
3 hari sudah Shasa menginap di rumah sakit , karna keadaannya sudah sehat dan membaik dokter mengijinkan untuk pulang . Shasa berkemas karna Vaiz sudah berjanji untuk menjemputnya siang setelah ia menyelesaikan rapat . Namun makan siang sudah terlewat 1 jam yang lalu Shasa yang menunggu suaminya menjadi jenuh , ia juga sudah berusaha untuk menghubungi namun nomer ponsel Vaiz tidak aktif . Hatinya kecewa , dengan langkah gontai ia berjalan keluar rumah sakit dan menghentikan taksi .
Taksi berhenti tepat di depan kediaman Vaiz, setelah membayar Shasa keluar taksi sambil menenteng tasnya berjalan memasuki gerbang rumah miliknya . Ia masuk kedalam rumah dan menuju kamar atas . Pelayan yang menyambutnya diabaikan oleh Shasa karna terlalu penat . Ia meletakkan tas dan ponselnya diatas meja lalu berjalan kearah ranjang untuk berbaring .
"seharusnya dia tidak berjanji , karna aku akan lebih kecewa lagi ." gumam Shasa sambil menutup wajahnya dengan lengan tangannya .
"Jika tahu dia ingkar aku sedari tadi sudah sampai dirumah ," gerutunya lagi dan lagi .
********
Di lain tempat, Vaiz kini sedang mengadakan rapat yang sedari pagi tak selesai langsunh mengumpat karna teringat janji dengan istrinya .
"ssshhhhittt ." umpatnya . Ia berlalu meninggalkan rapat dan berlari menuju mobil miliknya . Di perjalanan Ia membuka ponsel betapa terkejut 20 panggilan tak terjawab dan 15 pesan dari istrinya .
__ADS_1
"Tuhan, aku membuatnya kecewa . Bodoh kau Vaiz ." umpatnya sambil memukul setir mobilnya . Ia langsung melajukan mobil kearah rumah sakit . Sampai di rumah sakit ia berlari kekamar yang sebelumnya di tempati istrinya , namun nihil istrinya tidak ada disana . Vaiz berlari menuju receptionis dan ternyata istrinya sudah keluar sedari tadi .
Ia langsung meraih benda pipih untuk menghubungi istrinya . Beberapa kali ia menghubungi namun panggilan ditolak .
"sudah pasti dia kecewa dan marah ." Vaiz melajukan mobilnya kearah kediamannya dengan sesekali mengumpat .
Di kamar , Shasa mendengar nada dering ponselnya , dilihatnya pada layar ponsel yang menampilkan nama suaminya sedang menghubungi . Ia menolak panggilan suaminya hingga berkali kali . Saat ini ia tak ingin berbicara dengan suaminya .
"Andai saja kau tak berjanji aku juga tidak akan sekecewa ini ." gumam Shasa meneteskan airmata .
15 menit Vaiz sampai di kediamannya .
"apa istriku sudah kembali?" tanya Vaiz pada pelayan
__ADS_1
"sudah tuan , nyonya terlihat sedang mood buruk ." ucap salah satu pelayan .
"aku berjanji menjemputnya tapi aku lupa ." terang Vaiz pada pelayannya .
"lebih baik tuan minta maaf , nyonya sangat terlihat kesal." Vaiz mengangguk dan berjalan menuju lantai atas .
Ceklek .
Pintu kamar terbuka , sepasang mata Vaiz menatap pada ranjang king size yang kini di tempati oleh istrinya . Ia melihat istrinya tertidur dengan wajah di tutupi oleh bantal .Perlahan ia naik keatas ranjang dan ikut berbaring dengan memeluk istrinya .
"sayang maafkan aku , aku lupa jika aku sudah berjanji akan menjemputmu ." ucap Vaiz .
"aku salah telah membuatmu kecewa. Maafkan aku ." membuka bantal yang telah menutupi wajah istrinya . Di ciumnya kening Shasa mata yang sembab hidung dan bibir tipinya .
__ADS_1
Vaiz kembali memeluk istrinya dengan kepalanya ia letakkan pada ceruk leher jenjang milik istrinya . Air mata Vaiz menetes karna membuat istrinya menangis . Karna nyaman berada di samping istrinya membuat mata Vaiz terpejam dengan dengkuran halus . Vaiz tertidur dengan memeluk istrinya .
Mata Shasa terbuka kala mendengar dengkuran halus suaminya . Shasa sudah terbangun saat suaminya menciumnya hanya saja ia pura pura tertidur . Shasa melepas pelukan suaminya lalu berdiri berjalan menuju sofa . Ia merebahkan diri di sofa empuk yang berada di dalam kamar . Saat ini ia tak ingin berdekatan dengan suaminya , ia masih marah dengan suaminya karna ingkar janji .