
"bagaimana kabarmu Vaiz ." ucap Julie degan menyentuh tangan Vaiz .
"aku baik , kamu?" Vaiz menarik tangannya .sesekali melirik istrinya uang terlihat kesal .
"o iya nak Vaiz , aku berterimakasih padamu karnamu perusahaanku semakin maju . Dan kedepannya perusahaanku akan diteruskan oleh Julie anakku jadi kalian akan sering bertemu nantinya ."
"oh iya , selamat Julie semoga kita akan menjadi rekan kerja yang baik ."
"sama sama Vaiz ."
"aku sudah memesan menu kesukaanmu Vaiz ," lanjut Julie sambil melirik Shasa .
"aku ke toilet ." pamit Shasa berlalu pergi tanpa persetujuan suaminya .
"maaf nak Vaiz siapa wanita barusan?" tanya Tuan Surya .
"Dia istriku tuan , kami menikah 2 bulanan lebih ." jelas Vaiz .
"ohhh . baiklah mari kita makan ." ajak tuan Surya yang terlihat kecewa saat mendengar pernyatan Vaiz .
"tenang dad, aku akan mengurus semuanya ." bisik julie lirih .
"maaf aku ke toilet dulu ." ucap Julie . Di ruang VIP tersebut tinggal Vaiz dan Tuan Suryo . Sementara Julie pergi ke toilet. Di dalam tolet Shasa sedang berdiri di depan watafel . Ia terlihat sedang marah .
"hai nyonya Taban? kau tidak ingin kembali ?" ucap Julie yang baru saja masuk .
"kenap kau kesini?" tanya Shasa .
__ADS_1
"bertemu dengan gadis miskin yang menjadi kaya karna menikah dengan CEO," jelas Julie .
"apa kau keberatab jika orang yang kau cintai memilih diriku gadis miskin ini ?" tanya Shasa yang terlihat berapi api .
"ahhh tidak ,hanya saja aku kasihan padanya harus memungut dan membantu gadis miskin sepertimu ."
"apa maumu ?" teriak Shasa .
"mauku lepaskan Vaiz biarkan dia bersamaku ." ucap Julie santai .
plakkk .
Tamparan keras yang mendarat pada pipi mulus Julie dan terlihat merah bekas jari .
"kau ." pekik Julie.
"aku akan membunuhmu . Suamiku bukan barang yang bisa ku berikan padamu semudahnya ." teriak Shasa .
"dasar wanita licik , aku akan membunuhmu ." Shasa menarik rambut Julie , lalu memukuli dengan kasar . Julie pun juga membalas Shasa dengan menjambak rambut panjang milik Shasa .
"kau selalu menganggap remeh gadis biasa bukan? akan aku buktikan bahwa gadis biasa ini menjadi istrimewa ." ucap Shasa berapi api .
Shasa meninju pipi Julie hingga julie tersungkur menatap wastafel, lalu menarik rambutnya dan kembali meninju dengan bogeman miliknya hingga terjatuh . Julie yang tak mampu membalas hanya berteriak minta tolong, sementara Shasa seperti kesetanan . Saat Julie tersungkur dengan tengkurap Shasa menduduki tubuh Julie lalu ia kembali menjambak rambut halus Julie .
"kau lemah sekali wanita licik , aku memberimu pelajaran sedikit tapi kau sudah lemas . Dimana kau yang tadi sok sekali dengan mulut amis mu itu ? hah?"
"Shasa lepas ,tolonnnng ." teriak Julie yang tak tahan karna tubuhnya tertindih Shasa .
__ADS_1
"enak saja , kau yang memulai dan aku yang akan mengakhiri ."
"kau gila Sa, apa kau tidak takut jika aku melaporkanmu kepolisi?" ucap julie sedikit membrontak .
"untuk apa takut . Aku tidak peduli ."
Pintu toilet terbuka , terlihat Vaiz dan Tuan Surya yang terkejut .
"Shasa, lepaskan Julie ,kau menyakitinya dan akan membuatnya mati ." teriak Vaiz . Shasa kembali menjabak dengan brutal .
"Vaiz tolong aku ." ucap Julie mangis .
"Sa ." Vaiz menyerat istrinya , semntara Tuan Surya membantu Julie bangun .
"kau keterlaluan Sa ," Vaiz terlihat marah .
"pulang, aku akan meminta Pak Damar menjemputmu sementara aku akan menemani Julie kerumah sakit karna ulahmu ." Shasa diam tertunduk .
"aku tidak mau pulang, aku ikut bersamamu ." tolak Shasa .
"pulang Sa. aku bilang pulang kau membuat malu suamimu lihat banyak orang melihat ulahmu ." teriak Vaiz . Julie yang berdiri dengan memeluk Tuan Surya kini merasa menang .
"baiklah aku akan pulang ." Shasa berlalu pergi . Saat di depan Julie ia menginjak kaki julie dengan sepatu hak tingginya . Lalu Vaiz mengantar Julie ke rumah sakit dengan mobilnya dan di belakang mobil milik Tuan Surya .
Shasa melihat Vaiz menggendong Julie terlihat kesal . Ia mengepalkan tangannya .
dasar wanita mulut amis , batin Shasa .
__ADS_1
"hah setidaknya aku lega , tanganku yang sedari tadi gatal kini sudah sembuh ." gerutu Shasa .
Shasa tidak menunggu sopir yang biasanya mengantar . Ia berjalan menyusuri trotoar tidak peduli dengan wajah berantakannya .