
"cari tahu tentang Shasa istri dari Taban," ucap Zidan .
"tuan apa maksud anda?" tanya Sekretaris Zidan yang bernama Kio .
"kau tahu jika aku meminta mencari tahu berarti aku tertarik dengannya ." jelas Zidan sambil menegak segelas alkohol .
"tuan, anda akan bermain main dengan tuan Taban , itu bahaya ." Sekretaris Kio mengingatkan .
"aku tidak peduli, yang aku tahu hatiku sudah terisi oleh wajah manis milik istrinya . Dialah yang akan menjadi pemilik hatiku ." ucap Zidan melemah .
"apa anda yakin, jika anda tetap maju maka asetmu lah yang akan menjadi taruhannya ." mendengar ucapan Sekretaris Kio membuat Zidan marah .
"patuhi perintahku dan pergilah . Aku sudah tergila gila dengannya . Dia menolakku dan wanita seperti itulah yang pantas menemaniku dan menjadi istriku ."
Mendengar ucapan tuannya,Sekretaris Kio hanya menghela nafas kasar . Menurutnya tidak seharusnya tuannya itu mengganggu hubungan orang lain ,apalagi orang yang berpengaruh dalam bisnis . Namun sekali memerintah ,maka ia harus melakukannya .
10 menit, Sekretaris Kio kembali ke hadapan Zidan, tuannya dengan menyerahkan beberapa lembar yang ia butuhkan . Zidan membolak balikkan lembaran tersebut senyumnya tersungging .
"sudah aku katakan , wanita inilah yang harus aku perjuangkan ." gumam Zidan membuat Sekretarisnya menghela nafas kasar .
"saran saya anda harus berhati hati ."
__ADS_1
"pergilah, aku muak mendengar ocehanmu ." tanpa menunggu kedua kali , Sekretaris Kio keluar ruangan tuannya dengan kesal .
Zidan menatap foto Shasa dengan senyum lebar , sesekali ia mencuimi foto wanita pujaannya . Mengusap dengan lembut . Seakan Shasa adalah obsesinya .
Kini Vaiz sedang duduk dengan beberapa orang penting . Merek sedang membahas rencana pengembangan perusahaan yang telah Vaiz dirikan . Ruangan sangat sepi tanpa suara, tiba tiba di buyarkan oleh dering ponsel milik Sekretaris Dino .
"permisi tuan, saya akan mengangkat telpon ." Vaiz mengangguk dan mengibaskan tangannya .
Sekretaris Dino kembali lagi ke ruang rapat , ia berjalan menuju tuannya dan membisikkan sesuatu ditelinganya.
"beritahu dia jika kita akan kesana ," Sekretaris Dino mengangguk .
Selesai meeting, Vaiz menuju ruangannya . Ia meraih ponselnya dan melihat notif . Namun tak ada pesan dari istrinya . Ia pun kembali meletakkan ponselnya dan mengerjakan pekerjaan yang lainnya .
"tuan ." panggil Sekretaris Dino .
"Dino, apa pekerjaannya akan lebih cepat dari yang kita perkirakan ."
"iya tuan , saya yakin pekerjaan kita akan segera selesai dan kita bisa kembali ke Indonesia." ucap Dino menenangkan .
"syukurlah ." Vaiz menghela nafas lega .
__ADS_1
"tuan, nyonya Fany meminta kita datang jam 7 malam nanti ."
"turuti apa maunya ,"
"baik tuan ."
"pergilah, selesaikan perkerjaanmu bukannya kau juga ingin cepat kembali ke Indonesia karna kau juga rindu dengan incaranmu itu ." ucap Vaiz tersenyum mengejek .
"tidak ada yang seperti itu tuan ." Dino terlihat salah tingkah .
"kau tidak perlu malu , pergilah cepat selesaikan pekerjaanmu . Siapa tahu besok kita bisa kembali ke Indonesia ." ejek Vaiz . Dino hanya menundukkan kepala dan berjalan menjauh .
Melihat tingkah sekretaris pribadinya Vaiz tertawa terbahak . Ia tak menyangka jika Sekretaris yang irit bicara dan seolah tidak tertarik dengan wanita ternyata diam diam selalu menguntit gadis dari belakang .
"apa aku di mata matai oleh tuan, kenapa dia bisa tahu jika aku mengikuti seorang gadis , ah sial ." gerutu Sekretaris Dino saat berada di ruang kerjanya .
"jadi malu sendiri aku , seperti tertangkap basah oleh warga ." gerutu Dino lagi lagi.
**Tuhkan akunya udah up buat kalian para readers yang selalu setia membaca novelku . Jangan lupa vote terus ya kak biar akunya juga semangat buat up terus. .
thx** .
__ADS_1