
Sore hari sepasang suami istri menggandeng putrinya keluar dari gedung Taban Group. Sesekali Shasa menggoda putrinya membuat sang suami hanya geleng geleng kepala. Keluar dari pintu lift, Vaiz menggedog putrinya dan menggandeng istrinya melewati Lobby kantor.
"Vaiz ." panggil seseorang. Vaiz menoleh begitu juga dengan Shasa menatap nyalang .
"Jessie." ucap Vaiz .
"Vaiz, bagaimana kabarmu." ucap Jessie .
"tante, apa tante kesasar bisa sampai di kantor suamiku." ucap Shasa sinis .
"tidak aku memang ingin menemui Vaiz." terang Jessie.
"ada perlu apa? ayo kita duduk." tunjuk Vaiz berjalan kearah sofa menggandeng tangan Shasa .
"aku hanya ingin bicara denganmu saja." jelas Jessie.
"bicaralah apa yang kau inginkan." ucap Vaiz tanpa basa basi.
"Tap-"
"bicaralah waktuku tidak lama. Putriku sudah lelah." ucap Vaiz menatap putrinya yang tengah terlelap di dada bidang milik Vaiz. Shasa sedari tadi hanya terdiam.
"Vaiz, aku.. aku butuh bantuanmu." ucap Jessie melirik Shasa yang nampak begitu acuh.
"katakan." ucap Vaiz sambil menepuk nepuk pelan punggung putrinya.
"aku butuh bantuan mu untuk memulihkan perusahaan daddyku yang sedang collabs." ujar Jessie lirih. Ia nampak terlihat malu pada Vaiz dan Shasa. Ia terus menunduk enggan untuk melihat wajah keduanya.
"aku akan membantumu tapi setelah itu jangan tampakkan wajahmu pada keluargaku." ucap Vaiz dengan tegas .
"Vaiz ." lirih Jessie.
"kau tinggal memilih jika kau sanggup aku akan menghubungi asisstenku . Jika kau kembali untuk berulah aku tidak segan segan untuk menghancurkan apa yang kau miliki." jelas Vaiz.
Jessie menghela nafas kasar.
"baiklah. Demi perusahaan daddy ku." ucap Jessie.
"good, kembalilah aku akan mengabarimu lagi." Vaiz berdiri menoleh kearah Shasa . Saat Shasa ikut berdiri Vaiz menggandeng Shasa dan berjalan keluar lobby kantorl
Sampai di dalam mobil, Vaiz lansgsung tancap gas untuk kembali pulang.
"apa kau keberatan?" tanya Vaiz menoleh kearah Shasa.
"untuk apa?" tanya Shasa.
"Jessie." ucap Vsiz .
"tidak tapi setelah itu tidak mengganggu kita." ucap Shasa .
"Aku pastikan tidak akan menggagu rumah tangga kita."
"aku percaya padamu." Shasa menggenggam tangan Vaiz .
__ADS_1
Sampai pada halaman rumah, Shasa turun lalu meraih putrinya yang tengah tertidur pada bangku mobil belakang. Namun Vaiz langsung mengambil gendongan tersebut.
"putri kita semakin besar, jangan lagi lagi kau menggendongnya." Shasa tersenyum dan mengangguk.
Vaiz berjalan masuk kerumah, dan Shasa masih mengikuti di belakang . Masuk ke kamar menidurkan putrinya, Sedangkan Shasa masuk kedalam kamar untuk bersih bersih.
Setelah keluar kamar mandi, ia melihat Vaiz duduk sambil memandangi ponselnya. Shasa masuk ke walk in closet untuk mengganti pakaian. Kembali lagi ia tak mendapati suaminya namun terdengar suara gemercik dari kamar mandi .
Shasa pun duduk di depan cermin untuk memakai skin care. Tak berapa lama Vaiz keluar.
"mau di masakin apa yang?" tanya Shasa.
"gak usah biar aku saja yang masak. Sudah lama aku tidak memasakkan untukmu."
"beneran?" tanya Shasa dengan wajah berbinar .
"iya, tunggu aku ganti baju dulu." Shasa mengangguk kembali mengenakan Skin care miliknya.
10 menit menunggu, Vaiz keluar dari walk in closet menghampiri istrinya dan mengajak untuk kedapur. Sampai di dapur Vaiz meminta semua pelayan untuk pergi meninggalkan dapur. Dan saat ini tinggal Vaiz dan Shasa, Vaiz pun mengeluarkan bahan untuk memasak sementara Shasa hanya menemani memeluk Viaz dari belakang. Sesekali ia bersenda gurau kadang terdengar gelak tawa Shasa.
"harus lezat pak koki." ucap Shasa.
"siap nyonya, ada lagi?" tanya Vaiz tersenyum.
"ada, kamu belum menciumku." ucap Shasa.
Vaiz pun menoleh kearah Shasa dan langsung mengecup bibir Shasa. Shasa tersenyum sumringah. Vaiz kembali Fokus ke bahan bahan sementara Shasa asik memeluk suaminya dengan erat.
"aaaauuuuuuwwwww." teriak Shasa.
"sayang, bokongku di gigit." keluh Shasa meringis sambil mengusap pantat nya. Vaiz membulatkan matanya menahan tawa.
"sayangggg, jangan gigit ibu." tutur Vaiz sambil jongkok mensejajarkan tinggi putrinya.
"ayah, ibu selalu mengambil ayah dariku." ucap Ayu dengan polos nya.
"tidak sayang, tidak ada yang mengambil ayah dari putri ayah. Dan Ayu tidak boleh begitu itu tidak baik." tutur Vaiz .
"maaf ayah." lirih Ayu sambil menunduk.
"bukan minta maaf pada ayah, tapi pada ibu." ucap Vaiz mendongak menatap Shasa.
"tidak mau." ucap Ayu mencelos.
"nurut, atau ayah pergi sama ibu. Ayu di rumah saja sendiri." tegas Vaiz .
Shasa hanya diam tak mau membela putrinya . Jika dia membela maka putrinya tidak akan takut dengan siapapun.
"baiklah ibu, ayo kita jalan jalan." ucap Vaiz.
"ayo."
"tidak ayah, jangan tinggal Ayu." ucap Ayu.
__ADS_1
"minta maaf pada ibu."
"ibu maafin Ayu." ucap Ayu pada Shasa dengan suara bergetar menahan tangis .
"iya sayang janji tidak mengulangi? ibu ayah sayang Ayu ." ucap Shasa.
"iya janji ibu."
Vaiz tersenyum , menatap kedua anak dan ibu .
"peluk ibu." ucap Vaiz tegas. Dengan bibir bergetar Ayu maju dan memeluk ibunya.
"huaaaaa ibu."
"cup cup cup sayang, jangan menangis. Dan jangan ulangi lagi."
"huaaaaaaa." Ayu menangis keras Shasa pun menggendong.
"ibu jangan di gendong." ucap Vaiz .
"huaaaa ibu gendong." tangis Ayu.
"sebentar ayah." Shasa menggendong Ayu lalu mendudukkan di meja pantry .
Vaiz diam melihat gerak Shasa. Ia lalu kembali memasak di temani Shasa dan Ayu yang masih sesenggukan.
"kau ingin makan apa sayang?" tanya Shasa pelan.
"mie ." ucap Ayu lirih.
"oke,ayah ayu ingin spaggethi tolong ayah buatkan bisa?" tanya Shasa. Ayu duduk dengan memeluk erat Shasa.
"oke ayah buatkan yang lezat untuk putri cantik ayah." mata Ayu langsung berbinar, ia menoleh pada Vaiz namun kembali memeluk ibunya. Shasa dan Vaiz hanya tersenyum melihat tingkah bocah menggemaskan itu.
Setengah jam menunggu, masakan Vaiz selesai. Ia membuatkan spaggethi carbonara untuk istri dan putrinya . Ayu duduk di samping ibunya namun enggan untuk melihat sang ayah.
"putriku sangat marah." lirih Vaiz .
"sebentar lagi dia akan luluh." ucap Shasa mengerlingkan sebelah matanya .
"sayang, mau di suapi ayah?" tanya Vaiz . Ayu nampak diam tak menjawab.
"baiklah, ibu saja yang ayah suapi." ucap Shasa melirik putrinya.
"tidak, aku ingin di suapi ayah." ucap Ayu lirih.
"ibu boleh aku di suapi ayah?" lanjut Ayu lagi.
"boleh sayang, ayah tolong suapi Ayu."
"oke."
Vaiz pun duduk di samping putrinya dan menyuapi makan putrinya, Shasa hanya menggeleng kecil tersenyum melihat tingkah manja Ayu pada Vaiz .
__ADS_1
"dia mirip sekali denganmu." lirih Vaiz . Membuat Shasa tersipu malu. Mereka bertiga pun makan malam bersama . Dengan keluarga kecil dan celotehan kecil Ayu. Keluarga Taban nampak selalu bahagia dan harmonis .