
Kessokan hari, Setelah suami dan putrinya berangkat. Naya tengah duduk di ruang tengah sambil mengunyah makanan. Ia juga membolak balikkan tabloid yang tengah di pangkunya.
"nyonya." panggil Hilma, pelayan keluarga Taban.
"iya mbak ada apa?"
"maaf di depan ada non Jessie memaksa masuk mencari nyonya." ucap Hilma.
"suruh masuk saja mbak." perintah Shasa.
"tapi.."
"gak papa, kemarin udah ketemu sama suami juga. Mungkin ada perlu sebentar."
"baik Nyonya."
Tak berselang lama, Hilma kembali menemui Shasa memberi tahu jika Jessie sudah menunggu di ruang tamu. Shasa mengangguk dan langsung menemui Jessis.
"tan." panggil Shasa. Jessie menoleh dan langsung berdiri.
"duduk saja tan." titah Shasa. Jessie pun menurut.
"maaf tan, suamiku sudah berangkat mungkin tante langsung saja ke kantornya jika perlu."
"aku perlu denganmu." ucap Jessie .
"denganku?" Shasa kembali bertanya.
"ya."
"ada apa tan?"
Jessie menghela nafas nampak ragu untuk berbicara.
"katakan saja tan, tidak perlu sungkan." ucap Shasa.
"mungkin kau berfikir aku tidak punya malu datang kesini setelah dulu aku pernah berbuat onar dengan mommyku." ucap Jessie mendunduk.
"tidak, aku tidak sejahat itu tan. Maafkan aku karena aku pernah menghajarmu, tapi kau tau tan aku sangat mencintai keluargaku. Dan kau juga tau seperti apa aku mempertahankan ruamh tanggaku." jelas Shasa.
"aku yang seharusnya minta maaf padamu. Jelas jelas aku tau Vaiz sudah beristri dan di tambah kau baru melahirkan putri darinya. Tapi aku datang untuk menggangu kalian."
"sudahlah, aku sudah melupakannya. Dan apa tante datang hanya untuk membicarakan kejadian di masa lampau tentu tidak bukan?" tanya Shasa dengan menohok.
Jessie kembali menunduk dan menahan malu. Demi perusahaan daddy nya dia harus menurunkan harga dirinya di depan Shasa.
"maaf, jujur iya. Aku disini meminta bantuanmu untuk berbicara pada Vaiz agar ia berkenan membantuku. Aku tidak tau harus kemana, aku butuh suntikan dana demi perusahaan daddyku." jelas Jessie.
"bukankah tante sudah bicara pada suamiku. Dan tante tau apa yang di katakan suamiku. Semua tergantung tante." lagi lagi ucapan Shasa membuat Jessie tersindir.
"aku hanya takut jika Vaiz tidak benar membantuku karena ulah ku dan mommyku."
"tidak perlu khawatir tan, suamiku masih punya akhlak. Dia tidak jahat seperti yang kau kira, aku akan memastikan jika suamiku akan memberi suntikan dana padamu asal masalah ini tidak kau jadikan alasan untuk mendekati suamiku lagi. Sebenarnya aku tidak takut karena aku yakin suamiki tidak akan tergoda, tapi setidaknya aku bertindak untuk sesuatu yang tidak akan ku sangka." ucap Shasa .
Jessie yang merasa ucapan Shasa pedas, hanya menanggapi dengan senyuman. Ia tak ingin melawan karena saat ini ia membutuhkan Vaiz dan Shasa jika ia membuat masalah di pastikan ia tidak akan terbantu.
"terima kasih atas bantuan mu. Aku permisi dan maaf kan sikapku." ucap Jessie.
"kau akan pergi lebih cepat tan? kau tidak ingin meminum dulu?" tanya Shasa berbasa basi.
"tidak, aku masih ada urusan." ucap Jessie.
"baiklah." mereka berjabat tangan . Dan tanpa banyak basa basi Jessie pergi, sementara Shasa menatap kepergian Jessie dengan geleng geleng kepala.
Shasa kembali ke kamarnya, ia meraih ponsel miliknya untuk memberitahukan kedatangan Jessie pada suaminya.
"tidak, tidak baik bicara masalah ini lewat ponsel. Lebih baik nanti saja." Shasa kembali meletakkan ponselnya di atas nakas . Lalu ia memilih berbaring karena akhir akhir ini ia merasa tubunnya lemas .
Tak terasa waktu menjemput putrinya, Shasa meminta Cristin untuk menjemput Ayu. Ia merasa pusing dan tidak kuat untuk bangun. Shasa kembali tidur agar pening di kepalanya cepat reda.
__ADS_1
Ayu gadis yang pintar, sepulang dari sekolhnya ia di beritahu Cristin jika ibunya sakit, ia langsung melihat ibunya, saat melihat ibunya tidur Ayu tidak ingin membangunkan.
Sore hari, Ayu mendengar deru mobil ayahnya. Ia berlari dengan langkah kecil. Ia menemui Ayahnya.
"ayaaahhhh." teriak Ayu.
"putri ayah." sapa Vaiz. Vaiz menggedong putrinya dan menghujani dengan ciuaman.
"ibu tidur, sakit ayah." ucap Ayu.
"ibu sakit?" Ayu mengangguk.
"baik, boleh ayah melihat ibu? kamu dengan mbak Cristin dulu ya." Ayu mengangguk menurut dengan ucapan ayahnya tanpa berargumen.
Vaiz menaiki tangga menuju kamarnya, memutar handle pintu lalu membukanya. Netranya menatap istrinya yang tengah bergelung di bawah selimut.
"sayang, panggil Vaiz dengan mengusap punggung istrinya."
"hmmm." gumam Shasa.
"kau sakit?" tanya Vaiz.
"pusing saja, peluk." ucap Shasa manja.
"aku baru datang sayang, belum bersih bersih." jelas Vaiz .
"tidak apa, aku ingin kau peluk sekarag."
Vaiz mengalah merebahkan tubuhnya di samping istrinya, Shasa langsung memeluk suaminya dan mengendus tubuh suaminya.
"sayang aku masih bau." ucap Vaiz
"tidak kau sangat wangi." Vaiz mengerutkan keningnya mendegar jawaban istrinya. Ia tau betul istrinya . Jika dirinya tidak langung mandi setelah pulang dari kantor, maka di pastikan Shasa akan mengomel sepanjang hari.
"kau sudah makan?" tanya Vaiz .
"sudah."
"sudah, tadi makan denganku." ucap Shasa sambil tidak henti hentinya mengendus suaminya.
"sayang, kau sangat wangi." ucap Shasa. Aku suka bau keringatmu.
"sayang kau kenapa?"
"apanya"
"kau tidak seperti biasanya." jelas Vaiz.
"aku tidak apa apa." ucap Shasa tetap memeluk suaminya.
"aku harus mandi sayang."
"oke mandilah, tapi janji jangan pakai perfum." ucap Shasa.
"iya." karena sangat risih dengan pakaian kotor yang masih melekat Vaiz pun langsung menuju kamar mandi.
Ia berendam sebentar, untuk merileks kan tubuhnya. Setelah rileks, Vaiz segera menyelesaikan mandinya.
Keluar kamar mandi, padangan Vaiz menatap kearah ranjang yang kosong. Istrinya tidak ada di tempat.
"kemana dia?" gumamnya.
"sayaang." panggil Vaiz dengan suara keras . Namun tak ada jawaaban dari Shasa.
Ia langsung mengenakan baju yang di siapkan istrinya. Setelahna Vaiz keluar kamar mencari istrinya, ia mengecek ke kamar Ayu. Namun yang terlihat Ayu sedang memakai baju di bantu Cristin pelayan rrumahnya
"nak, dimana ibu?" tanya Vaiz pada putrinya .
"memasak ayah." ucap Ayu .
__ADS_1
Vaiz pergi menuruni anak tangga menuju dapur. Ia melihat istrinya memasak sambil bersenandung membuat dirinya heran.
"sayang, katamu pusing." ucap Vaiz.
"sudah sembuh sayang."
"secepat itu?"
"Iya, bau badanmu obat pusingku." ucap Shasa sambil fokus pada masakannya.
"sangat tidak masuk akal." ucap Vaiz.
"memang itu kenyataannya."
Vaiz menggedikkan bahu nya, ia menemani istrinya memasak. Nampak Shasa terlihat tidak apa apa dan tidak pucat seperti tadi.
"kenapa menatapku?" tany Shasa.
"aku menatap istriku, apa ada larangan?" ucap Vaiz.
Shasa hanya tertawa renyah saat mendapati suaminya terlihat kesal dengan tingkahnya
"oke oke, memang aku akui aku memang sedap di pandang." goda Shasa dengan nada bicara menggoda.
"ohh ayolah sayang, fokus dengan memasakmu jangan terus menggodaku." keluh Vaiz . Shasa hanya terkekeh menakmati kekesalan suaminya . Ia pun melajutkan memasaknya begitu juga Vaiz melanjutkan menikmati kecantikan istrinya.
Selesai memasak, Naya menghidangkan makanannya di depan suaminya.
"Jessie tadi datang." ucap Shasa menjeda kembali ucapannya.
"mau apa dia? apa dia ribut denganmu?" tanya Vaiz dengan sorot mata menajam.
"tidak, Dia meminta maaf padaku. Dan memintaku agar kau mau membantu perusahaan daddynya." jelas Shasa dengan singkat.
"huhh, dia meragukanku. Apa kau keberatan jika aku membantunya."
"ya keberatan jika kau mengurusnya sendiri. Aku tau meski 5 tahun dia menghilang dan kembali dia masih menyimpan rasa padamu."
"itu tidak akan terjadi. Aku akan meminta Dino dan Rahma untuk mengurus semuanya aku tidak akan turun tangan untuk masalah Jessie." Jelas Vaiz dengan gamblang. Mendemgar hal itu Shasa tersenyum mengangguk.
"ibuuuu ayah." teriak Ayu setelah pembicaraan keduanya selesai.
"putri ibu, sini kau lapar lagi?"
"tidak." ucap Ayu berjalan menuju kedua orang tuanya.
"mau ini nak?" tanya Vaiz menunjukkan makanan di piringnya.
"apa itu ayah?" tanya Ayu yang tengah duduk di pangku Shasa.
"bistik ayam sayang, kau mau?" tanya Ayu sambil mengelus rambut putrinya.
"tidak, ibu?" tanya Ayu pelan.
"yess darling."
"boleh aku makan sedikit coklat?" tanya Ayu pelan.
"tidak sayang, bukankah kemarin dengan Miss. Rena kau sudah di beri coklat. Lalu di mana coklatnya?" tanya Vaiz dengan lembut.
"sudah Ayu makan Ayah." jelas Ayu.
"nah, bukankah ayah dan ibu bilang jika makan coklatnya weekand saja." Ayu mengangguk.
"maka saat ini Ayu tidak boleh makan coklat, mengerti nak?" tanya Shasa di angguki Ayu.
"minta yang lain saja, selain coklat ya sayang." timpal Vaiz .
"kalau begitu Ayu ingin adik bayi." ucapan Ayu membuat Shasa dan Vaiz tercengang. Shasa membola sementara Vaiz langsung tersenyum menggoda istrinya.
__ADS_1
"kode yankkk." bisik Vaiz di telinga istrinya.
Pantengin terus extra partnya ya kak.. jangan lupa like, vote dan gift jika berkenan.. terima kasih.. ☺