
Di Kantor Taban.
Vaiz tengah duduk di meja kerjanya sambil memandang berkas berkas yang harus di teliti dan tanda tangani. Namun konsentrasinya pecah kala mendengar seseorang membuka pintu tanpa mengetuk.
"kau?" ucap Vaiz yang tengah terkejut menatap tamu yang kini berada di ruangnya.
"iyha aku,kau terkejut Vaiz?"
"sama sekali tidak,untuk apa aku terkejut."
"heh, kau tidak merindukanku?" tanya wanita tersebut.
"apa menurutmu kau sangat berkesan dalam kehidupanku?"
"kau memang tidak pernah tertarik padaku maka dari itu aku juga tidak akan pernah bosan mengejarmu."
"aku tidak perduli." ucap Vaiz acuh pada wanita tersebut.
"sampai kapan kau akan mengabaikanku? sudah lama aku menunggumu? bahkan aku sudah berusaha menghilang tapi kau tetap saja pada keinginanmu." jelas wanita tersebut.
"kau sudah jelas tahu aku sudah memiliki anak dan istri.Tentu kau juga tidak buta bahwa aku mencintainya." jelas Vaiz.
"aku rela menjadi madu, aku rela menjadi istri keduamu." ucap wanita tersebut.
"STOP JESSIE." teriak Vaiz.
"kenapa? kenapa harus berhenti? bukannya kau sedari dulu kau tahu bahwa aku menginginkanmu. Bahkan orang tua kita setuju akan hal itu." terang Jessica.
__ADS_1
"dimana rasa malumu Jessie? kenapa kau kembali lagi." ucap Vaiz geram.
"aku kembali menagih janji mendiang orang tuamu yang berjanji akan menjadikanku pendamping hidupmu. Tapi kau malah memilih wanita sia*an itu, apa yang kau cari darinya?"
"lalu kau sendiri? apa yang kau inginkan dariku?"
"jelas aku menginginkanmu,cintamu,semua yang ada pada dirimu." terang Jessica.
Vaiz berdiri dari duduknya dan berjalan kearah Jessie.
"kau ingin menikah denganku bukan? atur jadwalnya kapan kau ingin menikah denganku. Setelah itu kita akan hidup bahagia. Tinggal di rumah sederhana."
"apa maksudmu?"
"semua aset yang ku miliki sudah ku alihkan atas nama istriku, tak ada sisa sedikitpun untukku. Dan sekarang kau datang meminta diriku,baiklah ayo kita menikah,kita hidup bersama ."
"kenyataanya memang begitu Jess, aku sudah tidak memiliki apa apa." senyum Vaiz tersungging melihat wajah Jessie yang terlihat terkejut.
"apa kau bodoh Vaiz,kau menyerahkan perusahaan mendiang papamu,Kau mengalihkan semuanya pada istrimu bodohmu.Apa kau memang di guna guna Vaiz." teriak Jessie.
"lalu apa hakmu mengatur hidupku,dia istriku dan semua aset itu milikku. Aku punya hak segalanya,Aku punya hak untuk kuberikan pada siapapun." ucap Vaiz tak kalah berteriak.
" kau bodoh Vaiz." Jessie mendorong tubuh Vaiz dan berlari keluar.
Vaiz menatap kepergian Jessie sambil memijat pelipisnya. Kepaanya berdenyut saat Jessie mendatangi kantornya.Setelah menghilang berminggu minggu ia malah kembali dengan membawa masalah.
Di Kediaman Vaiz.
__ADS_1
Shasa tengah duduk bersantai diteras rumahnys sambil menemani bayinya yang sedang berada di stroller. Saat asik menggoda putrinya,ia mendengar teriakan dari luar gerbang. Ia menoleh kearah gerbang dan langsung membulatkan matanya.
"tante Jess." gumam Shasa.
Ia berjalan menuju gerbang dan memerintahkan seorang satpam untuk membuka gerbang .
"tante ." sapa Shasa .
"kau bahagia Sa?"
"aku memang bahagia dan selalu bahagia tan." ucap Shasa sambil menggendong putrinya.
"kau tahu Sa? perusahaan milik Vaiz adalah peninggalan mendiang papanya.Lalu dengan mudah kau meminta untuk mengalihkan menjadi atas namamu? kau sangat sukses." ucap Jessie.
"apa maksud tante?" Shasa mencoba mencerna setiap ucapannya.
"kau pura pura bo*oh atau memang bo*oh."
" aku tidak mengerti ucapan tante." jelas Shasa.
"kau meminta Vaiz untuk mengubah nama Vaiz menjadi milikmu.Apa kau memang diajarkan orang tuamu seperti ini Sa? merebut milik orang lain. Wanita miskin sepertimu yang haus akan harta." sindir Jessie.
"apa maksud tante bicara seperti itu, rumah tanggaku adalah urusanku. Jadi ini bukan ranahmu, jangan pernah kau campuri urusan rumah tanggaku." ucap Shasa penuh penekanan.
"kenapa? Vaiz terlalu bo*oh mencintai gadis bu*uk sepertimu. Kau terlihat lembut tapi otakmu sangat sangat cerdas.Apakah ini yang kau inginkan menikahi orang yang kucinta hanya demi kekayaannya."
"jangan beeteriak kau mengganggu putriku. Dengarkan tante gi*a , urusan hatimu bukan urusanku. Aku tidak perduli kau mencintai suamiku. Dan harus kau tahu aku tidak pernah meminta suamiku untuk mendaftarkan namaku untuk aset asetnya. Aku tidak perduli aset asetnya, jika hanya untuk harta aku tidak tertarik.Karna sedari kecil orang tuaku selalu mengajarka kebaikan bukan keburukan seperti orang tuamu ajarkan padamu." jelas Shasa.
__ADS_1
Jessie hanya menatap dengan tatapan tajam kala mendengar jawaban dari Shasa .