
Seperti malam kemarain, Shasa tetap pada pendirannya tidak berbicara dengan suaminya dan tidak ingin tidur satu ranjang dengan suaminya . Ia masih betah untuk tidur di sofa .
"haduhhh , aku sudah makan malam tapi kenapa aku masih lapar ." gerutu Shasa . Wanita itu menoleh pada suaminya yang sedang memangku laptop dengan terlihat raut wajah fokus .
"aku ingin sekali makan bakso dengan kuah yang pedas ." gerutunya lagi sambil mengelap ujung bibirnya .
"Shasa cari ide bagaimana cara mengajak tuan Vaiz untuk membeli bakso ." gerutunya yang tak berkesudahan . Dan tiba tiba ia menjentikan ibu jari dan jari tengahnya . Ia mendekat kearah ranjang dan duduk disamping Vaiz , namun ia mendengus sebal saat suaminya tak memperhatikannya .
"sayang ." panggil Shasa dengan nada menggoda .
"hmmmm, apa kau sudah memaafkanku? apa hanya ingin meminta sesuatu saja? katakan ?" ucao Vai, tak menoleh kearah Shasa sedikit pun .
"ahhh kau ini menyebalkan , bagaimana bisa orang tuaku menyetujui pernikahan kita sementara kau sangat menyebalkan ." dengus Shasa .
"bapak dan ibu percaya jika aku bisa menjaga istriku yang nakal ini ." menyentil kening Shasa .
"kau kena hukuman sayang ." ucap Shasa kesal smbil mengelus keningnya .
"hukuman apa?"
"kau telah menyentilku ini. sakit sebagai obatnya kau harus mentraktirku makan bakso sekarang." melipat kedua tangannya diatas dadanya .
"aku baru paham kalau istriku ini mendekatiku hanya ingin makan bakso ."
"ahhh tidak ,aku hanya menghukummu agar kau tidak mengulanginya lagi ."
"jika ingin menghukum kau tidak mungkin meminta bakso , kau akan lebih mendiamkanku bukan ?" mata Shasa membulat mendengar penjelasan suaminya .
"aku ingin meringankan beban hukaman mu, cepat aku ingin makan bakso ."
"iyakan kau ceplosan sayang ." sontak Shasa menutup mulutnya .
"bu.. bu .. bukan begitu sayang .. ahhh terserahlah ." ucapnya merajuk
"baiklah, ayooo ambil jaketmu ." Vaiz berdiri mengulas senyum melihat tingkah istrinya yang menggemaskan . Ia mengambil kunci mobil miliknya lalu berjalan keluar kamar menggandeng istrinya .
Di dalam mobil Shasa menoleh kanan kiri untuk mencari bakso gerobak ,tapi tak menemukan penjual bakso sama sekali .
"apa yang kau cari sampai clingukan seperti itu sayang ."
"penjual bakso ."
__ADS_1
"kita akan ke restaurant ku . Disana aku sudah meminta chef ku membuatkan bakso ."
"ah , aku tidak mau aku ingin bakso yang di pinggir jalan dengan kuah segar dengan baksonya yang besar ." ucap Shasa sambil mengusap ujung bibirnya .
"tapi ..."
"please sayang maukan?" ucapnya dengan kerlingan mata .
"huh, bukannya kau tadi makan malam lalu kenapa masih lapar?" keluh Vaiz ..
"entahlah aku merasa lapar dan ingin saja ." ucap Shasa .
"ahhh itu sayang, berhenti disitu . Lihat baksonya uwwu banget sayang ." ucap Shasa antusias .
"apa itu uwwu ."
"ahhh lupakan ,aku akan turu membeli bakso jika kau tak mau tidak apa turunlah saat sudah membayar ." ucap Shasa sambil berlalu . Saat akan membuka pintu mobil Vaiz mengurungkan niatnya karna mendapat telpon dari sekretaris pribadinya .
Saat Shasa sudah memesan ia mengambil tempat paling belakang .
"Sa," sapa seseorang yang suaranya tidak asing bagi Shasa . Shasa menoleh dan berlalu pergi , tapi laki laki tersebut mengikutinya .
"Sa , kau terlihat berbeda . Kau bukan Shasa yang dulu aku kenal." ucap laki laki yang duduk di depan Shasa .
"kau dulu tidak seperti ini ,kau sekarang cantik Sa."
"apa dulu saat bersamamu aku tidak cantik mas Nino?" tanya Shasa .
"ahhh bukan begitu, dulu kau cantik tapi sekarang kau lebih anggun ."
"terimakasih pujiannya ." Shasa melahap makanan
"Sa aku sudah putus dengan wanitaku yang dulu." ucap Nino
"lalu?"
"aku menyesal meninggalkanmu , sungguh Sa. Aku ingin kita kembali seperti dulu ."
"hah apa yang kau katakan itu serius mas?" Nino mengangguk tersenyum .
"ouhhh, tapi sayang mas untuk apa aku kembali padamu . Toh katamu aku juga sudah cantik Jadi aku bisa dong cari yang lebih darimu . Kalau aku udah cantik gini trus aku mau kembali denganmu berarti aku bodoh ."
__ADS_1
"hah apa maksudmu Sa?"
Saat Shasa akan menjawab pertanyaan mantan kekasihnya , suara khas milik Vaiz lebih dulu menggema pada telinga Shasa .
"sayang." panggil Vaiz mendekati istrinya .
"duduk sini sayang ." Vaiz menuruti perintah istrinya dan membuat Nino terkejut .
"pak Vaiz." ucap Nino terbata bata .
",hey , bukannya kamu bekerja di kantorku? kau mengenalnya sayang ?" Nino mengangguk lemah .
"he.eh dulu mas Nino mantan kekasihku ."
"o iya , terima kasih Nino kau sudah memutuskan hubunganmu dengannya ."
"maksudmu sayang?"
"bukannya Nino dulu membuangmu sayang karna penampilanmu yang kuno?" Shasa mengangguk sementara Nino menunduk .
"jika Nino tidak membuangmu , mana mungkin aku bisa mendapatkanmu ." jelas Vaiz menatap istrinya .
Raut wajah Nino terlihat sangat malu , ia tidak menyangka wanita yang dulu mencintainya lalu ia putuskan begitu saja kini menjadi istri dari CEO di perusahaan tempat ia bekerja .
"maaf pak , dulu memang saya khilaf ." ucapnya dengan senyum masam .
"tak apa mas , setidaknya aku berhasil bukan . Setelah kau tinggal seperti itu aku bisa mendapatkan pemilik perusahaan tempat kau bekerja bukan ." ucap Shasa .
"baiklah, aku permisi tuan Vaiz ,Sa." ucap Nino
"hmmm .. o iya No aku harap kedepannya kau bisa memanggil istriku dengan panggilan Nyonya ."
"baik Tuan ."
" sayang ,terimakasih karna bantuanmu setidaknya kejengkelanku terbalaskan sayang ." ucap Shasa memeluk suaminya .
"hmmm, kau senang ."
"sangat,apa aku seperti orang jahat?"
"tidak ,kau hanya melampiaskan kekesalanmu bukan?" Shasa mengangguk .
__ADS_1
"baiklah habiskan makananmu ." Shasa menghabiskan mekanannya sesekali menyuapi suaminya .