Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 186. Mimpi Jessika yang Terwujud


__ADS_3

.


.


.


" Kau, kau kenapa?" Gendis menatap wajah Jack lekat dari dekat. Tampan dan penuh garis kharisma, seraya mencari jawaban atas luka yang banyak di tubuh pria itu.


Namun bibir Jack tak terbuka sama sekali. Pria itu malah terkesima dengan Gendis.


Sejenak mereka berdua adu pandangan. Diam dan hening saling menikmati. Jack yang terbuai dengan wajah manis Gendis mendekatkan wajahnya ke arah perempuan di depannya itu.


Namun saat wajah mereka sudah tak berjarak..


Tok Tok Tok


" Woy Jack!" suara Victor datang menginterupsi. Membuat Gendis yang kesadarannya kembali mendadak itu, kini belingsatan. Pria di depannya itu hendak menciumnya.


Dengan malu dan gerakan cepat Gendis memunguti pakaian Jack yang ia campakkan tadi, sementara Jack dengan wajah santai segera menyambar kaos yang ia buka tadi, sejurus kemudian ia memutar anak kunci dengan cepat.


" Permisi!" Ucap Gendis yang langsung menerobos begitu melihat pintu itu sudah terbuka, dengan membawa setumpuk tinggi pakaian kusut Jack.


Gendis langsung melenggang menuju singgasananya di area tempat pencucian. Tempat nya berjibaku dengan gunungan baju majikannya.


Astaga dia pasti sudah gila, apa dia mau menciumiku? edan tenan!


Gendis memegangi dadanya yang berdebar, seraya memejamkan matanya saat ia tiba di tempat dengan banyak sekali mesin cuci itu.


Victor yang melihat hal itu hanya mendelik dan menatap temannya itu, seoalah meminta penjelasan.


Apa yang dilakukan dua anak manusia itu di dalam kamar, dengan pintu yang terkunci.


" Elo.....?" Victor penasaran.


" Dia rapiin isi lemari gue, udah jangan ngaco!" sahut Jack yang tahu raut muka penasaran Victor.


" Ngerapihin baju sampek pias gitu wajahnya!" gerutu Victor.


" Gue sakit, mending elu pijitin gue!" ucap Jack yang kembali masuk kedalam kamarnya.


.


.


Hari berganti hari, fajar menyemburat kuning cerah di perbatasan cakrawala. Gendis pagi ini libur. Ia masih sering malu dan keranjingan saat tak sengaja bertemu dengan Jack ataupun Victor.


Minggu yang ia selalu dambakan agar bisa bermalas-malasan, malah hilang begitu saja karena Yudi sakit bisul.


Pria itu merengek tiada henti. Berbanding terbalik dengan badannya yang tinggi besar, pria itu rupanya tak tahan dengan sakit yang menjalar di betisnya.


" Mulane ojo mangan endog ae! ( makanya, jangan makan telur terus!)" omel Gendis kepada bapaknya.


" Mangan endog pisan ae di semantani ( makan telur sekali saja di omeli)" sahut Yudi yang berjalan terpincang-pincang karena bisul di betisnya yang sebesar biji Ketapang.


" Manggil pak mantri aja lah Pak, aku pingin tidur sepanjang hari loh. Libur cuma sehari biar bisa istirahat malah begini!" tentu saja Gendis menggerutu.


Baginya, meski gaji yang di janjikan Jessika terbilang besar, tapi harus ia akui tubuhnya kerap lelah usai bekerja. Ia menjadi tak bisa tidur siang.

__ADS_1


" Ya wes, sana panggilkan saja. Palingan suntik bayar seket ewu ( limapuluh ribu)" tutur Yudi seraya meringis kesakitan.


Sebagai anak, meski ia kerap sebal dengan bapaknya itu, Gendis masih berusaha menunaikan baktinya kepada satu-satunya kerandah keluarga yang masih ia miliki itu.


Gendis berjalan kaki, ia berjanji dalam hatinya jika menerima gaji pertamanya nanti, ia akan kredit motor bekas di dealer second, agar ia tak menderita seperti itu.


Di perjalanan, ia bertemu dengan Anjana. Wanita yang pernah menjadi temannya sewaktu sekolah dulu, wanita yang lebih dahulu menikah di usia muda, wanita yang sudah lama tidak ia jumpai.


"Ja Anjana..!" Gendis berteriak, membuat wanita yang sibuk membeli sayur di warung kelontong tetangganya itu menoleh.


" Ya ampun Anjana....kamu pulang? ini bener kamu kan?" Gendis menghampiri wanita dengan tubuh tinggi dan padat itu.


Rumor yang beredar, Anjana di nikahi oleh pria kaya dan membawanya ke kota. Banyak yang iri kepada kehidupan Anjana, wanita yang pernah bekerja di minimarket Bravomart itu, terlihat berwajah sendu. Membuat Gendis kepo.


" Gendis... !!!Gendis apa kabar?" Anjana memeluk tubuh Gendis hingga membuatnya terhuyung. Sebuah pertemuan yang meleburkan rasa rindu sebagai seorang sahabat.


" Aku kira gak bakal ketemu kamu lagi, semenjak kamu pergi aku gak punya teman lagi selain kamu. Cuma si Sono yang setia sama aku sampai sekarang!" Gendis terkekeh.


" Kamu balik sama siapa?" Gendis kepo.


" Sama Bian. Anakku!" jawab Anjana tersenyum simpul.


" Kamu mau kemana?" tanya Anjana.


" Aku mau ke Pak Jarno. Bapak sakit udun ( bisul)!"


" Nanti aku kerumah kamu deh ya. Aku buru-buru sekarang, tunggu aku ya Ja!" Gendis merasa senang. Sahabatnya yang telah lama tak bertemu kini kembali. Ia sudah merasa sangat cocok dengan Anjana yang telah bersahabat dengan dirinya sejak SD.


Hari itu berjalan lancar, usai membayar lima puluh ribu rupiah , Mantri itu berpamitan pulang. Tentu saja setelah memberikan beberapa obat-obatan untuk di konsumsi Yudi.


" Nih, aku beliin rawon. Habis itu minum obat terus tidur. Aku mau pergi dulu!" ucap Gendis menata piring berisikan nasi, dan mangkok berisikan rawon yang ia beli di warung makan ujung jalan yang terkenal mahal namun tidak enak.


" Makan rawon cuma pas sakit aja!" sahut Yudi kini meraih piring.


" Makanya kerja biar bisa makan empal gentong sampai muntah tiap hari!! Udah lah, jangan buat aku badmood pak. Aku gak mau darah tinggi pagi-pagi!" gerutu Gendis seraya membukakan obat yang diberikan Pak Mantri tadi.


" Baik-baik dirumah, gak usah ngeluyur kalau masih di azab sama itu udun ( bisul)!" ucap Gendis seraya memakai sepatu asal.


Yudi hanya menggelengkan kepalanya, ia sebenarnya kasihan kepada Gendis. Tapi ia terlalu gengsi kalau harus kerja nguli atau macul ( mencangkul) di sawah orang.


Mungkin saja, pria itu memang pemalas.


Entahlah, ucapan anaknya barusan seolah menonjok harga dirinya. Ia kasihan kepada Gendis.


.


.


Jessika terlihat memetik gitarnya dan menyanyikan lagu twinkle- twinkle little star dengan suara merdunya. Deo yang mulai aktif di usianya yang menuju empat bulan itu, nampak senang dengan nyanyian Jessika.


Sore itu sembari menunggu David pulang, ia sengaja mengajak bermain Deo di rumah tengah. Deo yang di letakkan di atas baby stroller nampak tertawa riang dengan pipi gembulnya.


Ya, hari ini David menjemput Leo dan Bella bersama Claire, juga beberapa tenaga pendidik di TK Tunas Rimba yang Darmawan Group dirikan.


Twinkle, twinkle, little star


(Kerlap-kerlip bintang kecil)

__ADS_1


How I wonder what you are


(Bagaimana aku tahu kamu itu apa?)


Up above the world so high


(Jauh di atas semesta yang tinggi)


Like a diamond in the sky


(Bagai berlian di langit)


Twinkle, twinkle little star


(Kerlap-kerlip bintang kecil)


How I wonder what you are


(Bagaimana aku tahu kamu itu apa?)


" Astaga sayang, jadi kamu yang lagi nyanyi. Anak-anak sampai pada nanyain waktu baru sampai tadi!" ucap David tiba-tiba yang muncul dari arah depan.


" Loh mas, udah datang. Kok gak dengar mobilnya?" Jessika meletakkan gitarnya lalu meraih Deo, dan kini menggendongnya.


" Mobilnya Victor bawa lagi buat beli perlengkapan yang kurang sama guru baru, besok mereka udah mulai ngajar. Ya mungkin perkenalan dulu!"


Jessika merasa senang, suaminya itu benar-benar menuruti apa yang menjadi impian Jessika. Penuntasan kemiskinan di desanya, pendidikan untuk semua warga kurang mampu, lapangan pekerjaan yang memprioritaskan putra daerah.


" Kakak ipar....!" Bella berteriak saat ia bertemu Jessika. Dengan cepat Jessika menyerahkan Deo kepada suaminya. Membuat David menggelengkan kepalanya.


" Aku kangen!" ucap Bella memeluk erat Jessika.


" Sama Bel, kamu apa kabar?" Jessika nampak bahagia bila bertemu dengan adik-adiknya itu.


" Aku baik!"


" Hallo Claire...kamu makin gembul ya, sini salim sama Bude!" Jessika menyongsong anak Leo dan Bella yang kini berusia satu tahun lebih itu.


Bocah itu menggeleng lemah, mungkin karena lelah habis perjalanan jauh.


" Dia masih ngantuk, aku bawa ke dalam dulu!" Leo yang menggendong putrinya itu nampak turut bahagia.


" Bel, kamu....!" Jessika baru menyadari bila adik iparnya itu terlihat lebih berisi.


" Calon adiknya Claire!" ucap Bella mengusap perutnya yang sudah agak menyembul.


" Astaga... Leo kamu benar-benar!!" Jessika berteriak kepada adik dari suaminya itu. Tak mengira mereka yang dulu memiliki kisah rumit, sekarang justru menjadi keluarga bahagia.


" Sayang, apa kita perlu membuatkan adik untuk Deo secepatnya?" ucap David.


" Hah?" mata Jessika membulat demi mendengar perkataan santai suaminya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2