Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 10. Kaulah Sahabat Terbaikku


__ADS_3

.


.


.


Saat waktu istirahat tiba, semua pekerja beristirahat tak terkecuali para mandor dan juga David beserta Leo.


"Den mau makan apa, atau mau makan sama orang orang di bawah pohon beringin itu. Biasanya saya ikut makan disana, enak Lo den ibu ibu masak ya macam macam sambil ngobrol kita makan menikmati angin sawah."


tanya pak Sis sopan.


Sebenarnya David malas, karena Leo yang ngebet ingin ikut akhirnya dia bergabung menuju tempat istirahat para pekerja itu.


"Wah pak sis, mari sini duduk." Ucap salah seorang pekerja bernama pak Pur


"Ayo den sini, den David sama den Leo apa nyaman makan disini?"


Tanya pak sis sopan, karena dia takut juragan nya itu kurang terbiasa dengan keadaan di sawah.


"Gak apa apa pak, justru kami senang karena bisa akrab begini." Jawab Leo tak kalah sopan.


Kemudia kedua netra David menangkap sesosok gadis, yang melepas capilnya dan menampilkan wajah yang terlihat cantik dengan rambut sebahu juga melepas baju berkerah lengan panjang dan terlihat tinggal mengenakan kaos merah.


David menelan salivanya dengan susah karena melihat dua benda bulat yang terlihat besar bersemayam di balik kaos merah itu.


Kemudian dengan cepat dia membuang pandangannya, sebelum junior yang masih bobo cantik di bawah sana bangun.😜


Tentu saja dia Jessika, sebelum makan dia hendak menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim bersama kedua sahabatnya dan para pekerja lain di mushola sederhana yang di bangun oleh para pekerja secara swadaya, agar mempermudah mereka saat ingin menunaikan shalat dhuhur bersamaan dengan waktu istirahat.


Namun dengan sekejap saja membuang pandangan, dia kembali menoleh ke arah Jessika.

__ADS_1


Merasa ada yang memperhatikannya, Jessica menoleh ke arah David


David segera membuang pandangannya saat sang empunya diri itu menoleh ke arah David.


"Sialan, siap dia ya, kenapa ada gadis cantik yang mau panas panasan di sawah begini." Ucap David dalam hati.


karena saat semua pegawai berkumpul tadi, semua terlihat kumal.


Saat gerombolan gadis itu melewati pak sis dan juga kedua anak juragan tersebut, Jessika dan kedua temannya menunduk hormat dan sopan.


"Nuwun Sewu pak sis, nderek langkung ajenge shalat rumiyen ( permisi pak sis, maaf numpang lewat mau shalat dulu)". Ucap Jessika sopan dan membuat David tidak mengerti apa yang dia ucapkan.


"O nggeh mbak, Monggo Monggo." Jawab pak sis ramah.


Mereka semua shalat, hanya saja waktunya bergantian. Ada yang makan dulu lalu shalat, ada yang shalat dulu kemudian makan.


Bukan tanpa alasan, karena mushalanya juga kecil dan bergantian mukena jadi mereka pikir akan lebih baik bergantian.


" Anak muda disini masih menjunjung tinggi bahasa daerah ya pak?" Tanya Leo ramah.


"O jadi dia namanya Jessi" batin David


Leo semakin kagum dengan Jessika, bagaimana tidak ia terlihat sangat sopan kepada orang tua. Bahkan dia juga tidak meninggalkan shalat meski pekerjaan nya berat.


Disaat wanita diluaran sana menghabiskan waktu dengan spa, kesalon, belanja. Namun gadis gadis di desa ini menghabiskan waktu dengan mandi matahari dan bergelut dengan cabai yang mereka petik, tak jarang jari jemari mereka menghitam karena kontak dengan cabai.


****************


Hari itu berlalu dengan cepat, sampai tiba mereka pulang. Mereka semua sumringah, karena pulang mereka membawa amplop yang biriskan bonus dari sang juragan.


"Kira kira berapa ya isinya, duh aku mau beli bedak sama baju ah". Ucap Arin

__ADS_1


"Sama, ayo Nanti malam kita jalan jalan pumpung ada duit. Terus kan nanti malam malam Minggu, kita pasar malam di lapangan aja yuk." Ajak Eka bersemangat.


"Aku gak janji, soalnya uangku udah mau aku gunakan buat keperluan lain, kalian pergi aja duluan ya." Jawab Jessika sedikit terdengar sedih.


Ada guratan kesedihan terpancar dari sana, akhirnya di perjalan mereka bertiga berhenti.


" Memangnya kurang berapa sih Jess hutang ke Bu Lastri?" Tanya Arin dengan penuh rasa iba.


" Dua juta, Mak wek ku udah ada 500 dan aku gak tau ini berapa, soalnya Minggu depan harus segera dibayar. Bu Lastri marah marah karena kami hutangnya udah lama banget." Jawab Jessi dengan penuh kesedihan.


"Ya udah, yang penting kamu nanti ikut, uangku nanti juga sebagian mau akau kasih ibuku, biar dia buat pegangan. Nanti aku yang traktir kamu, okey."


Kata Eka mencoba membujuk Jessika agar dia mau iku, bukan tanpa alasan diantara ketiga gadis ini, Jessi lah yang memiliki hidup paling menyedihkan, sahabatnya itu faham betul ia sering menolak ajakan karena sering tidak mempunyai uang.


Namun karena kuatnya persahabatan yang sudah terjalin bertahun tahun mereka selalu bisa saling menguatkan.


Tak jarang Jessika menangis dalam diamnya, rasa rindu pada kedua orang tuanya kadang menambah rentetan kesedihan yang tak kunjung usai.


Kadang ia merasa iri kepada teman sebayanya yang masih memiliki orang tua yang lengkap, ya tentu saja Jessika adalah manusia biasa yang terkadang tak bisa menyembunyikan rasa irinya itu.


Gaji atau bayaran yang dia dapat dari bekerja sebagai pemetik cabai itulah yang selalu dia berikan untuk mbok yah, dia hanya mengambil seperlunya saja.


Hasil berjualan cenil pun sebagian digunakan untuk hidup sehari hari, dan hasil dari Jessika bekerja ia gunakan untuk mengangsur hutang kepada Bu Lastri.


"Makasih banget ya rek, kalian selalu ada dan mau menerima aku yang seperti ini." Jawab Jessi, sambil mereka berpelukan.


"Uuhhh udah udah jangan sedih sedih terus, yuk pulang terus biar cepet istirahat. Biar nanti malam gak ngantuk." Jawab Eka kepada Arin dan Jessika.Makasih banget ya rek, kalian selalu ada dan mau menerima aku yang seperti ini." Jawab Jessi, sambil mereka berpelukan.


Begitulah arti sahabat, selalu ada dalam suka dan duka. Karena tangan yang terulur saat kita dalam kesedihan jauh lebih baik dari pada tangan yang memberikan tepuk tangan saat kita meraih keberhasilan.


 

__ADS_1


Ini novel pertamaku, mohon saran dan kritiknya ya jangan lupa like.


 


__ADS_2