Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 152. Aku Mencintaimu


__ADS_3

.


.


.


Pagi menjelang, hangat matahari pagi menjemput mereka pulang dari bermimpi. Tentu saja, dengan badan yang terasa remuk. Bukan tanpa sebab, perhelatan panas semalam yang terjadi berkali-kali, benar-benar membuat mereka kelelahan. Bahkan lebih lelah dari rasa bekerja.


Jessika merasa terusik dengan gangguan di wajahnya. Ya, David yang baru saja membuka matanya itu, terlihat asyik menusuk-nusuk pipi mulus istrinya. Membuat Jessika terbangun.


"Emmmmm" ucap Jessika malas, karena kantuk yang masih menyelimuti. Matanya seolah diberi lem, lengket tak bisa dibuka.


"Good morning sayang!" ucap David kini menoel hidung Jessika.


"Emmmmm" Jessika menutupi wajahnya dengan selimut putih tebal itu, benar benar tak mau beranjak.


"Katanya mau ke pantai, baiklah kalau tidak jadi. Aku juga akan tidur saja!"


"Eee tunggu dulu!" Jessika membuka selimutnya dengan gerakan cepat, membuat David menyunggingkan senyum.


"Kalau begitu beri aku sarapan pagi dulu!" tatapannya dengan wajah licik.


"Apa?, lagi???"


.


.


.


Usai mengatakan kecemburuannya kemarin, Tomy agaknya sudah tak sungkan lagi menunjukkan perasaannya. Dan gilanya, pagi ini ia berniat menjemput Eka.


Ia berkali-kali berkaca guna memastikan tampilannya sudah Sip. Biasanya tidak begitu, tapi entah mengapa ia ingin terlihat perfect di depan Eka.

__ADS_1


"Kau sungguh tampan Tuan Tomy!" ucapnya seraya tersenyum bangga, seraya berbicara kepada dirinya sendiri di depan cermin besar di kamarnya.


Percayalah, bila ada Adrian atau Jack dan Victor di kamar itu, mereka pasti sudah mengumpat. Bagiamana tidak, sejak kapan pria datar nan irit bicara itu kini seperti seorang anak SMA yang tengah merasakan gejolak jatuh cinta. Hanya saja, dia kurang atraktif.


Tapi setiap orang punya caranya sendiri bukan dalam mencintai.


Saat melewati meja makan, ia melihat Pak Edy tengah duduk disana.


"Tom, sarapan dulu!" pinta Pak Edy.


"Saya terburu-buru Tuan, mohon maaf tidak bisa menemani anda pagi ini" tolaknya halus.


Pak Edy terlihat memindai tampilan Tomy yang tak biasa, aromanya pun terlihat lebih strong dari biasanya. Meskipun wangi sih. Hanya saja, ia seolah menjadi sebuah bunga buah naga.


Pak Edy juga melihat rambut Tomy yang lebih rapi, nampaknya usai di pangkas. Ya, selepas mengantar Eka pulang kemaren, ia sengaja menuju ke barber shop terbaik, guna mengupdate tampilan rambutnya. Biar makin kece.


"Kamu ada acara sepagi ini?" tentu saja Pak Edy tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.


"Berangkatlah!, urusan cinta memang ajaib" ucap Pak Edy tersenyum, ia bukanlah pria ingusan yang tak mengerti apapun . Ia sebenarnya juga mengerti bila Tomy tengah gencar mendekati salah satu karyawannya.


Membuat Tomy menggigit bibir bawahnya, antara malu dan tak bisa percaya bila ia berada di titik ini.


***


Jessika dan David benar-benar melakukan sarapan ranjang mereka pagi ini. Entahlah, bersama istrinya seroang David Darmawan merasa selalu tak pernah jemu untuk bercumbu.


Apalagi istrinya yang saat ini, sudah terlihat lebih jago dalam men-service dirinya. Membuat ia seakan tak ingin beranjak dari matras pegas di kamarnya itu.


Jessika terlihat mengenakan baju khas pantai berbahan dingin dan lembut, dengan celana hotpants. Sementara David, terlihat mengenakan celana selutut dengan baju senada.


Pagi ini mereka tengah berada di pantai, nampaknya masih sepi. David menggenggam tangan Jessika posesif, seraya berjalan menyusuri pantai dengan matahari yang belum terlalu terik. Seolah di pulau itu hanya ada mereka berdua.


Jessika terus saja menyunggingkan senyumnya, yang seolah tak pernah luntur. Meski jauh dalam hatinya belum sepenuhnya bisa menerima kepergian neneknya, namun agaknya pilihan David untuk mengajaknya berlibur sedikit banyak bisa membuatnya menjadi lebih happy.

__ADS_1


"Apa kamu senang sayang?" ucap David seraya berjalan, menyusuri hamparan pasir putih nan lembut.


"Emmm" jessika mengangguk.


"Aku pertama kali ke pantai saat bersama rombongan sekolahku dulu, itupun aku tak bisa menikmatinya" ucap Jessika seraya menerawang kilasan baliknya, sewaktu sekolah dulu.


"Why?" tanya David memandang wajah istrinya, dengan rambut yang bertebaran di tiup angin.


Jessika menoleh kepada suaminya, sejurus kemudian menatap kembali ke arah depan.


" Aku dulu mudah mabuk kendaraan, jadi disaat yang lain bisa menikmati liburan, aku hanya bisa duduk karena teler". Ia tersenyum geli.


David turut tertawa kecil, ia tak menyangka akan mendapat jodoh seorang gadis desa yang luar biasa seperti Jessika. Wanita yang istimewa menurut David.


"Kalau begitu, mari kita puaskan. Anggap saja mengganti liburanmu yang dulu" ia berucap seraya menggelitik perut istrinya. Membuat mereka saling berkejaran layaknya anak kecil.


Jika kebahagiaan itu datang, sungguh mereka berharap agar tak akan pernah pergi lagi. Sayup-sayup masih terdengar suara tawa riang mereka, sampai akhirnya....


Bruk


Jessika jatuh ke atas pasir lembut itu, kemudian David turut mengikuti posisi istrinya dengan mengungkung tubuh yang tergeletak di atas pasir putih itu.


Nafas mereka berdua terlihat kembang kempis, menandakan bila mereka tengah kelelahan. Sama-sama tertawa kecil, merasakan buncahan kebahagiaan.


David menatap lama wajah istrinya," Aku sangat mencintaimu sayang!" bisiknya, kemudian mengecup bibir istrinya.


Ya, mereka berciuman dibawah pohon nyiur, diatas pasir putih dan di saksikan oleh deburan ombak yang menggulung indah. Mengekspresikan rasa cinta, yang dititipkan Tuhan kepada ciptaanNya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2