
Saat kedua pelayan akan meraih tangan milik tante Fanny dan Jessie . Mereka pun menolak dan melangkah , namun langkah nya beralih kearah Shasa , dengan keras tante Fanny menampar Shasa . Sontak membuat Dino dan Vaiz melindungi Shasa.
"minggir kalian ." perintah Shasa pada Suaminya dan Dino .
Saat akan di cegah , Shasa langsung menyingkirkan tubuh keduanya . Matanya melotot sempurna amarahnya yang sedari tadi tak dapat di tahan kini meluap .
Plaaaaaak,,, plaaaak. . Plaaakk ..
Shasa menampar tante Fanny berulang kali . Jessie langsung melotot sempurna .
"sudah kubilang jangan sentuh aku, kau wanita tua aku tadi sudak katakan jika aku pantang untuk melukaimu . Tapi kau semakin menjadi hingga kau menampar pipiku dengan keras . Apa masalahmu dengan ku." Shasa akan mendekat namun kakinya di tendang oleh Jessie.
"jangan pernah sentuh mommyku ." teriak Jessie .
Vaiz dan Dino menahan Shasa .
"Dino usir dia dari sini ." perintah Vaiz dengan keras .
" tidak , aku tidak ingin kau mungusirnya . Dia menyakitiku aku yang akan membalasnya . Kalian jangan campuri urusanku ." ucap Shasa lirih sambil mengeratkan giginya .
"dasar hanya segitu saja kemampuanmu di depan suamimu . Bukannya kau tadi sok sekali ." ledek Jessie . Dengan tanga mengepal Shasa melangkah dan .
Bugggh .
Shasa meninju bibir Jessie .
"satu pukulan untuk mulut busukmu itu ."
Bugggghhh .
__ADS_1
"satu pukulan untuk mulut ibumu yang merendahkan putriku ."
Shasa menjambak rambut Jessie hingga Jessie meringis kesakitan .
"Vaiz tolong putriku." pinta tante Fanny.
"stop sayang, jangan seperti ini." ucap Vaiz yang akan melangkah namun mengehentikan Vaiz .
Buggggh .
Shasa menendang kaki milik Jessie , hingga Jessie meringis menahan sakit .
"kau memang gadis gila , gadis menyeramkan ." teriak tante Fanny menghampiri putrinya. Ia mengajak putrinya untuk pergi dari rumah tersebut. Sedangkan Dino yang sedari tadi menatap istri tuannya hanya melongo tak percaya .
"kembalilah Dino, kantor membutuhkanmu ." titah Vaiz . Setelah Dino undur diri Vaiz pergi meninggalkan istrinya menuju kamar . Sedangkan Shasa ia masih mengatur nafasnya yang tersenggal .
Shasa menyusuk suaminya , tangannya di ulurkan untuk memutar handel pintu , saat pintu terbuka ia masuk dan kembali menutup pintu . Bola matanya berputar seakan mencari sesuatu . Senyumnya tersungging kala menemukan yang dicarinya.
Shasa memeluk suaminya dari belakang sambil menggendong putri kecilnya .
"sudah puas ." tanya Vaiz yang tak menoleh kebelakang .
"isssh kau tidak terkejut?" Shasa cemberut namun masih memeluk suaminya .
"aku sudah tahu . Apa sekarang kau puas?" tanya Vaiz sekali lagi .
"sayang jangan bicara seperti itu, seakan aku ini sangat jahat sekali ." protes Shasa .
"kau sangat brutal . Aku takut kau baru saja selesai melahirkan." keluh Vaiz .
__ADS_1
"sudah ku perhitungkan sayang, jangan khawatir ."
"jangan ulangi, jika itumu sobek bagaimana nasibku aku akan berpuasa lagi?" keluh Vaiz membuat Shas tertawa.
"maafkan aku, aku harus membentakmu dan berkata cerai . Hatiku sangat terluka saat akan mengatakan itu ." Shasa memeluk erat suaminya .
"itu permainanmu . Jangan lakukan lagi ."
"entahlah sayang,aku tidak yakin jika dia diam. Aku merasa dia akan membalasku." ucap Shasa melepas pelukan suaminya .
"maksudmu."
"Dia pergi dengan wajah tidak terima aku takut jika nanti mereka balas dendam." keluh Shasa .
"Bukannya kau yang minta untuk kau saja yang memberi pelajaran dan kau memintaku untuk diam tak ikut campur." ucap Vaiz mengingatkan .
"iya aku tahu , lagian kau tidak mungkin akan melukainya untuk efek jeranya . Makanya aku memilih untuk bertindak." Jelas Shasa .
"sayang aku laki laki tidak mungkin aku memukul wanita. Aku tidak mungkin membuat wanita merasa kesakitan karnaku ." .
"tapi kau membuatku merasakan sakit hingga lama ." protes Shasa berdiri disamping suaminya .
"kapan?" tanya Vaiz yang terlihat bingung.
"saat dulu , saat kau membuka segel pabriku " ucap Shasa asal membuat Vaiz melotot.
"setelahnya kau menikamtinya bukan?"
"entahlah aku lupa." ucap Shasa tertawa terbahak.
__ADS_1
Vaiz melotot tak percaya dengan istrinya , seolah istrinya tak merasa khawatir karna baru saja menghajar kedua wanita tersebut. Ia hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.