Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 53. Teman Kost


__ADS_3

.


.


.


Jessika nampak lebih segar setelah ia mandi dan tak lupa untuk menjalankan shalat ashar di kamar Vera, ia lalu menjemur handuk miliknya di tempat penjemuran baju milik Vera di halaman belakang kost itu.


Tak berselang lama terdengar suara motor Vera, yang sepertinya telah kembali dari membeli makanan.


"Jess udah mandi" ucapnya setengah berteriak dari pintu depan.


"Udah Ver, baru aja shalat juga aku" ucap Jessika yang muncul dari balik pintu kamar kost Vera.


"Kamu makan dulu, udah sore banget ini ayo" ajak Vera pada Jessika, ia kasihan dan merasa bersalah pada temannya itu karena tadi pagi ia lupa membawa handphonenya, sehingga membuat Jessika sempat bingung.


Mereka berdua makan nasi bungkus yang Vera beli dari langganannya, Vera sangat malas memasak padahal disana ada dapur dan juga perlengkapan untuk masak.


Namun gadis agak tomboy itu sepertinya tidak senang jika berjibaku di dapur, ia lebih memilih memangkas birokrasi rumit di dunia perdapuran itu dengan cara membeli di warung langganannya.


"Kamu gak masak ver?" tanya Jessika sambil memakan kerupuk.


"Nggak, aku males Jes sebenarnya di dapur ada kompor sama magic com " jawab Vera.


Jessika hanya menggelengkan kepalanya, temannya itu masih tetap sama saat masih SMP dulu, hanya saja ia sekarang terlihat lebih cantik dan bersih. Karena sewaktu SMP dulu Vera bahkan memangkas rambutnya pendek dan sering membuat lawan laki lakinya kesakitan jika membully teman teman nya.


"Jes aku udah selesai, aku mau mandi dulu kamu istirahat saja terserah di kamar atau di depan TV itu juga ada kasurnya" ucap Vera sambil melipat bungkusan makanannya dan memasukkannya ke tempat sampah.


"Iya Ver" jawabnya singkat.


Jessika lalu membaringkan tubuhnya di kasur yang di gelar di lantai di depan tv milik Vera, ia kemudian mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada kek Soleh jika dia sudah sampai di kost temannya, tak lupa ia juga meminta lek Soleh untuk mengabari neneknya aga tidak khawatir.


Saat pesan terkirim ia kemudian tertidur karena kelelahan, Vera yang baru keluar dari kamar mandi itu kasihan melihat Jessika yang ketiduran.

__ADS_1


Ia juga belum tahu alasan apa yang membuat Jessika sampai nekat bekerja di kota, padahal setahu dia Jessika tidak mau meninggalkan neneknya.


Yang Vera tahu, Jessika mengomentari postingan miliknya yang ia share di Facebook, setelah itu keesokan harinya Jessika menghubunginya dan berkata jika ia minat dengan pekerjaan itu.


Kemudian Vera menginformasikan jika memang minat ia akan memberitahu bosnya, dan berkata jika secepatnya Jessika harus datang ke kota S.


Kebetulan cafe tempat Vera bekerja, baru saja mengeluarkan dua orang karyawan yang kedapatan berbuat hal melawan hukum disana ,sehingga mereka urgent memerlukan pengganti untuk menggantikan posisi dua orang yang dikeluarkan itu.


Mungkin ini sudah menjadi rejeki Jessika juga, mungkin saja ini adalah jalan untuk hidupnya yang lebih baik.


"Jes Jes bangun sudah adzan magrib" Vera membangunkan Jessika dengan menggoyangkan tubuh padat berisi itu.


"Eeeeeuuuuuggghhh" lenguh Jessika sambil meregangkan otot-ototnya.


"Astaga maaf ver aku ketiduran" ucap jessika.


"Iya gapapa aku tahu kamu pasti capek, tapi ini magrib kata orang tua pamali magrib magrib perawan tidur, kamu bangun dulu nanti tidur lagi" ucap Vera.


"Ya udah aku mau wudhu dulu Ver, kamu gak shalat sekalian" ajak Jessika


"Ya sudah kalau gitu" Jessika menjawab dengan sedih, ia menduga pasti temannya itu mungkin masih seperti dulu.


Vera melihat Jessika yang tengah menunaikan ibadahnya itu merasa hatinya bergetar, namun sepertinya ia masih belum tergerak ia justru pergi ke dapur untuk menyeduh kopi susu.


Jessika tak pernah lupa memanjatkan doa doanya, ia berharap di beri kelancaran untuk esok hari ,saat dia akan datang melamar kerja di cafe tempat temannya bekerja itu.


"srrrruuuuuup ahhhh" suara seruputan kopi milik Vera yang ia minum sambil duduk di ruang tamu kostnya.


"Ver kamu ngopi" tanya Jessika yang baru keluar dari kamar, usai menunaikan shalat.


"Eh Jes, ini kamu aku buatin juga" ucap Vera.


Jessika meminum kopi itu meski ia tidak terbiasa ngopi, ia menghargai temannya yang sudah repot repot membuatkannya minuman itu.

__ADS_1


"Lah lu mau kemana?" tanya Vera yang melihat Jessika kembali masuk ke dalam padahal baru saja ia duduk dan menyeruput kopi buatannya.


"Bentar ya" ucapnya lalu segera berlalu dari hadapan Vera.


Ternyata Jessika mengambil kardus yang ia bawa tadi, ia juga tidak tahu kardus kardus itu berisi apa.


"Kita buka sama sama Ver, aku nggak tahu ini isinya apaan. Mak wek yang bawain ini" ucap Jessika seraya membuka tali kardus tersebut.


"Wahh nenekmu banyak banget bawain kue Jes, aduh udah lama aku gak makan yang ini" ucap Vera bahagia sambil mencomot satu jajanan khas desanya, yang ia sendiri juga telah lama tidak mudik.


"Ambil Ver ini, nanti sebagian kasih ibu kostmu ini banyak banget Lo" ucap Jessika pada Vera dan hanya di balas anggukan oleh temannya itu, karena mulutnya sudah penuh dengan makanan.


Mereka mengobrol dan sambil memakan jajanan yang di bawakan neneknya Jessika itu, mereka berbincang mengenai teman teman SMP nya dulu, sambil sesekali terlihat gelak tawa dari Vera yang mengingat tentang indahnya mas sekolah dulu.


"Haduh Jes, sumpah aku seneng sekarang ada kamu disini hahahaha ngakak aku kalau ingat si Slamet yang aku pelorotin celana seragamnya hahaha untung dia pakai boxer, kalau enggak gak tau deh" ucap Vera yang terpingkal-pingkal itu.


"Kamu emang gak kira kira Ver, untung aja si Slamet itu golongan tulang lunak, jadi menang telak kamu tanpa perlawanan" ucap Jessika menimpali.


"Eh Jes aku belum tanya lo ke kamu , kenapa kamu tiba tiba ingin merantau? padahal dulu kamu pingin dirumah aja nemenin Mak wekmu dirumah" tanya Vera karena dirinya memang belum tahu alasan Jessika minat dengan lowongan pekerjaan yang dia posting kemaren.


Wajah Jessika berubah menjadi sendu saat Vera mengajukan pertanyaan itu, ia lantas menceritakan sebab mengapa ia harus segera bekerja kembali dan berharap bisa dapat hidup lebih baik.


Vera yang mendengar cerita Jessika sesekali terlihat terkejut, sesekali menggelengkan kepalanya, sesekali juga ia terlihat sedih. Sungguh cerita yang di beberkan Jessika itu membuatnya larut dalam cerita.


"Ya Allah Jes, jaman sekarang eman susah kalau sudah Main CCTV, ibaratnya ini ya kamera itu yang berbicara mewakili situasi yang terjadi. Tapi kira-kira siapa yang niat banget kayak gitu, tapi kalau kita gak ada bukti susah juga Jes" ucap Vera setelah mendengar cerita Jessika.


"Makanya itu Ver untung pak Edy tidak lapor, akhirnya beliau memberhentikan aku dari sana. Terus juga warga disana pada protes untuk memecatku dari sana" ucap jessika sendu mengingat kembali kejadian itu.


"Udah kamu yang sabar, kebenaran suatu saat pasti akan terungkap. Kamu tenang aja, semoga besok berjalan lancar dan kamu betah kerjanya terus siapa tahu ini jalan kamu, ya meski sebenarnya kita ini juga buruh, kan masih ikut orang hehehe" ucap Vera.


"Makasih banget Ver, kamu emang baik" ucap Jessika menatap Vera.


"Udah jangan sedih sedih terus, entar kalau udah gajian kita jalan jalan Jes nanti kalau duitmu dah banyak, ajak nenekmu kesini" Ver mencoba menghibur temannya itu.

__ADS_1


Mereka lalu beristirahat, karena tanpa terasa mereka ngobrol sudah sangat lama. Karena besok mereka harus bersiap untuk ke cafe untuk menyerahkan berkas milik Jessika, yang digunakan sebagai syarat melamar pekerjaan disana.


__ADS_2