Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 120. Kencan tak sengaja ala kelas Teri


__ADS_3

.


.


.


Berita tentang klarifikasi Jessika yang ternyata mendapat fitnah besar sudah termuat di timeline berita online.


Berita yang melibatkan anak dari seorang mandor utama Darmawan Group itu menjadi buah bibir terhangat.


Ada beberapa judul berita yang sudah terposting dengan rapih.


Anak mandor utama kini menjadi tersangka kasus percobaan pembunuhan.


Kasus pencurian di dan pembunuhan di keluarga Darmawan akhirnya terungkap.


Korban fitnah Jessika Maheswari berbesar hati memaafkan keluarga pelaku.


Tersangka percobaan pembunuhan dan pencemaran nama baik mendapat ancaman hukuman 15 tahun penjara


Dan masih banyak judul judul lagi yang membuat berita itu menarik perhatian warga net.


Vera bahkan mengirimkan pesan kepada Jessika, sebuah screenshot laman berita yang memuat kabar tentang dirinya yang baru saja melakukan konfirmasi sekaligus klarifikasi.


"Finally you won, kebenaran selalu tahu tempatnya. Kangen banget Jes"


Juga group di WA miliknya yang beranggotakan Eka dan Arin , kini seolah hidup kembali.


Arin : Kok ga ada yang ngabarin aku sih, udah gak nganggap kita ya.😭😭😭


Eka : Jahat banget gak ngasih tahu berita sepenting ini, kita malah taunya dari internet 😀😀😀


Jessika : Maaf sayangkuuh, nanti malam ketemuan ya. Aku mau curhat, aku traktir deh😘😘😘😘


Putri yang melihat semua ini melalui televisi besar yang berada di kantor polisi itu menjadi murka, ia berteriak seperti orang kerasukan.


Membuat petugas segera mengambil tindakan, disinyalir Putri mengalami kelainan perilaku.


****


"Tadi Makwek lihat kamu di tv nduk" ucap mbok yah saat sedang mengangsurkan sepiring Gethuk( makanan dari singkong rebus, yang di haluskan hingga kalis dan pulen, biasanya di campur gula merah dan di beri taburan parutan kelapa)


"Wah makasih Wek" matanya berbinar menatap sepiring Gethuk lezat.


"Aku tadi pasti malu maluin ya" Jessika berbicara sambil mengunyah makanan itu, dengan mulut penuh.


Membuat suaranya tidak jelas.


"Mangan Ojo Karo ngomong, gak ilok" ( makan jangan sambil bicara, pamali)


Gleeekkk


Suara air yang baru saja dia teguk habis karena lehernya seret, definisi dari terlalu rakus.


"Ahhhhhh, haduh enak banget habisan ini" ucap Jessika mengelap bibirnya yang basah sehabis minum menggunakan tangannya.


"Aku kasihan sama Pak Sis Wek"


"Putri saat ini hamil, dan mereka belum tahu siapa bapaknya orok itu"


Mbok yah sedikit terkejut namun masih bisa bersikap tenang," Ujian hidup Pak Sis dan keluarganya sedang datang, semua orang pasti akan menghadapi ujiannya masing masing"


"Ujian itu tak harus dengan keadaan sulit, Putri berasal dari keluarga berada tapi karena tak pandai menjaga akhirnya ya seperti itu"


"Nenek bangga sama kamu nduk, kita memang harus memaafkan orang lain. Seperti Allah mengampuni dosa kita"


.


.


Malam hari sesuai janji Jessika, Eka dan Arin jalan jalan ke pasar malam yang berada di RT sebelah, mereka numpang lek Soleh tadi.


Sementara pulangnya mereka masih belum tahu, benar benar ide gila.


Jessika nampak begitu cantik dengan blouse navy, Arin juga nampak menawan dengan baju casualnya, sementara Eka juga tak kalah terlihat cantik dengan tampilannya yang mengenakan kaos dan juga cardigan.


Mereka kini tengah singgah di sebuah kedai kopi sederhana, untuk sengaja singgah dan mengobrol.


Karena Pasar Malam hanya berjarak beberapa meter saja dari lokasi mereka saat ini.


"Kamu tahu nggak, kamu disini itu udah lama. Tapi karena kita gak sepekerjaan jadi kayak gak ada kamu disini Jes" Arin berucap dengan penuh kesedihan.


"Bener, kamu juga jarang banget main sama kita" Eka turut menimpali.


Jessika menarik nafasnya dalam dalam, sebelum mengutarakan isi hatinya.


"Aku minta maaf untuk hal itu, aku benar benar masih malu untuk keluar"


"Kalian tahu, banyak orang masih menganggap aku ini apa"


"Tapi jujur, aku hari ini lega banget"


"Kalian tahu gak, Pak Sis kelihatannya terpukul banget"


"Selain Putri yang berbuat hal jahat itu, sekarang dia hamil dan belum mau bicara siapa bapaknya" terang Jessika membuat dua sahabatnya syok.


"Hamil?" ucap mereka kompak.


Jessika menganggukkan kepalanya, tanda membenarkan ucapan dua sahabatnya itu.


"Berarti bener orang yang ku tabrak waktu di apotek kapan hari itu si Putri" ucap Arin.


"Ngapain kamu disana" Eka bertanya.


"Beliin obat ibu, obat pencahar. Ibuku susah BAB kemaren" terang Arin.


"Padahal hidup dia enak. Udah kaya, bisa kuliah, dia juga cantik. Tapi sifatnya idiihhh nauzubillah" ucap Eka bergidik ngeri.


"Sudah, kita ambil pelajaran baiknya saja dari kejadian ini" ucap Arin.


Mereka akhirnya berselfie ria, membuat stroy di akun media sosial masing masing.


Jessika lupa tak berpamitan dengan David. Ia pikir seharian ini sudah bersamanya, tak ada salahnya bila malam ini waktunya ia habiskan untuk kedua sahabatnya.


Namun setelah postingan itu ter share dengan baik, ponselnya menggelepar. Menandakan sebuah panggilan masuk


David calling


Jessika lupa menyembunyikan statusnya dari David di pengaturan privasi story'.


Ia menggeser tombol hijau itu dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.


"Dimana itu kalian, sengaja gak ngasih tahu aku ya"


"Aduh bisa gak sih gak usah nyerocos begitu" Jessika kesal karena Omelan David.


"Dimana aku susul sekarang"


Jessika mengirimkan lokasi terkini dirinya saat ini.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Eka yang selalu saja jadi Miss kepo.


"Mas David" jawab Jessika.


"Ciieee Mas, wkwkkwwk kamu beneran sama dia"


Jessika hanya tersenyum malu malu.


"Cie cie, aduh gak nyangka akhirnya ya" Arin turut senang, senyuman Jessika barusaja jelas mendambakan tebakan mereka benar.


"Gak pernah pacaran, sekalinya dapat gak tanggung tanggung kamu Jes"


"Udah ganteng banget, baik, kaya raya lagi"


"Kami bakalan jadi bosku deh kayaknya setelah ini" Arin berbicara nyerocos, kebahagiaan terpancar jelas dari wajah sahabat Jessika itu.


"Kalian enak, nah aku" Eka menunjuk dirinya sendiri yang apes, karena masih belum memiliki kekasih.


"Loh memangnya?" Jessika menatap Eka, seolah meminta jawaban.


"Iya dia jadian sama si Rendra" ucap Eka yang memberitahu berita bahagia tentang Arin yang telah memiliki kekasih.


"Alhamdulilah, selamat ya Ar. Akhirnya kamu jadi sama dia" Jessika sangat bahagia, ia tahu sahabatnya itu sudah lama menaruh perasaannya kepada kakak kelasnya bernama Rendra.


"Dia bakalan jadi ibu Persit kalau nikah sama Rendra" Eka terkikik.


"Oh ya" Jessika seolah ingin lebih mengorek info kepada Eka yang paling cerewet diantara mereka bertiga itu.


"Dia lagi tugas di Kota M, dua bulan lagi tugas ke kota B" terang Arin.


"Ke sini dong, wah semoga berjodoh Ar" Jessika kini turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Arin.


.


.


Obrolan mereka terganggu dengan kedatangan mobil mengkilat licin berwarna hitam.


Menampilkan tubuh pria tegap, tinggi serta rupawan.


So pasti, David.


Kemudian di susul dengan pria berwajah datar, irit bicara dan sepertinya tak memiliki selera humor sama sekali.


Tidak lain tidak bukan, Tomy.


"Kamu kasih tau mereka Jes" tanya Arin yang melihat kedatangan dua orang ke arah mereka.


Sementara Eka tak menyangka akan bertemu Tomy, ia malu mengingat kejadian waktu Tomy tak sengaja masuk melalui pintu belakang gudang, saat ia membetulkan resleting celananya.


"Hay apa kabar" David menyapa dua sahabat Jessika terlebih dahulu.


"Baik mas, emmm maksud kami Den" ucap Eka meralat kalimatnya.


David tersenyum, " santai saja. Teman Jessika temanku juga, bukan begitu sayang"


Jessika seraya ingin melayang saja, bagaimana bisa David berkata begitu di hadapan dua sahabatnya.


Ia malu dan belum terbiasa tentunya.


Eka dan Arin tersenyum bahagia, sementara Tomy masih saja datar, tak berefek apapun.


"Kalian gak keberatan kan aku gabung" David kembali melakukan interaksi.


"Oh tentu tidak, kami justru senang karena makin ramai" ucap Eka sungkan.


Mereka menggunakan mobil meski hanya berjarak beberapa meter saja.


"Baik bos" ucapnya datar.


"CK, orang ini apa gak pernah bicara sama orang sih" Eka membatin, Tomy yang selalu saja begitu.


Namun baru saja melangkahkan kaki, ponsel Arin berdering.


"Sebentar ya" pamit Arin menjawab panggilan.


Mereka akhirnya menunggu, dan selang beberapa menit dia kembali.


"Maaf ya emmmm, aku gak jadi ikut kalian" ia meringis sungkan.


"Mau kemana?" Eka lebih dulu melontarkan pertanyaan.


"Si Rendra ada disini, mau jemput aku" Erin tersenyum.


"Ya udah gpp, besok kita atur jadwal lagi. Salam ya buat Rendra" Jessika mengijinkan Arin.


"Ya udah aku pergi dulu ya, da da" Arin melambaikan tangan ke arah mereka.


"So sweet banget si Rendra, apa ada tugas mendadak dia jadi bisa kemari" Eka berseloroh.


"Bisa jadi, biarin sudah. Mereka kan jarang bertemu" Jessika menjawab.


Sementara David dan Tomy masih setia menjadi pendengar.


"Kemana?" David mencoba mencari tahu kepergian Arian kepada Jessika.


"Dia di jemput pacarnya, pacarnya seorang Tentara. Jadi jarang ketemu, ga tau tiba tiba dia kesini" terang Jessika.


David mengangguk tanda mengerti.


Mereka tak berminat menaiki wahana, mereka hanya ingin mencicipi berbagai kuliner.


"Seru juga datang kesini" David berucap, mengingat pertemuan awalnya dengan Jessika yang kurang baik di tempat yang sama, hanya berbeda lokasi.


Jessika mencibir," oh ya, kamu pasti gak pernah main ke tempat ndeso kayak gini kan"


"Jangan mulai" ucap David yang tahu arah pembicaraan kekasihnya.


"Loh Eka sama Tomy kemana?" tanya Jessika.


David hanya mengendikkan bahunya, padahal dialah yang menyuruh Tomy untuk mengajak Eka berpisah dari mereka.


...Flashback On...


David mengirim sebuah pesan singkat kepada Tomy, ia sebenarnya mendengar jika Arin akan pergi.


Tiba tiba dia ingin menghabiskan malam bersama kekasihnya itu.


"Ajak Eka pergi Tom, kemana deh. Biarkan kami"


Tomy lagi lagi menghela nafasnya tatkala membaca pesan dari David.


Manusia manusia bucin selalu saja membuat dirinya yang repot.


"Baik bos" hanya itu jawaban yang dia kirimkan, mau tidak mau bukan.


Dia menarik lengan Eka, tak mau terlalu lama menjelaskan. Ia memperlihatkan sebuah chat dari David.


Eka pun membacanya, dia akhirnya mengangguk paham.

__ADS_1


"Bekerjasamalah!!" ucap Tomy singkat, lalu segera pergi.


Mau tidak mau juga, Eka mengikuti langkahnya.


Bagaimanapun juga dia masih berstatus karyawan di tempat David.


...Flashback Off...


"Kamu sering ke tempat begini?" David bertanya sambil berjalan beriringan, melewati beberapa stand makanan yang mengeluarkan aroma menggugah selera.


Jessika menggeleng," Pertama waktu aku numpahin es ke baju kamu itu, yang kedua sekarang".


"Serius?, gak pernah jalan jalan?"


Lagi lagi Jessika menggeleng," Orang orang sepertiku, waktu akan habis untuk bekerja dan beristirahat. Lagipula, mencari uang itu susah"


Hati David serasa nyeri mendengar kenyataan, sepertinya hari hari yang di lalui Jessika begitu sulit.


Dalam hati ia berjanji akan membahagiakan Jessika, akan sering meluangkan waktu bersama setelah menikah nanti.


"Kamu mau makan apa" tawar David.


"Ayok jajan disana, kalau kamu gak mau gapapa. Aku mau kesana" Jessika segera melesat ke stand sostel dan juga ice cream rujak.


David menggelengkan kepalanya, sejurus kemudian ia menyusul Jessika yang berada beberapa meter di depannya.


Meninggalkan David sendirian.


"Bang sostelnya 10 tusuk ya" Jessika melihat pedagang itu mulai melakukan tugasnya.


David yang baru datang melihat atensi Jessika kepada Abang pedagang itu.


"Pakai mayonaise apa tidak mbak?


"Pakai semua bang, pedes ya bang"


David masih menjadi penonton setia disana.


"Ini mbak".


Jessika kemudian mengeluarkan selembar rupiah berwarna ungu, bergambarkan pahlawan Frans Kaisiepo.


"Terimakasih banyak mbak"


David heran, semurah itukah?


"Kamu mau?" tawar Jessika yang kini tengah duduk di sebuah bangku kosong, di bawah pohon.


"Aaaaaaaaaa" Jessika mengarahkan sebuah sosis dengan balutan telur dan juga saos yang lumer, menggugah selera.


David membuka mulutnya, namun " aaemmmm" ia malah melahap sendiri makanan lezat itu.


Membuat David kesal ringan, rupanya dia di kerjai.


"Nih coba" kali ini Jessika serius menyuapi David.


"Emmmmmm" David bergumam.


"Gimana rasanya?"


"Emmmmmmmm"


"CK, kebiasaan kamu itu. Am em am em" Jessika memukul lengan David.


"Enak banget" David tersenyum sembari memberikan dua jempolnya.


"Makanan rakyat jelata kayak aku, murah enak" ia kembali melahap sosis berlapis telur itu.


David tersenyum senang, wanita di samping ini benar benar beda. Lain daripada yang lain.


"Mau coba mie ayam nggak, tadi aku lihat disana"


"Tapi Eka kemana sih, mas Tomy kemana juga?"


Lagi lagi David hanya mengendikkan bahunya.


"Jangan jangan ini akal akalan kamu lagi mas" tuduh Jessika penuh selidik, lantaran David tersenyum penuh arti.


"Biarkan mereka PDKT" David berbisik ke arah telinga Jessika, membuat dirinya merinding tak karuan.


.


.


"Bang mi ayam dua ya, pakai ceker" Jessika berucap kepada pedagang mi ayam.


"Kamu mau ceker?" tawar Jessika kepada David.


"Enggak, aku gak bisa makan ceker"


"Ya sih, secara orang kaya mana pernah makan tulang" sindir Jessika saat dia mendaratkan tubuhnya di kursi samping David.


"Jangan memulai" David selalu tak suka bila Jessika terlalu merendahkan dirinya sendiri.


"Bang yang satu kasih bakso aja toppingnya, cekernya kasih ke mangkuk saya saja" ucapnya kembali meralat pesanannya barusan.


"Siap mbak"


David makan dengan cepat, sepertinya selain enak dia memang lapar.


Dalam beberapa menit saja, semangkuk mie ayam itu sudah licin dan tandas.


Tak bersisa barang sedikitpun.


"Lapar apa doyan bos" ucap Jessika yang menyeruput es jeruk segar.


"Ini enak Lo, beneran" ucap David.


Jessika memakan ceker ayam berbumbu gurih manis itu, dengan telaten.


Bahkan ia bisa membuat daging ayam itu terpisah dari tulangnya hingga bersih.


"Bisa bersih begitu makan cekernya" seloroh David.


Ia bahagia melihat Jessika yang juga senang.


Seorang gadis yang memiliki suara merdu, yang pandai memainkan nada indah. Telah berhasil merubah dunianya.


"Besok kita menikah ya" ucap David.


Membuat Jessika tersedak," Uhuk uhuk uhuk".


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2