
Vaiz berjalan menyusuri gedung Zidan dengan marah , langkahnya lebar dengan rahang dan sohor mata yang membuat semua orabg takut . Ia melangkah keluar gedung dengan Dino sang Sekretaris pribadi yang selalu mengawalnya.
"berikan kuncinya padaku ." titah Vaiz menyodorkan tangan kosongnya.
"biar saya saja tuan , saya tahu jika tuan mengemudi disaat marah pasti lupa haluan .Jika terjadi apa apa kasihan nyonya dan nona kecil tuan ." ucap sekretaris Dino . Vaiz menuruti ucapan sekretarisnya,bagaimana pun apa yang Dino ucapkan ada benarnya . Vaiz duduk di bangku belakang sambil menyandarkan tubuhnya yang lelah .
"apa aku salah jika aku berkorban demi istriku, istri yang melahirkan anakku ?" tanya Vaiz pada Dino.
"apa yang tuan lakukan sudah benar tuan , hanya tuan Zidan saja yang keterlaluan . Bukankah anda sudah mengenal tuan Zidan? Dia memang seperti tidak memiliki otak. Jadi tuan bersabarlah . Jika tetap mengganggu tuan bisa memerintahkan saya ." tutur Dino yang di selalu di dengar oleh Vaiz .
"terimakasih kau telah memberiku saran . Setidaknya hatiku melega mendengar penuturanmu ." ucap Vaiz sambil menepuk bahu Dino yang berada di kursi kemudi .
"sama sama tuan ." Sekretaris Dino mulai melajukan mobilnya keluar halaman Gedung Zidan .
Dengan kecepatan sedang , mobil yang di lajukan oleh Sekretaris Dino berjalan membelah jalan raya . Sementara Vaiz menenangkan pikirannya dengan memejamkan mata .
Kini tanpa Vaiz sadari ,mobil yang ditumpanginya sudah terparkir di halaman kediamannya .
"tuan , kita sudah sampai ." ucap Sekretaris Dino membangunkan tuannya dari lamunannya .
"ahhh ,maafkan aku tidak menyadarinya ."
__ADS_1
"tak apa tuan , saya menyadarinya ." ucap Sekretaris Dino .
"kau tidak ingin mampir dulu?"
"ah terimakakhawatir ,saya akan kembali ke kantor ."
"baiklah, kau hati hati." ucap Vaiz lalu turun dari mobil .
"iya tuan ." Sekretaris Dino berjalan menuju keluar gerbang , sedangkan Vaiz berjalan memasuki rumahnya . Ia berjalan ke kamarnya dengan hati yang sedikit kesal .
"Assalamualaikum ." berucap salam .
"waalaikumsallam Ayah ." sahut Shasa menirukan suara bayi .
"ho'oh mandi dulu gih yank , biar bersih kalau gendong anaknya biar nyaman." tutur Shasa lembut .
"ya udah aku mandi dulu ya ," Vaiz berbalik arah menuju kamar mandi.
Selesai mandi dan berganti baju , Vaiz menghampiri istrinya yang sedang menimang nimang putri kecilnya . Ia duduk di sebelah istrinya dan meminta putrinya agar ia gendong .
"pelan pelan ." ucap Shasa diangguki Vaiz . Kini putrinya berada dalam dekapan sang ayah, terlihat nyaman dan nyenyak dalam tudurnya .
__ADS_1
"gimana di kantor?" tanya Shasa pada suaminya .
"baik. Aku tadi ke tempat Zidan ." Vaiz bercerita kejadian saat menemui Zidan kepada sang istri. Namun seketika Shasa takut , ia takut jika Zidan melakukan hal di luar kendali .
"sayang, ayo kita kerumah orang tuaku saja . Aku takut dia datang saat semua orang lengah ." tutur Shasa . Vaiz menghela nafas mendengar permintaan istrinya.
"kita akan baik baik saja ." jelas Vaiz agar istrinya tidak gusar .
"tidak, aku merasa dia orang aneh . Dan itu membuatku takut." jelas Shasa .
"jangan takut , aku akan mencari penjaga untuk menjaga disekitar rumah ." Jelaz Vaiz .
"apa itu tidak berlebihan?" tanya Shasa .
"tidak , aku tidak ingin jika baji**an itu menganggumu ." jelas Vaiz .
" baikalh terserah kamu . Aku hanya butuh kenyamanan dan keamanan saja sayang . Aku rela jika kita pindah di tempat yang kecil jika kau tidak ingi di rumah orang tuaku ." jelas Shasa .
"aku tahu, tapi bagaimana pun ini adalah rumah kita. Kita harus tetap disini . Jangan khawatir ," Vaiz menncoba menenangkan Shasa.
"baiklah aku ikut kamu ." ucap Shasa lalu duduk tetdiam .
__ADS_1
NB : halo para readers , maaf ya untuk hari ini author hanya bisa up satu bab , dikarenakan author tengah sibuk jadi untuk hari ini hanya up sedikit dan mohon di maklumi . Dan jangan lupa lagi like dan vote ya kak.