Mengejar Cinta Wanita Biasa

Mengejar Cinta Wanita Biasa
Extra Part 14


__ADS_3

Detik detik kelahiran sudah di depan mata, saat ini Shasa sedang berjuang di temani oleh sang suami. Meringis meng ejan, juga meremas tangan suaminya. Vaiz tidak pernah mengeluh dengan sakit terkena cakaran istrinya, Ia selalu berusaha untuk menguatkan istrinya.


"akkkkhhhhhhh." teriak Shasa dengan kencang sembari mencakar lengan suaminya.


"sedikit lagi Sa, sudah kelihatan kepalanya." ucap dokter Thalita. Shasa kembali mengatur nafas dan menahan rasa sakit yang luar biasa, tak lepas juga genggaman tangan suaminya.


"akhhhhhhhh." teriakan kecil terakhir kali nya untuk mendorong si jabang bayi agar segera keluar. Tangis bayi terdengar nyaring memekakkan telinga seluruh ruang persalinan. Hingga membuat Shasa dan Vaiz menitikkan air mata bahagia.


Salah satu dokter mengambil bayi Shasa yang baru lahir untuk di bersihkan. Dokterpun juga menimbang berat badan, tinggi badan dan memriksa anggota tubuh.


"lengkap ya tuan." ujar sang dokter. Vaiz mengangguk tersenyum.


Setelah selesai mencatat, dokter memberikan bayi tersebut pada sang ayah untuk di adzani pada telinga sebelah kanan dan iqomah sebelah kiri.


"laki laki sayang." ucap Vaiz menatap istrinya. Shasa kembali menitikkan air mata. Sangat bahagia, apa yang selama ini menjadi doa untuknya.


Saat ini Shasa tengah memberikan IMD( inisisasi menyusu dini) untuk pertama kali bayi menyusu. Vaiz menatap bayi mungil tersebut.


"terima kasih." bisik Vaiz pada istrinya sambil mencium kening Shasa.


Dokter Thalita menatap sepasang suami istri tersebut penuh haru. Ia juga ikut merasakan kebahagian berlipat ganda.


"Sha selamat atas kelahiran bayi keduamu. Dia sangat tampan." ujar dokter Thalita masih betah menatap si mungil yang nyaman berada di atas tubuh ibunya.


"terima kasih dokter. Kebahagian kami tak luput dari perjuanganmu." ujar Shasa.


"kau yang berjuang aku hanya membantu." ujarnya lagi.


"sekali lagi terima kasih dokter." Shasa lagi lagi tersenyum. Dokter Thalita mengangguk tersenyum. Saat akan undur diri, suara bariton milik Vaiz meghentikan langkah dokter Thalita.


"kau tidak ingin mengucapkan selamat pada temanmu Thalita?"


"tidak, kau belum memberiku hadiah." ucap dokter Thalita.


"setelah istriku pindah di kamar VVIP aku akan memberiknanmu hadiah." ucap Vaiz.


"oke maka akan ku ucapkan nanti, Iz." dokter Thalita keluar ruangan.


"ckkk, dasar." gerutu Vaiz .


"sayang. Makanya jangan sering menggoda dokter Thalita." tutur Shasa. Vaiz hanya tersenyum.


Sementara di laur ruangan, Ibu Nur bertemu dengan dokter Thalita.


"dokter." panggil ibu Nur.


"bayi nya sehat, lengkap Bu. Dia laki laki dan sangat tampan." ujar dokter Thalita.


"sebentar lagi akan di pindahkan di ruang VVIP setelah itu ibu dan bapak bisa menjenguknya." imbuhnya lagi.


"baik dok terima Kasih."

__ADS_1


Beberapa saat, Shasa dan bayinya mulai di pindahkan di ruang VVIP. Saat ini mereka sedang beristirahat dengan di temani sang suami. Bu Nur dan Pak Yono melihat putri dan cucu laki lakinya.


"Masyaallah, tampan luar biasa." ujar Bu Nur.


"semoga menjadi anak yang Sholeh, cerdas, baik, sayang semuanya, rendah hati dan baik." ujar Pak Yono. Di amini oleh Vaiz dan Bu Nur.


"Selamat ya nak." ujar Bu Nur


"terimakasih bu. O iya bu di rumah Ayu hanya dengan pelayan. Bisa ibu dan bapak temani semalam saja? saya takut jika mereka kewalahan dengan pertanyaan Ayu yang mencari kami." ujar Vaiz.


"memang Ayu belum di kasih tau jika ibunya melahirkan?"


"belum pak, takut nanti rewel minta kesini." tutur Vaiz.


"oooo begitu, ya sudah.Bapak sama ibu tak pulang jagain Ayu."


"iya pak, terima kasih. Maaf merepotkan." ucap Vaiz.


"endak, ndak ada yang merepotkan. Ya sudah kami pergi ya nak. Assalamuallaikum." pamit pak Yono dan Bu Nur.


Setelah kepergian mertuanya, Vaiz ikut istirahat di dalam kamar. Ia merebahkan tubuhnya di sofa ruangan istrinya. Samar samar telinganya mendengar suarai istrinya.


"lihat sayang, ayahmu sangat lelah menemani kita hari ini. Patutnya kita berterima kasih bukan." ucap Shasa pada putranya yang sedang menikmati Asi .


"kau itu sangat tampan seperti ayahmu." ujar Shasa lagi.


"sayang." panggil Vaiz .


Vaiz berjalan menghampiri istri dan putra tercintanya.


"tidak." ucap Vaiz menatap sang buah hati lalu mencium keningnya.


"terima kasih sayang, kau hadirkan putra kedua untukku. Aku janji tidak akan memintanya lagi darimu. Sudah cukup 1 putri dan 1 putra." jelas Vaiz.


"kenapa begitu? selagi aku mampu aku mau untuk yang ke tiga." ujar Shasa tersenyum .


"tidak, aku tidak sanggup melihatmu menahan sakit lagi. Aku merasa kelahiran putra kita sangat membuatmu sakit." jelas Vaiz .


"tidak masalah sayang, toh rasa sakitku tergantikan saat menatapnya pertama kali." ujar Shasa.


"aku mencintaimu sayang, sangat sangat mencintaimu." ujar Vaiz .


"aku pun mencintaimu. Terima kasih karena juga ikut merasa sakit karean cakaran tanganku." ucap Shasa dengan tertawa. Vaiz pun juga ikut tertawa.


Tok tok tok.


Vaiz dan Shasa menoleh pada asal suara.


"dokter." sapa Shasa.


"nyaman istirahatnya Sa?" tanya dokter Thalita.

__ADS_1


"alhamdulillah dokter."


"baik, ijin memeriksa mu ya Sha, jiks tidak nanti suamimu akan mengomeli ku." ledek dokter Thalita.


"jelas saja aku membayarmu dengan mahal. Enak saja kau makan gaji buta." ujar Vaiz membuat dokter Thalita jengah.


Dengan tlaten dokter Thalita memeriksa Shasa. Sesekali mereka bercanda.


"sebenarnya besok sore kamu sudah boleh pulang Sha. Tapi setelah kamu bisa berjalan normal" ujar dokter Thalita.


"tidak, istriku akan menginap disini beberapa hari. Aku tidak ingin mengambil resiko." ujar Vaiz.


"sayang, jika aku bisa berjalan sendiri dengan normal kenapa harus lama lama." tutur Shasa.


"baik, aku akan menarik hadiahmu, Tha." ancam Vaiz . Dokter Thalita membola.


"baiklah Sa, setidaknya bantu agar hadiahku sampai di tanganku. Lebih baik kau menginap beberapa hari saja." ujar dokter Thalita memelas membuat Shasa menahan tawa. Sedangkan Vaiz tersenyum licik.


Beberapa menit, ponsel dokter Thalita berdering menampilkan tulisan husband pada suaminya.


"ya sayang."


"................."


"apa? baiklah. Aku tutup terlponnya." ujar dokter Thalita.


Ia pun mengotak atik ponselnya dan matanya langsung membola.


"Vaiz lu bener ngasih ini?" tanya dokter Thalita.


"hmmm sebagai hadiah karena lu ngebantu istri gua persalinan." ujar Vaiz.


"tapi Iz, ini mahal loh sumpah."


"lo meragukan kekayaan gua. Dan gue udah transfer ke kartu lo. Tips untuk lo dan dokter tadi jiga lerawat yang ngebantu lo." ujar Vaiz.


"gilaa. . lo emang kaya beneran." ucap dokter Thalita membuat Vaiz berdecih. Dokter Thalita tersenyum dan keluar dari ruangan begitu saja. Sementara Shasa hanyam menggeleng melihat tingkah kedua teman tersebut.


"Sayang." panggil Shasa.


"hmm."


"bagaimana Ayu?" tanya Shasa.


"aku meminta bapak dan Ibu menginap untuk menemainya."


"ohh baiklah, setidaknya aku lega jika ada mereka."


"istirahatlah. Agar segera pulih." tutur Vaiz.


Shasa meletakkan bayinya disampingnya dan ikut tidur bersama bayinya. Sementara Vaiz masih enggan beranjak dari duduknya.

__ADS_1


__ADS_2