Mengejar Cinta Wanita Biasa

Mengejar Cinta Wanita Biasa
Bab 176


__ADS_3

Setiap hari Vaiz menemani istrinya, ia juga tak beranjak meninggalkan ruang rawat istrinya. Bahkan untuk mengisi perut pun ia enggan. Dino selalu berusaha membujuk sang tuan untuk makan dan minum,ia juga sudah tidak pergi ke kantor miliknya . Hidupnya kacau , Vaiz hanya memvideo call putrinya.


"tuan." panggil Dino .


"ada apa? pergilah aku akan mengelap tubuh istriku." ucap Vaiz dengan tatapan kosong.


"tuan,bukannya saya lancang ,bukan niat hati menceramahi anda. Tapi saya minta kantor dan putri anda butuh anda tuan." jelas Dino.


"istriku juga butuh diriku, kantor ada kau."


"nona kecil? dia butuh orang tuanya tuan." tutur Dino.


"ada bapak dan ibu. Kau pergilah jangan menceramahiku ." ucap Vaiz geram.


Dengan terpaksa Dino berjalan keluar ruangan sesekali menggaruk pelipisnya.


Sementara Vaiz,sudah mulai perlahan mengelap tubuh istrinya. Wajah sendunya menatap wajah istrinya yang pucat dan masih betah memejamkan mata.


"hei,bangun. Apa kau tidak rindu dengan suami dan putrimu." ucap Vaiz .


"kau tahu sayang,dengan terus menutup mata seperti ini kau membuatku takut. Aku seperti merasa kau menjauh dariku,aku seperti merasa memiliki kesalahan besar hingga kau marah dan enggan menatapku. Sayang, apa kau tidak mendengar keluhanku disetiap harinya dan jika kau mendengar apa kau tidak berniat untuk bangun?" ucap Vaiz .


"aku sudah rapuh,melihatmu terbaring disini membuatku semakin rapuh. Kau yang selalu menguatkanku kau yang selalu mejadi pelipurku. Aku kosong tanpamu." Tangis Vaiz tak tertahan kepalanya tertunduk pada tubuh istrinya. Dan entah air mata keberapa Vaiz pun sudah tak menghitungnya. Di kesendiriannya ,Vaiz selalu menumpahkan tangis dan emosinya.

__ADS_1


Selang beberapa menit ia mendengar ketukan pintu,di hapusnya air matanya dan dirapikannya bajunya yang sangat kucel.


"permisi tuan,saya akan memeriksa keadaan nyonya." dokter tersebut melihat raut wajah Vaiz. Setelah diangguki oleh Vaiz dokter mulai memeriksa Shasa perlahan.


"nyonya,lihatlah kau beruntung memiliki suami yang sangat mencintaimu." batin dokter yang menangani Shasa.


Saat pemeriksaan rutin Vaiz menuju kamar mandi. Ia kembali saat dokter hampir selesai memeriksa istrinya.


"sudah selesai?" tanya Vaiz.


"sudah tuan," ucap dokter ragu.


"kapan istriku sadar?"


"tuan."


"baik tuan,saya permisi." dokter tersebut undur diri di ikuti oleh perawat.


Di luar ruang rawat,dokter Ardi yang menangani Shasa memikirkan ucapan Pervaiz Taban. Sesekali ia menghela nafas kasar.


"dokter,kok tuan Vaiz tega ya ngomong gitu ke dokter." ucap perawat .


"hussss,jangan bilang seperti itu."

__ADS_1


"tapikan dok,kan gak pantes tuan Vaiz merendahkan dokter seperti itu.


" sekarang aku tanya,apa profesimu sekarang?" tanya dokter Ardi.


"perawat dok." jawab perawat.


"apa tugas pewarat ?"


"bertugas membantu menangani pasien."


"bukan ghibah kan? maka dari itu jangan ghibah fokus saja pada pekerajaan mu bukan ghibahmu saja yang kau unggulkan." jelas dokter Ardi kepada perawatnya.


"tapikan dok."


"saya mau masuk ke ruangan saya." jelas dokter tersebut.


"hihh, dokter nih aku kan ngomongnya sesuai kenyataan." gerutu perawat tersebut.


"lagian lu sih,jangan ghibah . Dokter lo ajak ghibah ya pasti gak mau coba ibu ibu komplek rumah lo yang lo ajak ghibah pasti tuh udah pada nanggepin semua." ledek perawat yang lain.


"gue ngomong sesuai kenyataan,"


"jangan pernah ngomongin tuan Vaiz kalau lu masih sayang sama pekerjaan lu,udah ahh gue mau periksa ruangan lain." perawat tersebut meninggalkan temannya yang masih saja ngedumel tak karuan.

__ADS_1


__ADS_2