Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 158. Kesalahan Tomy


__ADS_3

.


.


.


...


Eka tentu saja tidak percaya dengan ucapan Tomy. Apa yang ia lihat tadi masih terbayang jelas di ingatannya. Apalagi, baju wanita sexy itu yang terlihat terbuka dan sikap Tomy yang terkesan melakukan pembiaran saat dirinya di peluk.


"Aku tidak percaya!" jawab Eka membuang muka.


"Aku tidak memintamu untuk percaya!" ucap Tomy datar, melipat kedua tangannya ke dada.


"Kenapa jadi imut begitu sih kalau lagi ngambek" ucap Tomy dalam hati, menahan senyum.


Eka menatap Tomy kesal, harus bagaimana menghadapi pria datar yang semaunya itu. Apalagi, seenaknya mencium tanpa seijinnya.


"Cepat masuk, atau aku tinggal!. Atau kau mau preman-preman itu kembali lagi!" Tomy menyeringai.


Tentu saja Eka menjadi takut, mana mau dia bertemu lagi dengan preman tadi. Seketika ia langsung menuju mobil dengan langkah cepat, bahkan meninggalkan Tomy yang masih berdiri mematung disana.


.


.


Pagi menjelang, kisaran pukul 08.00 waktu setempat dibelahan bumi lain terlihat dua pasang anak manusia yang sudah berpenampilan rapi. Jessika sudah terlihat lebih baik usai liburan, tak lupa banyak sekali oleh-oleh yang ia beli untuk teman-teman juga keluarganya.


Hari ini Jessika akan kembali ke Kabupaten B, mereka sudah terlihat duduk di eksekutif lounge Bandar Udara Pulau L. Sebagai pemegang member miles salah satu maskapai penerbangan terbaik, tentu ia tak mau melewatkan fasilitas yang disediakan.


David terlihat membuka email, sementara Jessika tengah berjalan menuju sofa suaminya, usai mengambil beberapa makanan.


"Sayang, aku sudah menghubungi Tomy ?" ucap Jessika menyerahkan secangkir espresso juga beberapa kudapan ringan.


"Terimakasih sayang!" ucap David kepada istrinya, karena telah menghidangkan minuman untuk dirinya.


"Aku sudah berkirim pesan untuknya!" jawab David lagi.


David terlihat menyesal kopi itu, kemudian meletakkan cangkir itu ke tempat asal.


Mereka memandang ke arah kaca lebar transparan, dengan pemandangan apron ( tempat parkir pesawat) serta landasan pacu.


Tak pernah pula Jessika menyangka bila hidupnya akan menjadi seperti saat ini. Sungguh bila mengingat hidupnya dulu, rasanya tidak mungkin hal seperti ini akan terjadi dalam hidupnya yang terbelenggu kemiskinan.


"Sayang?" tanya Jessika.


"Hem" jawab David tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop yang ia bawa.


"Jika aku belum bisa memberikan seorang anak untukmu, apa kau masih sama mencintaiku?" Jessika bertanya seraya memandang hamparan luas, yang menampilkan beberapa pesawat yang terlihat berjejer di sebelah Garbarata.


Pertanyaan itu langsung membuat David menatap istrinya yang makin hari makin membuat dirinya jatuh cinta, more and more.


"Pertanyaan apa itu?" kening David mengernyit.


Jessika tersenyum kecut, karena sungguh ia merasa sedih karena sampai saat ini ia belum juga diberikan pengganti dari kegugurannya tempo hari.


"Jawab saja!" Jessika menatap David yang masih mengernyit.


"Sayang, dengan!"

__ADS_1


"Bagaimanapun keadaanmu, betapapun kita di uji dengan belum hadirnya malaikat kecil untuk kita, kamu tidak perlu meragukan isi yang ada di dalam sini!" ucapnya bersungguh-sungguh seraya menunjuk bagian dada bidangnya.


"Tolong jangan pernah meragukan cintaku sayang!" David memohon, ia tahu istrinya itu masih saja bersedih.


"Tugas kamu cuma happy dan happy, Tuhan pasti kasih yang yang terbaik!!" David merengkuh Jessika, membuat wanita itu menyandarkan kepalanya ke bahu David.


David menciumi kepala istrinya penuh cinta kasih.


"Kita akan segera mendapatkannya sayang" ucap David dalam hati.


***


Sementara di belahan bumi lain, Tomy terlihat tersenyum- senyum sendiri di dalam bathtub kamar mandinya. Ia mengingatkan akan dirinya yang melahap bibir wanita cerewet itu. Benar-benar gila.


"CK, aku pasti sudah gila!!" ia menggelengkan kepalanya sendiri, untung saja ia tengah sendiri. Tak bisa membayangkan bila ad Jack disana, sudah pasti dia akan menjadi bulan-bulanan Bullyan.


Sejurus kemudian ia berniat melihat jam di ponselnya, namun ia terperanjat saat melihat ada pesan masuk. Ia lupa menyalakan nada dering pasca ia silent semalam, guna menghindari telepon dari Clarissa.


Jemput aku di Airport jam 10.00


Pesan dari David, astaga ini jelas sudah hampir jam 10. Telah hampir dua jam dia berendam di air hangat itu, namun karena lamunannya yang terlanjur melanglang buana, ia malah menghabiskan waktunya untuk berendam. Jelas itu bukanlah dirinya yang sebenarnya. Tak menghargai waktu.


"Oh tidak!" ucapnya menyadari jelas ia akan terlambat untuk menjemput bos-nya itu.


Secepat kilat dia menyambar handuk, menutupi tubuh polosnya. Kemudian segers mengganti bajunya. Berharap dia tak terlambat, atau bila tidak. Tamatlah riwayatnya karena membuat seorang David menunggu.


" Tom, mau kemana?" Pak Edy muncul tiba-tiba dari arah belakang.


"Emm, anu Tuan saya mau jemput si Bos!"


"Loh, baru mau berangkat?, tadi David menelpon udah ada di ruang tunggu!"


Menyadari kesalahannya, ia menekan ludahnya dengan susah.


"Ya sudah cepat sana!"


.


.


Tomy


Ia mengumpat kepada dirinya sendiri, keasikan melamun rupanya cenderung membuat kita rugi.


"Hah, kalau ternyata jatuh cinta itu begini rasanya, tau gitu aku akan dari dulu memulainya!" ucapnya seraya fokus dengan setir bundarnya.


Ia sudah gila, benar-benar gila. Lihatlah semesta mengatur hidupnya, pria datar dan irit bicara itu malah jatuh cinta kepada Eka, wanita yang benar-benar cerewet dan tidak tahu malu๐Ÿ˜๐Ÿ˜.


.


.


Airport Bandara Kota B


David sudah terlihat mengeraskan rahangnya, ia adalah kali pertamanya Tomy meleset dari waktu yang telah di tetapkan. Pesawat yang di tumpangi oleh David dan Jessika kebetulan on time, membuat mereka landing dengan selamat di waktu yang sudah di tentukan.


Namun nampaknya Tomy sudah melakukan kesalahan yang membuat David tak senang. Menunggu.


"Sudahlah, mungkin masih macet!"

__ADS_1


"Kita tunggu dulu!" untung saja Jessika adalah wanita dengan segala pembawaan yang menenangkan, ia tahu bila suaminya itu bukan orang yang suka menunggu. Apalagi menunggu bawahannya, jelas tidak mungkin.


Hampir 40 menit David duduk di rumah tunggu kedatangan, meski di suguhkan dengan tempat yang nyaman dan AC yang tiada henti bekerja, namun ia tetap kesal karena ia tak ingin istrinya menunggu terlalu lama.


"Kita naik taksi saja!!" ucap David dengan marah.


.


.


Tomy


Nampaknya ini benar-benar hari tersial untuknya. Tanpa di nyana, di jalur poros menuju bandara ada sebuah truk tangki pembawa BBM yang mogok. Membuat arus lalulintas disana tersendat.


Petugas kepolisian membuka sistem jalan buka tutup satu arah, lantaran truk tersebut belum bisa di evakuasi. Terindikasi patah as roda, membuat Tomy juga turut larut dalam ekor kepadatan yang mengular sejauh 3 kilometer.


"CK, brengsek!!" ia mengumpat. Berkali-kali memanjangkan lehernya, untuk melihat kemacetan yang masih belum terurai


"Oh sial, sepertinya aku dalam masalah!" Tomy melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, menunjukkan pukul 10.30.


Hidup segan, mati pun tak mau. Ia benar-benar terjebak. Mau kembali tak bisa, mau lanjut harus sabar.


Ia mencoba menghubungi ponsel David, namun ponselnya mati. Ya, sepertinya David memang lupa menyalakan ponselnya, ada lupa mengubah mode airplane di fitur ponselnya.


Pasrah


Hanya itu yang bisa ia lakukan.


***


David sengaja akan menuju rumah utama Pak Edy, beruntung ia menaiki taksi online yang melewatkan mereka ke jalur pintas guna menghindari kemacetan.


"Sepertinya belum di evakuasi tuan, tadi tangki BBM nya guede banget!! ucap sopir degan uban yang hampir menutupi seluruh kepalanya.


" Sayang, lebih baik kamu kirim pesan untuk Tomy jika kita sudah pulang!" rayu Jessika, ia menyadari jika seorang David Darmawan bukanlah orang yang bisa di ambil hatinya dengan mudah.


"Biarkan saja, biar dia tahu rasa!"


"Berkali-kali ku ingatkan, agar standby satu jam sebelum schedule. Masih saja melanggar!"


"Ya, ya kau bosnya?" ucap Jessika dalam hati, yang menyerah. Ia terlihat menghembuskan nafasnya kasar, lalu melipat kedua tangannya.


"Kau marah?" David kini bertanya, karena mendadak istrinya diam.


"Aku rasa kita tidak perlu seperti ini!"


"Tomy hanya terlambat menjemput, dan..."


Tanpa menunggu lama David menyambar bibir istrinya itu, membuat Jessika membelalakkan matanya, kemudian memukuli David. Mendorong tubuh kekar suaminya, hingga ciuman mereka terlepas.


"Ada supir!!!, kami ini gimana sih?" bisik Jessika Jessika tak suka, tentu saja tak setuju dengan aksi David barusan, mengingat ada orang lain disana. Beruntung supir itu tak melihat aksi gila David.


Jessika terlihat kesal, cenderung malu.


"Itu hukuman karena istriku lebih membela orang lain!!"


Entah demi apa, Jessika membulatkan matanya. Benar-benar tak habis pikir dengan sikap suaminya yang intoleran kepada kesalahan assistennya itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2