
"sayang." panggil Vaiz dengan lembut. Ia langsung mencium kening istrinya dan tersenyum bahagia .
"syukurlah kau sudah sadar, aku sangat mengkhawatirkanmu." jelas Vaiz dengan sesekali mencium kening istrinya. Shasa hanya tersenyum sambil mengedipkan kedua matanya.
Selesai dengan adegan mesra,Vaiz langsung memencet tombol yang terletak pada tembok dekat brankar rumah sakit untuk memanggil dokter. Tak butuh waktu lama,dokter tersebut sudah memasuki ruangan dan bersyukur melihat pasien pentingnya sudah sadar.
"alhamdulillah nyonya sudah sadar,saya ijin memeriksa ya nyonya." Shasa pun mengangguk.
Saat mendapati ijin untuk memeriksa,barulah dokter tersebut mulai memeriksa pasiennya.
"baiklah, nyonya sudah sadar. Saya akan melpas alat alat yang melekat pada nyonya karena nyonya sudah tidak membutuhkannya lagi."
"iya dok." ucap Vaiz dan Shasa bersamaan.
Selesai dengan tugasnya dokter tersebut undur diri untuk menangani pasien lainnya.
"sayang." panggil Vaiz setelah dokter keluar ruangan.
"aku merindukanmu ." lanjut Vaiz mencium kening istrinya. Shasa hanya tersenyum mengangguk.
"mas,aku haus." dengan cekatan Vaiz langsung mengambilkan minum yang sudah disiapkan di atas nakas rumah sakit.
Shasa langsung meneguk air tersebut , setelah dirasa sudah cukup Vaiz mengembalikan di tempat semula.
"mas,putri kita?"
"putri kita dirumah dengan bapak dan ibu." jelas Vaiz .
__ADS_1
"berapa lama aku sakit mas?" tanya Shasa masih sedikit lemah.
"sudah 2 minggu."
"astagfirullah,lalu bagaimana kamu dan anak kita?"
"semuanya baik,sudah jangan di fikirkan ayo istirahat biar kamu cepat pulih kembali." jelas Vaiz.
"tidak,aku ingin pulang mas." Shasa mencoba bangun namun tubuhnya masih lemah.
"istirahatlah dulu sayang,jika kamu benar benar sehat kita akan kembali ke rumah."
"iya aku tahu,tapi kamu baru saja sadar. Mengertilah."
"tapi mas anak aku butuh ibunya." rengek Shasa.
Lama membujuk,akhirnya sang istri pun mengerti dan mengalah.
"baiklah,dengan syarat."
"syarat apa?" tanya Vaiz heran.
"kamu harus tidur di sampingku,dan memelukku jangan pernah lepas." ucap Shasa.
"baiklah, aku akan tidur disampingmu dan memeluk istri tercintaku ini."
Vaiz membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Untung saja tempat tidur rumah sakit tersebut luas jadi muat untuk tidur dua orang.
__ADS_1
"sayang, aku sangat bahagia karena kau sudah sadar dari koma mu." ucap Vaiz .
"hemmmb," gumam Shasa .
"aku ingin pulang." lanjut Shasa setelah bergumam.
"setelah kau kembali pulih kita akan pulang kerumah." Shasa mengangguk dan perlahan mulai memejamkan mata. Saat mendengar dengkuran halus istrinya di kecup kening istrinya dan menatap wajah manis milik istrinya yang masih terlihat sangat pucat .
Perlahan Vaiz mulai ikut memejamkan mata mengukuti sang istri yang telah tertidur lebih dulu.
Di Kediaman Taban .
Bu Nur sedang menimang nimang cucu pertamanya yang masih berusia 6 bulan . Sesekali ia meneteskan mata kala melihat sang cucu yang tengah di tinggal sang ibu berjuang melawan koma . Di setiap Sholatnya, Bu Nur dan Pak Yono selalu berdoa untuk kesembuhan sang putri agar kembali berada di tengah anak dan suaminya.
"pak,belum ada kabar dari nak Vaiz to?" tanya bu Nur .
"masih belum,terakhir ya cuma bilang kalau Shasa ngrespon disetiap perkataan para sahabatnya. Ia meneteskan mata . Tapi ini masih belum ada kabar mungkin masih sama bu." jelas Pak Yono .
"semoga cepat bangun ya pak, ibu gak tega kalau anak ibu masih terbaring di ranjang rumah sakit. Apa lagi Shasa punya anak yang masih butuh ASI nya . Nak Vaiz juga rapuh dan kosong saat ini." jelas Bu Nur.
"iya bu bapak tahu,tapi daripada kita mengeluh begini lebih baik kita berdoa terus semoga putri kita cepat sadar dari koma nya dan semoga di jauhkan dari marabahaya."
"amin pak amin,ya sudah ibu mau tidurin Ayu ya pak. Kayaknya sudah tidur pulas."
"iya."
Pak Yono menatap langkah istrinya sambil tersenyum getir .
__ADS_1
"Tuhan,jaga dan lindungi keluargaku . Jauh kan dari segala bahaya yang selalu mengejarnya. Dan kembalikan ketenangan dan kedamaian untuk keluarga kecil putriku." batin Pak Yono.