
Sudah kenyang dengan ASI milik Shasa , putri kecil itu memejamkan mata kembali . Shasa meletakkan putri kecilnya di ranjang besar . Shasa beranjak dari ranjang miliknya dan berjalan kearah kamar mandi .
Keluar kamar mandi ia mendengar dering ponselnya . Ia berjalan perlahan lalu meraih ponsel dan menatap layar ponsel miliknya . Dahinya mengernyit kala melihat nomer yang bertuan menghiasi layar ponselnya . Dengan sedikit ragu dan penasaran Shasa menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih tersebut pada telinganya .
"haloo ." ucapnya meragu .
Tak ada jawaban membuat ia mengulangi ucapan tersebut hingga tingga kali . Terdengar suara desahan membuatnya bergidik ngeri .
"sepertinya kau salah sambung ." ucapnya akaj mematikan ponselnya .
"aku tidak pernah salah sambung saat menghubungi seseorang . " ucapnya membuat Shasa melotot .
"apa maumu?" Shasa sudah terlihat kesel namun suara kekeh di sebrang membuat Shasa kembali bingung .
"kau memang orang aneh . Enyahlah dari kehidupanku ."
"aku tidak bisa , rasakan hatiku perih saat mendengar ucapanmu yang kejam itu ." ucap laki laki tersebut .
"kau gila benar benar gila . Kau sudah tidak waras ."
__ADS_1
"kau harusnya tahu , aku memang gila gila karnamu ."
"dari mana kau tahu nomer ponselku?" tanya Shasa berapi api .
"ahhh kau sudah mengenaliku?"
"kau jangan basa basi . Dari mana kau tahu nomer ponselku . Kau sangat gila ."
"apapun untukmu sayang, hanya nomor ponselmu itu mudah ." ucap laki laki tersebut .
"dasar kau tidak waras ." Shasa langsung mematikan sambungan tersebut lalu juga mematikan ponselnya .
Ia langsung merebahkan tubuhnya pada ranjang samling putrinya . Shasa tidur terlentang sambil menutupi wajahnya . Hari ini ia ingin marah , karna orang yang selalu mengganggunya bisa mendapatkan nomor ponselnya .
Di kantor milik Taban Group , CEO tampan yang berkharisma tersebut berjalan mondar mandir sambil menempelkan ponsel pada telinganya . Saat sambungan tersebut tak terhubung ia kan mengumpat dan khawatir.
"tuan ." panggil Sekretaris Dino .
"stop jangan bicara , aku masih sibuk . Keluarlah aku tidak ingin di ganggu ." ucap Vaiz .
__ADS_1
"tap .." ucapannya terhenti kala Vaiz mulai memicingkan matanya . Perlahan Sekretaris Dino membungkuk lalu pergi .
"dimana kau ini . Apa perlu aku membuang ponselmu yang tak berguna itu. " gerutu Vaiz sambil berusaha menghubungi seseorang . Dengan rasa kesal Vaiz meraih jas dan tasnya tak lupa juga kunci mobil miliknya . Ia berjalan keluar ruangan sambil tergesa gesa .
"tuan ada apa?" tanya Sekretaris Dino menghentikan atasannya.
"istriku tidak bisa di hubungi . Aku ingin kembali urus kantor ." Vaiz melanjutkan langkahnya saat Sekretarisnya akan melayangkan protes .
"huh, jadi aku yang selalu repot ." gerutu Dino .
"yang sabar ." ucap Rahma terkekeh membuat Dino melotot .
Di dalam mobil , Vaiz fokus kepada jalanan sesekali ia mengumpat kala jalan yang di lewatinya macet . Setelah menunggu 10 menit ia kembali mengendarai mobil dengan ngebut hingga sampai di pelataran kediamannya . Ia langsung berlari menuju kamar bawah yang sudah lama ia tempati . Hatinya langsung lega kala melihat istrinya tertidur sambil memeluk putrinya .
"aku mengkhawatirkanmu ,tapi kau malah enak enakkan tidur ." gumam Vaiz berjalan kearah ranjang . Ia ikut berbaring di sambil bayi mungilnya tanganya terulur untuk memeluk istri dan anaknya .
Mata yang tadi tertutup kini terbuka perlahan, menampilkan muka bantal yang sangat imut .
"kau sudah pulang?" tanya Shasa dengan suara seraknya .
__ADS_1
"aku mengkhawatirkanmu . Aku menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif. Apa ada masalah ?" ucap Vaiz melembut .
Apa aku harus jujur padanya jika orang sakit itu mendapatkan nomer ponselku . Tapi apa tidak akan membebaninya . batin Shasa .