Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 164. Tomy Gak Balik!


__ADS_3

.


.


Karena kelelahan keduanya terlelap, namun Eka saat itu terbangun dengan kepala sedikit pusing dan badan pegal. " Aduh, mumet ndasku ( pusing kepalaku)"


Saat hendak beranjak, ada sesuatu yang berat melingkar di perutnya. Ia menoleh, rupanya tangan penuh otot yang terlihat kuat dan perkasa itu tengah berada di tubuh polosnya. Sejenak ia memandang wajah tampan Tomy dengan tersenyum. Tapi sejurus kemudian," auuwww!" bagian kewanitaannya terasa perih dan sakit.


"Kenapa bangun?" Mendengar rintihan Eka yang terbangun karena sakit di bawah sana, Tomy turut bangun dari tidurnya. Ia bahkan tak malu dengan tubuh polosnya, ia berdiri meraih ponsel di nakas. " Bisa-bisanya dia tidak malu begitu!" ucap Eka dalam hatinya, dengan pipi yang mengeluarkan semburat merah.


Tomy melihat jam di ponselnya, tertera angka 01.03. Rupanya dini hari, Tomy berdiri dengan tubuh polos membelakangi Eka. Eka bahkan bisa melihat punggung pria yang begitu kekar, punggung yang jarang terekspos. Otaknya sejenak ngeres, mengingat perbuat erotis mereka beberapa jam yang lalu.


"Kenapa bangun?" pertanyaan itu diulang.


"Aku kebelet pipis!" Eka nampak menahan sakit di bawah sana, perih dan pangkal pahanya terasa pegal. Eka tak menyangka pria dengan wajah datar dan memiliki sikap dingin seperti Tomy, mampu memberikan sentuhan hangat yang memabukkan.


"Biar ku bantu!" Tomy tahu bila Eka kesakitan, Tomy yang senang karena dia adalah yang pertama untuk Eka. Dan ia harus memastikan, bahwa setelah ini dia juga yang akan menjadi yang terakhir.


"Eh tidak usah, aku bisa sendiri!" Eka jelas menolak, agak sedikit rikuh bila Eka mau di bopong. Mengingat Tomy tengah tak mengenakan apapun untuk menutup tubuhnya, begitu juga dengan dirinya. Eka menggunakan pakaian dalamnya, ia malu jika harus bertubuh polos dan riwa riwi kesana kemari.


Tomy menatap Eka yang menghilang di balik pintu kamar mandi, sejurus kemudian ia menatap bercak di sprei itu. Ia menjadi tersenyum sendiri. Dia gila, sangat gila. Tak mengira balada nasi goreng akan menjadi pergulatan panas dengan gadis yang ia sayangi.


Tomy juga bangga, Eka menjaganya sampai sekarang. Ia berjanji dalam hati, tidak akan menunda lagi untuk menghalalkan Eka. Entah mengapa, setelah memasuki Eka ia menjadi makin gila, aroma Eka yang memabukkan jelas membuat otaknya tak bisa berfikir jernih.


Ia berpura-pura terpejam, Eka sesaat berjalan tertatih masakan perih di pangkalnya. Ia mendaratkan tubuhnya ke kasur itu, menatap Tomy yang terlihat terpejam.


Eka menyusuri wajah Tomy yang ganteng meski dalam keadaan mblunus tanpa pakaian, " Jangan mandangi aku terus, atau kamu pingin nambah Hem?" Tomy berbicara seraya menutup matanya.


Eka terperanjat," ini sakit sekali, kau tidak bilang bila rasanya akan seperti ini!"


Tomy tergelak," tadi kamu ngomandoin aku buat keluarin di luar, sekarang kamu gak tau kalau rasanya seperti ini!" goda Tomy.

__ADS_1


"CK, ya aku kan gak pernah!" Eka manyun.


"Terus kenapa minta aku keluarin di luar?"


"Ya aku kan pernah nonton filmnya kakek sugiono, biasanya juga begitu!" demi apapun yang terjadi, Tomy tertawa demi mendengar ucapan Eka. Jadi selama ini dia sering menonton adegan film 21+ yang dibintangi seorang kakek tua bangka dari Jepang.


Eka manyun karena di tertawakan Tomy, menyadari Eka yang sebal Tomy merengkuh wanita itu kedalam dekapannya. " Maaf" Tomy mencium bibir Eka sekilas. Eka yang merasa Tomy bukanlah Tomy itu, merasa banyak bunga bermekaran diatas kepalanya. Apakah dia bermimpi saat ini.


Hujan rupanya akan turun semalam suntuk, Tomy kembali mengungkung Eka , memandangnya penuh hasrat. " Akan kubuat rasa sakit itu, menjadi rasa nikmat!" bisik Tomy di telinga Eka, yang membuat sekujur tubuh wanita itu bak dialiri arus listrik.


Dan mereka bergumul kembali, melanjutkan apa yang tertunda. Cicak di dinding kamar hotel itu, seolah menjadi saksi dua anak manusia yang terbakar gelora cinta yang tengah membara.


***


Pagi menjelang, Jessika hari ini terlihat bersemangat membantu bik Darmi menyiapkan sarapan.


"Bibik aja non, non Jessika gak boleh capek. Saya kena marah nanti!" Ya, semenjak menjadi menantu keluarga Darmawan, Jessika kini mendapat embel-embel Nona di depan namanya.


"Gak akan, udah bibik goreng ayam aja. Ini sayuran biar aku yang proses!"


" Tomy kemana sih?" David mencium pipi istrinya yang sibuk mengoreksi rasa masakannya.


"Bukannya semalam telepon mas!" ucapnya seraya menambahkan sejumput garam, karena tumisan itu sedikit kurang asin.


"Gila tu anak, mana pagi ini ada tamu dari dinas pertanian!" gerutu David.


"Coba telpon!" ucap Jessika mencoba memberikan solusi.


"Gak aktif, apa dia sengaja mau mangkir karena keseringan kamu suruh- suruh sayang?"


"Enak aja, aku semalam gak nyuruh apa-apa. Udah di cari ke semua kamar?

__ADS_1


David mengangguk, " semua kamar mandi udah aku kelilingi!, awas aja kalau tu anak nongol. Pas gak di butuhin aja berserakan dia dimana-mana. Sekarang giliran di butuhin, main ngilang aja dia kayak asap.


Jessika terkekeh melihat suaminya yang pagi itu badmood, gara-gara si Tomy yang hilang ditelan bumi. Andai mereka tahu, jika saat ini si Tomy dan Eka tengah indehoy di hotel, entah apa yang bakal David lakukan.


"Mobilnya tidak ada, beneran gak balik tu anak. Pergi kemana dia?" David kesal setengah mati, mau tidak mau dia harus ke Gudang sendiri. Bik Darmi baru saja mengecek garasi mobil, dan berkata jika Toyota expander hitam itu belum kembali.


"Sudahlah, nanti aku kasih tau buat segera nyusul kalau dia datang!" Jessika berusaha menenangkan suaminya yang agak tempramen, bila menyangkut pekerjaan.


"Nanti gak usah kirim makan siang, aku bakal balik nanti!" David mengecup kening serta bibir istrinya usai sarapan. Pak Edy hari itu ada di kota S, tengah berkunjung ke baby Claire. Leo yang makin sibuk dengan perusahaannya belum bisa berkunjung ke desa, Bella juga sama. Al hasil, pak Edy yang sudah kangen berat kepada cucunya itu memilih untuk bertolak ke Kota S.


Jessika merasa lebih cocok tinggal di desa, selain dia lahir serta di besarkan di desa yang membuat dirinya mengerti akan kehidupan yang sering naik turun itu, ia juga bangga karena suaminya mampu membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.


Angka pengangguran di desa itu, juga berkurang signifikan. David pun sepertinya sudah bisa terbiasa dengan situasi ini, karena jelas dia yang begitu menyayangi istrinya itu akan selalu memberikan apa yang di mau istrinya.


David tiba di gudang utama dengan mood yang buruk, " Tomy belum datang?"


" Belum bos, gak biasa-biasanya dia terlambat!" pak Eko turut resah padahal, hari ini ada hal yang sangat penting. Kunjungan dari dinas pertanian kota setempat yang akan meninjau lokasi perkebunan cabai terbesar di kota itu, perkebunan yang kiat maju dengan pesat di desa P.


"Si Eka udah datang?" David agak curiga, nampaknya dari roman- romannya usai melamar Eka, assistennya itu bisa saja pergi berkencan semalam.


"Belum datang juga bos!" sahut pak Eko.


"Oh sial!" David seolah mengerti, jelas mereka pergi berduaan. Tapi kenapa sampai tidak pulang?, bolehkah jika David tertawa saat itu, mungkinkah manusiawi datar assistennya itu tengah masuk dunia pertempean.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2