
.
.
.
"Setiap orang berperang, melawan ujiannya masing- masing"
Saat mereka hendak berangkat, pak Edy tiba tiba muncul dari ruang dalam.
"Aku ikut?"
David dan Leo tentu saja saling pandang, jelas ini akan beresiko.
"Tapi Pa..."
"Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, bila kau memang di jebak. Bukan karena tabiatmu yang buruk!" Pak Edy menatap tajam putranya.
Apa itu artinya, Papanya tidak percaya dengan ceritanya tadi siang?
Tak bisa berbuat, banyak. Pak Edy kini ikut bersama mobil Adrian dan Vera.
Keputusannya untuk turut serta, lantaran di latar belakangi oleh cerita Jessika.
...Flashback...
"Bagaimana?" Pak Edy dengan raut wajah khawatirnya, tengah mengorek informasi kepada dr. Kevin.
"Nona Jessika mengalami syok berat, sebenarnya apa yang terjadi paman?"
"Sekarang dia sudah sadar, sudah ku beri obat agar dia bisa istirahat"
Pak Edy terlihat menghela nafas.
"Terimakasih Kevin
Pak Edy melangkahkan kakinya, menuju tempat dimana Jessika baru saja sadar dari pingsannya.
Melihat kedatangan orang nomer satu di Darmawan Group itu, Eka dan Arin undur diri.
Memberikan ruang, untuk mertua dan menantu saling berbicara.
Jessika terlihat masih menatap nanar ke arah luar, duduknya segaris dengan jendela yang tengah terbuka lebar.
Membuat hati Pak Edy sesak.
"Nduk!"
Jessika yang mengenal suara berat itu, langsung menoleh.
Menampilkan wajah Jessika yang sembab, menatap ke arah mertuanya dengan wajah yang kehilangan harap.
Pak Edy mendudukkan dirinya, persis di sebelah Jessika. Mereka duduk di tepi ranjang.
Hening sementara, sayup sayup terdengar suara riuh Lek Soleh yang memberikan komando, untuk menata tikar kepada Slamet, persiapan untuk acara tahlilan nanti malam.
"Papa turut berdukacita Nduk, Papa juga sangat merasa kehilangan"
Suasana masih hening, Jessika masih nyalang menatap ke arah jendela.
Belum berminat menjawab ucapan mertuanya, semacam tak memiliki daya.
Pak Edy terlihat menarik nafasnya dalam, sebelum hendak berbicara mengenai persoalan kedua.
"Papa juga sudah tahu persoalan kalian dari David!"
Ucapan kedua Pak Edy, sukses membuat pandangan Jessika beralih kepada mertuanya itu.
Jessika tersenyum getir, seraya nampak kedua netranya berkilauan karena genangan air mata, yang sudah berkumpul di pelupuk matanya. Bersiap untuk meluncur.
"Semua bisa dibicarakan baik baik"
"Kamu harus ingat, David itu pengusaha".
"Banyak musuh dan juga saingan, yang berusaha menjatuhkan".
Jessika terlihat menghapus air mata, yang mengalir deras di pipinya.
"Tidak mau menemaniku menginap saat nenek sedang sakit"
"Dengan alasan sibuk"
"Tidak memberi kabar hingga larut malam?"
"Bahkan nenek masih sempat menyuruh saya untuk pulang pagi itu, karena beliau tahu surga saya saat ini berada pada David!"
"Tapi bagaimana perasaan papa, bila melihat orang yang papa cintai tengah tidur seranjang dengan orang lain?"
"Bahkan sehari sebelumnya, David meminta Mayang untuk tak bekerja?"
"Coba papa jelaskan, dari sudut pandang yang mana saya salah menilai mas David pa?"
Jessika berbicara dengan nada menggebu, mengeluarkan semua emosi yang tertahan.
Isak tangisnya makin menjadi, tatkala orang tua di hadapannya merengkuh tubuh gemetar itu, kedalam pelukannya.
Pelukan seorang Bapak, yang berusaha menenangkan.
"Bahkan saya melewatkan saat saat terakhir nenek menghembuskan nafas terakhirnya Pa" Ia berbicara seraya menangis, tubuhnya bergetar hebat dalam posisi masih di peluk oleh mertuanya.
Pak Edy benar benar tak kuasa menahan air matanya, kini ia menjadi ambigu. Pasalnya, ia sendiri juga tak melihat secara langsung kejadian itu.
__ADS_1
...Flashback Off...
.
.
Leo
Ia bersikukuh untuk mengambil alih kemudi, tak mau mengambil resiko. Karena ia tahu bila kakaknya saat ini tengah berusaha meredamkan hati, yang tengah berkecamuk.
Marah, menyesal, sedih, sakit.
Ia tak menjamin akan sanggup bila berada di posisi kakaknya.
"Apa yang membuatmu percaya kepadaku Leo?" Tanya David.
Leo menghembuskan nafasnya, jelas ia tahu isi kepala kakaknya itu.
"Karena kau tidak mungkin mengkhianati wanita yang kau cintai Bang!"
"Dan jika iku terjadi, akulah orang pertama yang akan menghajarmu!!"
Kakaknya justru terkekeh, demi mengingat bahwa untuk mendapatkan istrinya itu bukan hal yang mudah.
Mulai dari aksi saat bersama Sherly, hingga bersitegang bersama dirinya.
.
.
David
Hatinya resah, kini papanya juga mengisyaratkan bahwa beliau juga tidak percaya seratus persen kepada dirinya.
Raganya berada di dalam mobil bersama adiknya, namun hati dan pikirannya masih terfokus kepada istrinya.
Ingin dia merengkuh tubuh istrinya itu, membawa kedalam dekapannya.
"Maafkan aku sayang" ia bermonolog dalam hatinya, dan air mata langka itu kini keluar.
Ia keburu menyusut air matanya, sebelum di ketahui oleh adiknya.
***
Jack tengah menjadi supir bagi pak Edy, Adrian dan Vera.
Sementara Victor mengomandoi anak buah mereka yang lain.
"Apakah kota berada di jalur yang benar sayang?"
"Benar, estimasi kita bisa sampai dua jam lagi" ucap Vera, seraya memakai jaket. Guna menghalangi dinginnya angin malam, yang mencoba menyusup kedalam kulitnya.
Hanya hamparan pohon nyiur, yang terbentang sejauh mata memandang di dalam kegelapan.
Mereka semua turun, kebanyakan dari mereka tengah sibuk memindai tempat yang asing bagi mereka itu.
"Kau yakin ini tempatnya?" tanya Leo kepada Adrian, yang masih berkutat di peralatan canggihnya.
"Benar, sinyalnya masih aktif. Dua kilo meter ke arah Utara" ucap Adrian, yang membaca pergerakan sinyal alat pelacak, yang terpasang pada ponsel Tomy.
"Sebaiknya kalian berpencar!" tukas Pak Edy.
"Bang, kau tetap bersamaku!" ucap Leo.
"Jack, kau bisa bersama Vera" ucap Leo.
"Apa?, hey! mengapa harus kekasihku yang bersama dia" Adrian menggerutu, tidak Terimakasih dengan keputusan Leo.
Membuat Jack hanya memutar bola matanya malas.
Pletak
Vera menjitak kepala kekasihnya.
"Aduh!!" Adrian mengaduh, seraya mengusuk kepalanya.
"Tolong jangan sekarang!!" Vera memberikan tatapan mengintimidasi.
"Baiklah!" Adrian mengerti tatapan membunuh kekasihnya itu.
Adrian sungguh posesif, benar benar bucin akut.
Jack terkikik geli, begitu juga dengan Leo.
Hanya Pak Edy dan David yang masih dalam mode tegang.
"Dimana Victor?" kali ini Pak Edy bertanya.
"Dia lewat jalur barat Om" ucap Adrian.
"Baik, dengar jangan lupa pastikan Earpiece kalian terpasang dengan benar!"
" Jangan sampai ada yang terluka!"
"Misi kita yang utama menemukan Tomy terlebih dahulu"
"Kalian paham?" ucap David.
"Paham!" ucap semua yang disana.
"Om, Om Edy bersamaku saja disini. Om bisa mengontrol pergerakan mereka dengan HT ( Handy Talky)" pinta Adrian.
__ADS_1
Pak Edy terlihat menimang-nimang ucapan Adrian.
"Pa, kumohon" Leo tak bisa membiarkan papanya untuk ikut lebih jauh, jelas ini adalah hal yang berbahaya.
****
Usai acara tahlilan, Eka dan arin berpamitan untuk pulang kepada Jessika.
"Bu Bos, kami pulang dulu ya" Eka mengelus tangan Jessika.
"Besok kita akan kesini lagi"
Jessika masih menjadi manusia yang irit bicara, namun seulas senyum terbit dari bibirnya sembari mengangguk lemah.
"Terimakasih" lirihnya, nyaris tak terdengar.
.
.
Malam semakin larut, Jessika tiba tiba terbangun dari tidurnya.
Jessika tengah menuju dapur, mencari keberadaan Pak Lek nya.
"Lek!" sapa Jessika dengan suara lemah dan mata yang bengkak.
"Nduk, kamu mau makan?" Jawab lek Soleh, yang tengah sibuk berbicara dengan beberapa orang.
Jessika menggeleng lemah," Ini untuk belanja besok, Pak Lek ambil dari ATM ini saja"
"Saya pasrahkan sama Pak Lek"
Jessika menyerahkan sebuah ATM, beserta nomer pin nya. Karena tahlil itu, akan berjalan hingga 7 hari.
"Gak usah Nduk, Pak Lek ada"
"Tolong Lek, biarkan saya melakukan yang seharusnya saya lakukan"
"Katakan sama istrinya Pak Eko, untuk mencari ibu ibu yang bisa membantunya besok"
Lek Soleh tak mau mendebat keponakannya, dengan menerima kartu tersebut sudah menjadi langkah tepat, untuk membuat batin keponakannya tenang.
"Nduk?" ucap Lek Soleh, saat Jessika hendak membalikkan badannya.
"Ya Lek" jawab Jessika, seraya memutar badannya.
"David berpesan agar kamu jangan sampai telat dan lupa makan"
Jessika masih bergeming.
"Aku lebih tahu mana yang harus aku lakukan Lek, karena mulai sekarang aku harus bisa mengurus diriku sendiri"
Ia tersenyum getir. Karena dirinya benar benar sendiri saat ini.
Menyadari maksud keponakannya, Lek Soleh berniat ingin membenarkan maksud ucapannya.
"Dia tadi kesini" Lek Soleh mengembuskan napasnya.
"Minta kita mendoakan agar dia dan anggotanya selamat, termasuk Pak Edy".
Jessika mengernyitkan dahinya, " Memangnya kemana mereka?" batinnya berbicara.
"Mereka mencari Mas Tomy, yang hilang" ucap Lek Soleh dengan wajah sendu.
Membuat Jessika terperanjat.
"Ya, Mas Tomy di culik!" ucap Lek Soleh menegaskan ucapannya.
.
.
.
.
.
.
Hallo readers terkasih.
Gimana kabarnya?
Semoga sehat selalu ya.
Beberapa part kedepan mengandung cerita action ya, karena menceritakan mitigasi penyelamatan Tomy.
Mungkin tinggal beberapa bab lagi, kisah Jessika akan tamat.
Juga kita akan tahu, siapa sebenarnya otak segala kejahatan yang berada di balik kejadian itu.
Terimakasih banyak yang selalu setia menanti cerita Mommy, semoga Readers sekalian selalu berada dalam lindungannNya.
Big hug from me
Mommy Eng 🤗
Kepoin Instagram Mommy yuk
Fitria Ermila Yessi
__ADS_1