Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 184. Jack & Gendis


__ADS_3

.


.


.


Gendis sengaja tak jadi memberikan madu ke dalam gelas yang berisikan seduhan jahe itu. Ia bahkan sengaja memberikan banyak irisan jahe geprek ke dalam gelas jumbo itu, sebagai sarana pembalasan.


Aji mumpung ia lakukan. Mumpung bisa balas dendam maksudnya. Sejurus kemudian ia melesat kabur untuk menghindari sesuatu yang tidak dia harapkan. Damprat dari Jack misalnya.


Ia mendudukkan diri di kursi belakang rumah pak Edy. Menatap nanar hamparan tanaman Cemara yang indah. Entah mengapa ia sedikit menyesal karena membuat orang lain seperti itu. Tapi, ia manusia biasa yang tak bisa menahan rasa kesal.


Gendis miskin dan sengsara. Dan yang tersisa dalam dirinya cuma keberanian.


" Ndis, kamu di cariin mas Jack tuh!" Yu Sal menyembul dari balik pintu sebelah kursi Gendis. Membuat lamunan perempuan dengan rambut coklat itu menguap ke udara.


" Ya Allah Yu, bikin kaget saja!" gendis yang melamun mendadak jenggirat dari duduknya.


" Nyari saya? memangnya kenapa Yu?" Gendis lupa bila Jack adalah salah satu anggota majikan yang wajib ia perlakuan dengan baik. Dan sepertinya ia telah melakukan sebuah kesalahan.


" Gak tau, udah cepat sana kamu kesan. Keburu marah nanti!"


Dengan sedikit kecemasan melanda hatinya, Gendis bangkit dari kursi itu dan segera mencari pria mengesalkan tadi.


Kok perasaanku gak enak banget ya


Gendis berjalan keluar dari rumah utama. Di bangunan sebelah rumah utama itu terdapat bangunan memanjang yang berisi beberapa kamar besar. Mirip seperti hotel melati, hanya saja desain bangunan yang lebih futuristik menjadi penegas bila tempat itu adalah tempat mewah.


Ada banyak kamar disana, salah satunya di huni oleh Victor dan Jack. Gendis mengetahui hal itu dari penuturan Bik Darmi tempo hari.


Sejenak ia menyesal dan bingung, yang mana yang merupakan kamar pria bernama Jack itu. Ada banyak kamar disana, kamar yang sengaja di siapkan oleh pak Edy bila banyak rolingan pegawai dari kota S yang bertandang ke desa.


Dengan celingak-celinguk Gendis mencari pria itu. " Asli niat ngerjain aja ni orang!" Gendis berkacak pinggang seraya menghadap ke arah selatan, persis di depan sebuah pintu berwarna coklat. Merasa bodoh karena harus mau menuruti.


Namun saat matanya masih sibuk mengitari daerah sekitar bangunan memanjang itu, sebuah pintu di lain berjarak satu meter terlihat terbuka. Kepala Jack terlihat menyembul dari balik pintu itu.


" Masuk!" ucap Jack menggunakan kepalanya untuk menunjuk ke arah dalam kamarnya.


Mata Gendis membulat," Untuk apa aku masuk?" tentu saja Gendis menanyakan hal itu. Mengapa dia harus masuk ke kamar seorang pria.


" Kau baru saja berbuat hal kurang ajar kepadaku, masuk dan segera tebus kesalahan mu, atau aku akan mengadukan mu kepada Bos David!" Dengan bersidekap, Jack mengintimidasi Gendis menggunakan tatapannya. Licik dan telak.


Sejenak gendis tertegun, ia sangat suka dengan Jessika. Ia tak enak hati jika harus pergi dari sana, apalagi mengecewakan dengan perbuatannya.


" Hey...mau sampai kapan kau mematung di sana. Tenang saja, aku tidak bernafsu sama perempuan model kamu!" ketus Jack.


Membuat Gendis menatap pria itu tajam.


Gendis masuk dengan melewati pria yang berdiri di ambang pintu itu dengan dada bergemuruh ,tanpa menoleh kearah Jack. Ia terperangah saat melihat isi kamar Jack. Kamar itu sangat luas ternyata.


Terdapat satu ranjang besar , di sebelahnya terdapat nakas berdesain mahal, sebuah set sofa yang terlihat empuk menjadi penegas kenyamanan. Sebuah lemari pakaian ukuran besar juga berada di sana, kemudian banyak lemari- lemari kecil yang sangat bagus, kotak akrilik mahal berisikan banyak parfum dan terdapat rak sepatu dengan penutup transparan, tempat dasi yang rapih, serta sebuah meja yang tidak ia ketahui apa itu.


Kamar Jack tak luput dari sapuan matanya. Sejenak ia mengira bila kamar Jack ini adalah hotel yang biasa ia lihat di film bersama Sono. Mengkilat dan bersih.


Ceklek

__ADS_1


Suara pintu yang tertutup keras membuat wanita itu terperanjat. Dengan terkaget-kaget, ia memandang pintu dan wajah Jack yang datar secara bergantian.


" Mau apa...kok di tutup?" tanya Gendis masih dalam mode kian terkejut.


Jack membisu tak menjawab, pria itu malah memutar anak kunci sebanyak dua kali.


" Apa otakmu selalu mesum begini?" tukas Jack berengut. Menatap Gendis sebal.


" Mau apa kamu...!" Gendis mundur beberapa langkah saat Jack terus maju. Wanita yang beringasan itu, kini bak kehilangan taringnya hanya karena bersama seorang pria di dalam kamar.


" Hey jangan macam-macam!!!" Gendis kini mentok hingga ke lemari pakaian milik Jack.


Jack tak peduli, ia terus maju dengan wajah datar.


" Hey apa kau tid..."


Krak


Jack membuka pintu lemarinya yang berada persis di samping Gendis. Membuat wanita itu kini malu dan keranjingan. Jack tak menuju kepadanya, namun ke lemari pakaian miliknya.


" Bereskan lemari pakaianku!" ucap Jack usai membuka pintu lemari besar yang isi dalamnya memang berantakan.


Gendis sangat malu sekali saat itu. Mengira Jack akan melakukan hal tak senonoh kepadanya.


" Cepat bereskan, aku mau tidur dulu!" usai mengatakan hal itu, pria yang sudah mengganti bajunya dengan kaos dan celana pendek itu langsung melemparkan tubuhnya ke atas ranjang besar miliknya. Meninggalkan Gendis yang masih diam mematung dan terlihat belingsatan.


Jancok tenan!


Umat gendis dalam hati. Wanita itu merasakan spot jantung, hanya karena Jack berada di sampingnya. Aroma pria itu bahkan menguar di hidung Gendis. Wangi maskulin menjadi penegas bila Jack adalah pria kuat.


Hey...mau sampai kapan kau mematung di sana. Tenang saja, aku tidak bernafsu sama perempuan model kamu


Ia tahu, mana mungkin pria sekelas Jack mau dengannya. Namun, entah mengapa kini ia sedikit lega. Ia manusia normal yang juga memiliki ketertarikan kepada lawan jenis. Tapi tidak dengan pria bermulut pedas itu pastinya.


Membuang rasa malunya, Gendis segera melakukan tugas dari Jack. Lebih cepat lebih baik pikirnya. Memang sudah tugasnya menggantikan Ani yang harus mengurusi pakaian majikannya. Tapi ia tak mengira jika harus seperti ini.


Gendis menghela napas. Masih menjadi misteri, mengapa semua pria tak pernah rapih saat mengambil tumpukan baju. Ia kembali teringat dengan Yudi bapaknya. Yang kerjaannya ngalor- ngidul tak jelas, dan hobi membuat rumahnya yang bobrok itu makin tak karuan.


Bajunya gak ada yang jelek, apa semua orang kaya seperti ini?


Gendis merapikan beberapa lipatan celana yang bisa ia simpulkan itu adalah seragam Jack. Ia pernah melihat pria itu mengenakan pakaian itu saat nyaris menubruknya.


Wanita itu terus menekuni baju-baju yang terlihat mahal itu.


Ia berkutat dengan baju-baju itu selama satu jam. Rupanya banyak sekali baju kusut yang ia pilah, dan akan ia setrika kembali. Dan selama itu pula, ia tak menoleh sama sekali ke arah Jack.


"Mama!" pria itu mengucapkan satu kata. Membuat Gendis menoleh.


Kenapa dia?


Jack terlihat masih memejamkan matanya, hanya saja pria itu kini sudah dalam posisi berbalik dan terlentang.


" Ma!"


Ucap Jack lagi dengan mata terpejam, Gendis bisa menyimpulkan dengan yakin bila pria itu tengah mengigau.

__ADS_1


Ngelindur dia


Gendis terkekeh-kekeh saat melihat Jack yang memang tak sadar saat berucap itu.


Entah atas dorongan apa, ia berjalan ke arah pria mengesalkan itu usai pekerjaannya beres. Ia menatap wajah Jack yang terlihat gelisah dengan alis bertaut namun masih dengan mata yang terpejam.


Gendis menatap wajah Jack yang ganteng, alis yang tebal dan bibir penuh yang kerap memberikan kata-kata pedas terhadapnya.


Gendis mengernyitkan dahinya saat melihat wajah Jack kini memerah. Gendis menyentuh kening pria itu.


" Panas sekali!"


Gendis langsung menarik tangannya saat ia merasakan kening Jack yang terasa bersuhu tinggi itu.


Dan entah karena dorongan apa, Gendis malah ingin memastikan lagi suhu pria itu. Sejenak ia merasa bersalah karena telah mengerjai Jack tadi.


Ia menempelkan telapak tangannya ke leher Jack guna memastikan kebenaran, bila pria itu benar-benar sakit.


Namun saat tangan Gendis menempel di leher pria itu, Jack yang merasakan sentuhan di tubuhnya seketika memengang tangan Gendis. Membuat mata wanita itu membulat, dan jantungnya berdegup kencang.


"Ma..mama dimana!" Jack masih bergumam dengan posisi masih tertidur seraya masih memegangi tangan Gendis.


Gendis bisa melihat wajah ganteng itu dari dekat. Ia bisa melihat bintik-bintik di sekitar wajah bersih Jack.


Kalau begini kasihan banget dia


Dan saat wanita itu hendak menarik kuat tautan tangannya, pria itu membuka matanya lantaran merasa terusik dengan gerakan Gendis.


" Kamu!!!!" Jack melemparkan tangan Gendis dengan cepat.


" Ngapain kamu pegang- pegang saya?" Jack beringsut bangun dari tidurnya.


Apa?? yang narik tanganku barusan kan....


.


.


.


.


.


.


Visual Jack.


( Anak buah Tomy yang multi fungsi, berdedikasi tinggi dan berloyalitas. Masih membujang. Di rekrut saat mereka masih belia)



Visual Gendis.


( Wanita golongan darah rakyat yang nyaris tak bisa mengontrol emosi, memiliki sifat berani dan tak suka basa- basi

__ADS_1



__ADS_2