tapi kau hamil bahaya jika kau naik turun tangga. Aku rasa aku harus menambahnai elevator." jelas Vaiz .


"tidak perlu, jika kau ingin kenapa kau tidak membangun rumah saja lagi dan kau pasang elevator. Rumah dengan ukuran besar melebihi rumah kita? seperti ukuran mansion." jelas Shasa.


"seprtinya ide yang bagus. Kau ingin konsep rumah seperti apa?" tanya Vaiz .


"rumah besar yang di kelilingi taman, belakang rumah memiliki kolam kecil, dengan jembatan di tengah kolam, dan di pinggir kolam ada tumbuhan dan bunga. Ada angsa yang berenang. Dan di sekitarnya di tumbuhi pohon pohon yang rindang. Aku ingin seperti itu. Tapi aki rasa akan mustahil."


"kenapa begitu?"


"memakan biaya yang cukup banyak." jelas Shasa.


"kalau begitu aku akan menjual kost kost an yang kau bangun." celetuk Vaiz langsung mendapat pukulan kecil.


Sampai di mall, Ayu langsung turun. Ia memberikan tangannya untuk di gandeng. Setelah menunggu Vaiz keluar, ketiganya berjalan menuju lift khusus. Di arena bermain, Ayu langsung kegirangan dan mengajak ayah nya untuk menjajal game. Sementara Shasa menunggu di kursi yang telah di sediakan. Ayu nampak berteriak saat ayahnya mendapat boneka pada permainan mesin capit tersebut. Dan langsunv berlari kecil kearah ibunya.


"dapat boneka?" tanya Shasa sambil mengusap rambut putrinya.


"yaaa, aku senang ibu." ucap Ayu.


"baiklah, ingin bermain lagi?" tanya Vaiz.


"tidak ayah , aku lelah dan lapar." jelas bocah kecil yang menggemaskan itu.


"baiklah, ayo kita makan." Vaiz menggendong putrinya lalu menggandeng istrinya. Ia masuk ke restaurant dalam mall. Vaiz memilih ruang VVIP untuk kenyamanan keluarga kecilnya. Shasa memilih menu makanan untuknya,anak dan suaminya.


Tak butuh waktu lama, makanan tersebut terhidang di meja. Vaiz membantu putrinya makan. Sesekali ia menyuapkan untuk dirinya juga. Setelah Shasa selesai makan, ia menyuapi suaminya .

__ADS_1


Selesai makan dan bermain, ketiganya kembali pulang karena Ayu juga sudah mengantuk.


__ADS_2