
Setiap hari Shasa selalu melakukan jalan pagi. Kadang di temani Vaiz dan putrinya kadang juga ia jalan pagi sendiri. Kandungannya sangat sehat hingga detik ini.
Kadungan Shasa sudah 9 bulan saat ini, tinggal menunggu detik detik ia merasakan dahsyatnya kontraksi. Sebenarnya sudah 2 hari ia merasakan mulas namun kadang timbul kadang hilang. Vaiz mulai melarang Shasa untuk jalan jalan jauh, kadang juga ia memilih diam dirumah, seperti saat ini.
"sudah sarapan?" tanya Shasa saat menemui suaminya di ruang kerja
"sayang, sini." panggil Vaiz pada istrinya.
"sudah sarapan?" tanya Shasa lagi.
"belum, kamu?"
"sudah, kenapa gak sarapan?" tanya Shasa.
"gak enak makan kalau gak masakan kamu." tangan Shasa di tarik oleh Vaiz.
"jangan pangku aku, aku tambah berat." hamil kedua ini membuat Shasa bertambah gemuk. Setiap ia mengeluh Vaiz selalu punya cara tersendiri agar istrinya tidak risau.
"kamu ngremehin aku? seberapa berat kamu, kamu tetap cantik, begini juga itu karena aku." tutur Vaiz .
"bukan karena kamu. Karena kita sama suka dan sama maunya." ucap Shasa terkikik geli.
"yaaa, dan kamu lebih ganas dari aku." goda Vaiz .
"sayang." ucap Shasa malu.
"ayo sarapan, nanti keburu dingin." ucap Vaiz .
"aku sudah sarapan."
"temani aku, kamu tidak masak bukan? setidaknya temani aku sarapan." ujar Vaiz . Shasa pun mengikuti langkah suaminya. Dengan penuh sayang, Vaiz menggandeng istrinya.
"Ayu sudah makan?" tanya Vaiz saat berjalan kearah ruang makan.
"sudah, tadi minta sarapan sama telur aja." jelas Shasa.
"jangan di biasain keseringan makan telur sayang. Nanti anaknya alaergi."
"iya enggak kok."
Sampai di ruang makan, Vaiz menarik kursi untuk istrinya setelah itu ia duduk du kursi miliknya.
"mau makan apa?" tanya Shasa pada suaminya.
"nasi goreng aja ya?" Vaiz mengangguk. Shasa dengan tlaten mengambil 1 centung nasi untuk suaminya. telur dadar dan juga air putih untuk Vaiz . Ia menunggu dengan tlaten , namun tiba tiba ia ingin ke kamar mandi.
"maaf sayang, aku ke kamar mandi dulu ya."
"mau di bantu?" tanya Vaiz .
"enggak usah." tolak Shasa .
Shasa berjalan perlahan meningalkan suaminya, belum sampai di kamar mandi ia berdiri dengan bagian paha sudah basah.
__ADS_1
"sa.. yang." panggil Shasa lirih namun masih di dengar Vaiz.
"astagfirullah, sayang."
"aku .. ngom.. pol." ujar Shasa dengan memegangi perutnya sambil menahan rasa sakit.
Vaiz tersentak saat melihat cairan bening yang mengalir. Dengan sigap Vaiz langsung mengangkat tubuh istrinya. Ia berlari dengan cepat menuju mobil, untung saja pak Damar sedang membersihkan mobil, jadi ia tak perlu berteriak.
"pak, antar aku ke rumah sakit."
"iya tuan." ucap Pak Damar meng iyakan tanpa bertanya lagi.
Sementara Pelayan menatap bingung kedua majikan tersebut.
"minta Cristin dan Hilma jaga Ayu. Nin hubungi mertuaku beri tahu jika istriku akan melahirkan. Nanti pak damar kembali untuk mengambil keperluan lahiran, dan kau siapkan semuanya." ujar Vaiz.
"baik tuan." ujar pelayan Nin.
"pak Damar jalan."
Mobil tersebut pergi meninggalkan halaman rumah besar tersebut. Sementara Nin, menuju keatas untuk memberitahu Hilma dan Cristin.
"Hil, Cris." panggil Nin.
"ya, bu." ucap keduanya
"nyonya kontaksi, kalian jaga nona kecil. Setidaknya untuk hari ini. Jika nona kecil tau jika ibunya melahirkan aku takut dia akan merengek meminta di antar di rumah sakit." ujar Nin berbisik.
"ya, aku akan handle nona kecil." ujar Cristin.
"iya Bu," Hilma langsung berjalan menuju telpun rumah untuk menghubungi orang tua Shasa.
Sementara Nin, ia berjalan masuk ke kamar mengambil tas yang sudah di persiapkan untuk lahiran. Ia tinggal menunggu Pak Damar untuk mengambil tas tersebut.
Sementara di toko milik orang tua Shasa, Bu Nur tengah berdiri dengan terkejut saat orang di rumah Shasa memberi tahukannya.
"ya, saya sama bapak akan segera kesana." ucap Bu Nur.
"pak, bapak." panggil Bu Nur setelah pangilan selesai.
"ada apa bu?"
"anak e mau melahirkan. Sudah kita tutup tokonya. Kita ke rumah sakit." ujar Bu Nur terlihat gupuh.
"rumah sakit mana?" tanya Pak Yono.
"rumah sakit biasanya pak, udah ayo keburu ada yang beli nanti." ujar Bu Nur
Pak Yono dengan segera menutup toko grosir miliknya. Ia langsung bergegas pulang untuk bersih bersih terlebih dahulu. Begitu juga dengan Bu Nur, Ia tak lupa menyiapakan makanan untuk Anggara adik Shasa .Di rasa sudah beres Bu Nur dan Pak Yono berangkat menuju rumah sakit.
"semoga lancar ya pak persalinannya." ujar Bu Nur.
"amin."
__ADS_1
Di dalam mobil Bu Nur membaca ayat suci Al-qur'an untuk putri nya yang tengah berjuang saat ini. Sampai di halaman rumah sakit, Pak Yono memarkirkan mobilnya. Setelah mendapat tempat parkir, keduanya bergegas menuju resceptionis untuk bertanya ruang persalinan. Setelah mendapat informasi, Bu Nur dan Pak Yono langsung menuju ruangan yang di arahkan oleh suster tersebut.
Pada saat melewati lorong rumah sakit, dari kejauhan keduanya melihat Pak Damar sedang duduk di ruang tunggu.
"Pak Damar." panggil Pak Yono.
"Pak." sapa pak Damar dengan sopan.
"dimana menantuku pak?"
"ohhj tuan sedang di dalam, nyonya masih menunggu pembukaan sempurna, Bu." jelas Pak Damar.
"ohhh."
Tak berapa lama dokter keluar dengan suster, Bu Nur bertanya apakah ia bisa masuk kedalam sebentar. Dokter tersebut mempersilahkan Bu Nur untuk masuk menemui Shasa.
"nduk." panggil Bu Nur.
"buk." ringis Shasa.
"ibu baru sampai?" tanya Vaiz mengelus perut Shasa. Tampak terlihat netra Vaiz menahan sedih melihat istrinya lebih kesakitan. Memang ia tidak tahu kontraksinya saat Shasa hamil Ayu, tapi istrinya bilang ini lebih sakit dari yang sebelumnya.
"Iya, nduk seng kuat. Istigfar juga."
"iya buk, insyaallah Shasa kuat. Ibu bantu doa in Shasa ya." ujar Shasa dengan menahan rasa sakit.
"pasti, nak Vaiz sudah pembukaan berapa?" tanya bu Nur.
"tadi dokter bilang 7 bu." ujar Vaiz .
"sebentar lagi berarti."
Shasa sesekali meringis dan menarik nafas. Ia juga kadang minta berdiri dan jalan jalan. Vaiz tetap mengikuti apa yang istrinya minta. Terkadang ia juga minta di peluk.
"sayang, apa sangat sakit?" tanya Vaiz .
"lumayan yank." jelas Shasa dengan masih menampakkan senyuman di bibirnya.
"cukup kali ini saja, aku sudah tidak akan punya minta anak lagi." tutur Vaiz .
"kenapa? aku siap, kesakitanku akan hilang saat aku mendengar tangisannya saat lahir, wajahnya pertama kali , dan pelukannya semua akan hilang. Ini hanya sesaat sayang jangan khawatir." ujar Shasa menenangkan suaminya dengan semburat ringisan.
"bagaimana cintaku akan berkurang jika kau seperti ini. Aku sangat mencintaimu." ujar Vaiz memeluk istrinya.
"aku juga... akhhhhhh... huhhhhhhh.. huhhhhh."
Setelah 1 jam dokter Thalita datang untuk melihat pembukaan Shasa, dan Bu Nur sudah keluar sedari tadi.
"pembukaan sudah sempurna, kalian sudah siap?" tanya dokter Thalita.
Rasa sakit saat ini lebih dahsyat dari apa yang Shasa rasakan. Vaiz sesekali mengusap air mata yang menetas pada ujung mata Shasa.
"maafkan aku sayang." Sesal Vaiz .
__ADS_1
Shasa nampak tersenyum. Ia tidak ingin terlihat kacau di depan suaminya. Sebisa mungkin ia berusaha untuk tetap kuat .