Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 148. Pelangi Sehabis Hujan


__ADS_3

.


.


.


Usai Mayang di gelandang menuju kantor polisi untuk mendapatkan bagiannya, Adrian dan Vera pamit untuk segera bertolak ke kota S. Tugas mereka sudah usai.


Sementara Eka tentu saja pulang kerumahnya, setelah seharian bersama dengan pria datar itu, kemudian Tomy pulang menuju rumah utama Pak Edy yang hanya berjarak beberapa meter dari kediaman nenek Jessika. Karena Pak Edy bersama Jack dan Victor masih berada di Rumah Sakit.


Pukul 23.07 WIB


Jessika masih akan menginap dirumah bersejarah itu, hingga acara 7 hari nanti digelar. Malam ini usai gelaran tahlil kedua, ia ingin mengistirahatkan tubuhnya barang sejenak.


Ia berbaring seraya menatap langit-langit kamar yang bercat putih salju itu. Rumah ini adalah saksi kehidupannya, merajut hidup bersama sang nenek yang sudah pulang menghadap Sang Khalik.


Meski sudah di rehab oleh suaminya, namun sisa- sisa kenangan masih terekam jelas di ingatannya. Ketidakhadiran orang tuanya di saat-saat remaja jelas membuat hidupnya kian sulit. Air matanya bahkan sudah lolos begitu saja.


Harusnya saat ini neneknya tengah menikmati masa senangnya, bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan membuatnya tak jarang seakan ingin menyerah. Neneknya lah yang selalu memberi kekuatan, bersama-sama melewati masa sulit.


Namun disaat roda kehidupannya tengah berputar, dan takdir sedang berbaik hati merombak hidupnya, mengapa neneknya justru meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Bahkan Jessika belum sempat memberikan cicit kepada neneknya itu. Sebagai salah satu harapan Mbok Yah.


"Semoga tenang disana Wek!" ucap Jessika seraya memejamkan matanya.


Ia kemudian mendudukkan dirinya, melihat gitar yang masih terpajang di kamarnya itu. Gitar pemberian Lek Soleh. Ia meraih gitar itu dan mencoba mengecek nada di tiap senarnya.


Masih bagus, jelas neneknya selama ini merawat gitar itu, terlihat dari bersihnya seluruh bagiannya.


Ada beberapa yang bernada fals, mungkin karena lama tak digunakan. Ia terlihat memutar stang gitar itu, membuat nadanya kembali sesuai. Ia mencoba menghibur dirinya sendiri


Tangannya lihai membentuk pola grip, sejurus kemudian ia mulai mengalunkan sebuah lagu.


🎶"Saat ku sendiri, kulihat foto dan video


Bersamamu yang t'lah lama kusimpan


Hancur hati ini melihat semua gambar diri


Yang tak bisa kuulang kembali".

__ADS_1


Jessika meresapi tiap bait lagu yang begitu dalam, menyanyikannya sepenuh hati. Setiap liriknya sungguh mewakili buncahan perasaan di dalam dasar hatinya.


🎶"Kuingin saat ini engkau ada di sini


Tertawa bersamaku seperti dulu lagi


Walau hanya sebentar, Tuhan, tolong kabulkanlah


Bukannya diri ini tak terima kenyataan


Hati ini hanya rindu".


(Hanya Rindu


Lagu Andmesh Kamaleng)


Jessika terlihat begitu menghayati lantunan lagu sedih itu, ia bernyanyi dengan suara bergetar. Ingat dengan mendiang neneknya. Kini ia benar benar merasakan arti dari kehilangan.


.


.


Ia berdiri di dekat pintu yang tidak tertutup rapat, sehabis menyusut air matanya ia membuka pintu kamar itu. Berusaha menunjukkan sikap tegar.


Lek Soleh telah kembali kerumahnya, mengingat kini David telah kembali kerumah itu. Sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka berdua untuk bicara.


"Sayang!" David memanggil istrinya.


Jessika menoleh, seraya meletakkan gitar di samping ranjangnya. Ia menggeser tubuhnya, agar suaminya turut duduk di dekatnya.


"Jangan sedih terus!" David mengusap lembut pipi istrinya itu. Ia tersenyum ke arah istrinya, begitu juga sebaliknya.


"Aku hanya merindukan nenek mas!" Jessika turut memegang tangan David, yang masih menempel di pipinya.


" Life must go on! bisik David.


"Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku mas!" Jessika menatap wajah David dengan mata berkaca-kaca.


"Berjanjilah untuk selalu mencintaiku!" kini suaranya sudah mulai bergetar.

__ADS_1


"Hanya kamu yang aku punya saat ini mas!" air mata itu sudah meluncur, mereka masih saling menatap.


David menghapus air mata di pipi putih istrinya itu," Kita akan selalu bersama. Ini janjiku!" David berbicara dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


David menyibakkan rambut istrinya yang terlihat berantakan, menutupi dahi mulusnya.


Posisi mereka sangat dekat, sama- sama bisa merasakan hembusan nafas mereka. Sejurus kemudian, David mengecup lembut bibir istrinya. Membuat Jessika memejamkan matanya, menikmati sentuhan suaminya.


David menahan tengkuk istrinya, ciuman itu berlangsung sangat lama. Makin lama makin menuntut, membuat keduanya seakan terlena.


Namun tak disangka, David melepaskan ciumannya dengan pelan. Membuat Jessika menatap heran.


"Istirahatlah, kau pasti lelah!" David mengecup kening istrinya lembut. Meskipun ia sangat ingin, namun tidak untuk malam ini. Biarlah istrinya itu istirahat.


Ia tahu betul, tubuh istrinya sudah seperti candu buatnya. Tak akan pernah puas, tak akan pernah bosan ia ingin selalu dan selalu menyentuhnya.


Namun ia melihat guratan kelelahan di wajah istrinya, beberapa hari jelas istrinya itu kurang tidur. Selain persoalan dengan dirinya, ditambah dengan kehilangan seseorang yang teramat berarti, tentu saja membuat raga Jessika rapuh.


David merengkuh tubuh istrinya, menarik selimut untuk segera bersiap mengarungi mimpi. Meski setengah mati ia menahan hasrat dan gejolak yang timbul dalam dirinya. Ia lelaki normal bukan?.


David mencoba menetralisir gelora yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, tubuh sintal milik Jessika selalu sukses membuat dirinya terpacu.


"Tidurlah, aku mencintaimu!"


Cup


Kecupan hangat mendarat di kening Jessika, entah sudah berapa kali David menghujani istrinya dengan ciuman penuh rasa cinta. Membuat Jessika tersenyum bahagia, ia teramat bersyukur atas apa yang terjadi.


Jika orang bijak berkata, semua akan indah pada waktunya. Mungkin saat inilah, ia tengah merasakan waktu itu. Meski duka masih belum sirna semua, namun kehadiran David di dalam hidupnya, membuat dia selalu bahagia.


Mendiang Mbok Yah pasti saat ini juga tersenyum senang , melihat cucunya tercinta sudah bersama dengan orang yang tepat.


Mereka terlelap dengan posisi saling memeluk, berharap akan selamanya seperti itu. Bersama-sama menguatkan, saat badai kehidupan datang menghantam silih berganti.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2