
.
.
.
"Hidup memang tidak seperti tampaknya, tidak perlu ada kemunafikan. Jadi diri sendiri adalah kesempurnaan yang bisa dibenahi."
Leo berusaha menenangkan dirinya saat mendengar David yang mengobrol dengan pak Edy, dan yang diobrolkan adalah Jessika.
"Jangan ambil keputusan dulu pa, kita belum tahu keluarganya Bella berkenan atau tidak untuk diadakan pesta"
"Lagi pula, Bella udah berbadan dua"
Ia segera mengangkat suara, karena mendengar pak Edy yang sudah halu tingkat dewa, menanggapi selorohan David terkait rencana pernikahan adiknya itu.
"Belum lagi kalau nanti Tante Sofia marah ke aku gimana" tambah Leo dengan wajah kusut, kini ia menjadi ciut nyali.
"Tenang, maling aja dikasih keberuntungan. Masa' kamu yang baik enggak" David tertawa meledek adiknya itu.
"Yee..... ya kali aku maling" wajahnya sudah sangat kusut, kakaknya itu seolah tidak ada habisnya meledeknya.
"Jangan goyah, papa selalu ada buat kamu" ucap pak Edy mencoba menguatkan putranya.
Siang hari sekitar pukul 13.10 mereka sampai dirumah besar milik keluarga Darmawan itu.
(Credit foto from google)
Pak Edy merasakan rasa haru, setelah kurang lebih setengah tahun di desa. Kini ia kembali kerumah dengan segala cerita yang tertinggal bersama mendiang istrinya.
Terlihat mang Ujang dan bik Asih yang menyambut kedatangan mereka, bahkan bik asih sempat berkaca- kaca melihat majikanya itu kembali ke kota.
"Assalamualaikum" pak Edy memasuki rumah dan mengucapkan salam kepada dua orang assisten rumah tangganya itu.
"Walaikumsalam salam tuan, masyaallah tuan lama sekali tidak bertemu, tuan apa kabar?" bik Asih menyalami tangan majikannya itu.
Ia sungguh terharu, mengingat segala kebaikan pak Edy kepada dirinya.
"Baik bik, sampean gimana? mang Ujang sehat?" ia bergantian menyalami mang Ujang.
"Sehat tuan, ya Allah saya kira tuan tidak mau kembali kemari" ucapnya juga penuh kerinduan.
"Saya sudah lama ya rupanya tidak pulang" ucapnya sambil berjalan menghirup udara dirumah itu, rumah yang sudah setengah tahun ini ia tinggalkan.
"Tuan mau makan sekarang? saya siapkan dulu" bik asih kemudian undur diri, segera pergi ke dapur mengingat ini juga pas dengan waktu makan siang.
"Kalian istirahat dulu, nanti malam kita langsung kerumah Bella. Papa sudah tidak sabar" ucapnya sambil menggosok kedua tangannya, bergaya seperti orang yang tidak sabaran.
"Apa?" lagi lagi mereka kompak menjawab, papanya itu selalu saja membuat keputusan yang membuat mereka terkejut.
Padahal mereka kini sudah leleh karena jarak tempuh yang jauh.
Bukankah baru besok rencananya mereka akan berkunjung? bahkan Leo juga belum menyiapkan apapun untuk kesana.
"Papa ingin segera bicara dengan tante sofia, lebih cepat lebih baik"
Dan benar saja, setelah selesai makan malam dan tentunya sudah memberitahu Bella juga terkait kedatangan mereka malam ini, mereka bersiap untuk bersilaturahmi ke rumah Bella.
Terlihat Tomy yang sudah tiba untuk menjemput mereka bertiga, terlihat tampan dengan wajah datarnya.
"Selamat malam tuan Edy, apa kabar" ucapnya membungkuk hormat.
"Malam Tom, saya baik. Terimakasih sudah datang tepat waktu"
Rumah Bella
Terlihat geliat kesibukan dirumah yang tak kalah mewah dari kediaman milik David itu, bagaimana tidak seorang Edy Darmawan rekan dari mendiang suami mama Sofia malam ini akan kerumahnya.
"Aduh Bel, kamu itu gimana sih. Masa' mendadak begini ngasih taunya,CK" ia sempat melontarkan protes kepada anaknya, saat dia mendapat telepon dari anaknya yang memberitahu jika pak Edy akan berkunjung kerumahnya.
Bella sendiri juga ingin melayangkan protes kepada Leo, bisa biasanya ia membuat keputusan mendadak seperti ini.
"Maaf, Papa yang udah ubah schedule" terang Leo ketiak Bella mberengut sewaktu di telpon.
Dan kini mobil mereka sudah sampai dikediaman Bella.
Setelah menurunkan pak Edy, David dan Leo Tomy memarkirkan kendaraannya di ujung halaman rumah besar itu.
__ADS_1
Ia memilih untuk menunggu diluar, karena ia tahu ini adalah obrolan penting.
Ia tentu tak ingin menjadi kambing congek di dalam.
"Tuan Edy apa kabarnya, sudah lama sekali tidak bertemu" sambut mam Sofia, yang memang sudah lama sekali tidak bersua dengan pak Edy.
"Alhamdulilah baik, kamu gimana Sof?" ia berkata sambil menyambut uluran tangan mama Sofia untuk bersalaman.
"Aku juga baik, ayo kita masuk ke dalam" ajak mama Sofia.
"Wah David kamu masih tetap tampan saja" mama Sofia mencoba berkelakar dengan putra sulung pak Edy itu.
"Tante Sofia juga masih terlihat cantik" ucapnya tersenyum.
"Alah kalian ini" ucapnya malu.
Mereka saling bercerita, bahkan kadang semua tertawa karena kelakar David yang mendominasi pembicaraan mereka.
Sementara Leo dan Bella sudah bermandikan keringat dingin, mereka hanya diam. Benar benar tidak punya nyali.
Disaat semua orang di ruangan itu tertawa, ia justru berwajah pias. Benar benar definisi berani karena benar, takut karena salah.
Tunggu apa mereka berdua salah?, Tentu saja, bahkan sangat salah.
Bahkan dirinya tak berani menatap wajah mama Sofia, yang terlihat tersenyum menampilkan gigi yang putih dan rapi, serta lipstik warna merah yang tergambar rapi di bibir tipisnya.
Kecantikan yang ia wariskan kepada putri semata wayangnya, Leo sekilas menatap Bella.
"Cantik" ia bergumam, menatap mata Bella, hal yang tidak pernah ia sadari selama ini.
Obrolan mereka terinterupsi dengan kehadiran ART Bella, yang membawakan beberapa minuman dan kue kering.
" Ayo diminum, sambil ngobrol" ucap mama Sofia santai, yang tak mengira sebentar lagi akan mendengar berita yang bisa memberikannya syok terapi.
Setelah cukup lama mereka saling bercengkrama, dan berintermezo guna membuang kegundahan, kini pak Edy mulai berkata kata dengan serius.
"Sofia, tujuan saya kemari ada tiga hal"
Membuat semua yang disana, mendengarkan dengan saksama.
"Yang pertama adalah silaturahmi, bagaimanapun juga Hartadi adalah rekan baik saya. Saya berharap meskipun dia sudah tiada, hubungan kita masih terjalin dengan baik"
"Dan yang kedua, saya ingin meminta maaf kepadamu kepada Bella terutama, atas perbuatan putra saya. Leo"
Leo yang disebut namanya itu , merasa kepalanya benar benar seperti dihujam oleh benda berat. Damned!
Mama Sofia juga mengernyit tak mengerti,"Kesalahan?" namun ia masih menunggu pak Edy menyelesaikan kalimatnya.
"Dan yang terakhir, sebagai bentuk menjalin silaturahmi kami akan bertanggungjawab atas bayi yang sekarang di kandung Bella"
Duaaaarrrr
Laksana petir yang menyambar disiang bolong, mama Sofia seketika lemas. Lidahnya kelu tak bisa berkata apa apa.
Ia menatap Bella, bahkan menitikan air mata detik itu juga.
David terlihat tegang, pak Edy mencoba menghela napasnya guna menetralkan hati yang sesak, dan Leo jangan ditanya. Ia sudah seperti mayat hidup, karena pucat.
"Maafin Bella ma" ia merengkuh tubuh mamanya yang bergetar karena menangis.
Mereka semua terdiam, menyisakan keheningan. Hanya ada suara Isak tangis mama Sofia yang kini terlihat makin menjadi.
Setelah ia mencurahkan kesedihan lewat menangis, dan posisi masih merangkul putri semata wayangnya itu, ia melepas pelukannya.
David menyodorkan sebuah kotak tissue, air mata membanjiri wajah cantik mama Sofia.
Ia menyusut hidungnya dengan tissue, lantaran sudah penuh dengan lendir yang otomatis keluar bersama air matanya tadi.
"Saya minta maaf tante, Tante boleh melakukan apa saja untuk menghukum saya" Leo tak bisa lagi menahan dirinya, ia begitu merasa bersalah melihat mama Sofia menangis seperti itu.
Namun mama Sofia hanya menggelengkan kepalanya, ia kembali terisak begitu Leo mengutarakan perkataannya.
David menyodorkan segelas air putih, berharap bisa melegakan sedikit kesesakan yang dialami oleh calon mertua adiknya itu.
Pantas saja putrinya itu kini sedikit kurus, dan beberapa waktu lalu Leo datang kerumah untuk mencari anaknya itu.
Ditambah Bella yang beberapa hari tidak pulang, ia juga mendadak tidak doyan dengan beberapa makanan kesukaannya.
"Kamu kenapa gak cerita ke mama" ucapnya sambil mengelus kepala Bella, yang kini sama dengan dirinya. Air matanya sudah menganak sungai.
__ADS_1
"Kamu tahu anaknya Bu Linda? ia juga hamil lebih dulu, tapi karena tidak jujur kepada orang tuanya, ia menggugurkan kandungannya dan ia malah jadi meninggal" ucapnya dengan tangis yang makin menjadi.
"Mama gak mau seperti itu, mama sayang sama kamu. Cuma kamu yang mama punya"
"Maafin Bella ma, mama boleh marah kepada Bella" ia memeluk tubuh mamanya yang bergetar.
Pemandangan mengharukan itupun tak luput dari pandangan ketiga pria yang duduk berjejer di hadapan merkea itu.
David sesekali mengusap wajahnya, dan Leo yang tiba tiba ingin meraih tubuh Bella, ia merasa menjadi manusia paling sialan di dunia ini.
"Kita hadapi ini sama sama sayang" ucap mama Sofia merapikan rambut Bella yang berantakan.
"Tidak di sangka, keinginan papa untuk menjodohkan kalian memang sudah termuat dalam skenario Tuhan" ucapnya tersenyum sambil mengusap air mata Bella menggunakan dia ibu jarinya.
"Kau benar, dulu Hartadi pernah berkata kepadaku. Ingin menjodohkan anakmu dengan Leo. Semoga dengan keputusan kita ini, membuatnya tenang disana" terang pak Edy mantap.
Mama Sofia hanya mengangguk, ini merupakan takdir yang harus dijalani. Dan jika memang berjodoh, sekeras apapun menolak pasti kan terjalin juga. Meski melalui jalan yang seperti ini, tapi manusia tidak bisa menebak jalan hidupnya.
Bisa saja kesedihan yang di alami saat ini, justru membawa kebahagiaan di masa mendatang.
Mungkin yang kita kejar, justru tak mendatangkan apapun buat kita.
"Mama merestui kalian" ucapnya tak kalah mantap.
Leo dan Bella merasa lega, ia tak menyangka semua urusannya di mudahkan, termasuk kejujurannya kepada mama Sofia.
Meskipun Leo belum mencintai Bella, namun ia merasa hatinya sakit melihat Bella berderai air mata.
Setelah obrolan yang mencekam dan penuh haru itu berkahir, mama Sofia menjamu mereka dengan hidangan yang sudah dipersiapkan.
Meskipun dia masih syok, namun mama Sofia tetap bisa membuktikan bahwa dia sosok ibu yang baik.
Kebijaksanaan yang diberikan mama Sofia membuat Leo kagum, fix mertua idaman.
Namun sejurus dengan itu ia masih merasa tidak enak hati, akan jauh lebih baik baginya jika mama Sofia memarahinya memberikan umpatan untuknya, dari pada seperti ini.
Pak Edy, David dan mama Sofia masih terlihat terlibat obrolan selepas acara jamuan malam itu.
Leo menghampiri Bella yang duduk terpekur di kursi putih, yang berada di halaman belakang. Memandangi gelapnya malam, ditemani udara dingin yang mengusik kulitnya.
"Aku minta maaf" ucapnya sambil duduk di samping wanita yang tengah menyusut sudut matanya itu.
Bahkan hempasan angin yang di timbulkan oleh tubuh Leo, membuat Bella mampu menghirup wangi tubuh lelaki yang menanamkan benih di rahimnya itu.
Membuat dia merasakan ketenangan, meski tak bisa seluruhnya terhirup. lantaran hidungnya masih pengar, karena di penuhi oleh lendir kental yang hadir bersamaan dengan Isak tangisnya tadi.
"Aku sudah lega, mama sudah tahu" ucap bela menerawang kedepan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa masih sering mual?" Leo mencoba bertanya.
Ia mengangguk" paginya enak makan, siangnya keluar semua".
"Besok aku antar periksa"
Leo memandang wajah dengan mata sembab itu.
"Aku seorang dokter, tak perlu se khawatir itu. Ini adalah gejala umum yang terjadi pada semua wanita hamil" terangnya.
"Kau tanggung jawabku sekarang" Leo masih menatap wajah Bella.
Bella menoleh, menatap wajah tampan Leo. Ini adalah kali pertama mereka bersitatap dengan sangat lama.
Kata katanya tak pelak membuat rasa bahagia muncul dihatinya.
Ada rasa bersalah yang terpancar dari sorot mata Leo, ia juga menangkap ketulusan dari mata pria yang selama ini ia gandrungi itu.
Pria yang juga sering tidak menganggap perasaannya.
"Maaf" ia menangkup wajah Bella, mereka terbawa suasana dan entah karena hati Leo yang mulai sedikit terbuka, atau karena terbawa arus malam itu ia mendekatkan wajahnya ke wajah Bella.
Bella yang seolah tahu hal apa yang akan dilakukan oleh Leo itu, memejamkan matanya.
Namun sejurus kemudian," Leo kita pulang sekarang!" terdengar suara yang datang kearahnya.
Mereka berdua terkejut , Leo melepas tangkupan tangannya dari wajah Bella dan langsung membuang pandangannya masing masing.
Jangan ditanya seperti apa malunya mereka. Malu banget, Hamsyooong!
__ADS_1
Visual Bella ( Credit foto from Google)