
.
.
.
Setelah kepergian Leo, Adrian dan Tomy. Eka yang paling terlihat murung, padahal biasanya ialah yang menjadi biang cerewet diantara dua sahabatnya.
"Kamu kenapa lesu begitu ka" tanya Arin yang mulai menyalakan computer di meja itu.
Belum sempat Eka menjawab, putri tiba tiba datang dengan sikap sombongnya dan berdiri di depan Eka dan Arin.
"Jangan kira gue bakal diem ya, kalian itu ga ada apa apanya dibandingkan gue" ucap putri dengan nada sombong.
"Kamu itu emang harusnya gak cuma di tempeleng sama Jessika, kamu itu harunya di hajar aja sekalian" ucap Eka yang sudah tersulut emosinya.
Arin mencoba menenangkan Eka dan mengingatkannya bahwa jangan sampai terpancing dengan mulut Putri.
"Udah udah jangan di dengerin, dia gak punya kerjaan makanya dia gangguin kita" ucap Arin menenangkan Eka.
"Heh, lu itu baru aja dipindahkan kesini sudah belagu ya, biasanya elu itu cuman jadi buruh di sawah Sono kalau gak karena gue lu pasti masih jadi buruh disana" ucap putri makin memancing emosi.
Eka seketika berdiri dari duduknya dan hendak menyerang Putri, ia sudah tidak peduli meskipun putri adalah anak ketua mandor.
"Stop Eka, jangan di ladeni. Orang seperti dia gak pantes buat di ladeni, buang buang waktu kita saja" ucap Jessika yang tiba tiba datang karena habis mengambil buku panduan sistem cargo di lemari belakang.
Melihat seperti tengah ada ketegangan, David mendekati mereka berempat.
"Ada apa ini" suara bariton David mengagetkan mereka, apalagi Putri ia langsung berakting seolah dirinya yang di bully.
"Emmmm kak david,, mereka benar benar tidak sopan padaku aku bertanya baik baik tapi mereka malah membullyku karena kejadian kemaren, semua orang pernah bersalah kan" ucap Putri sambil memasang wajah penuh kepalsuan.
Eka yang terlihat tidak tahan dengan ucapan putri ,sontak mau membuka mulutnya untuk menjawab namun mata Jessika membulat sambil menggelengkan kepalanya, tanda perintah untuk Eka agar ia diam dan tidak melanjutkan tindakannya.
David sudah paham dan tahu tabiat Putri, namun tak mungkin dia bersikap tidak baik secara langsung. Tentu saja karena rasa sungkan kepada pak Sis lah, yang membuat David tidak bisa secara langsung bersikap tidak baik pada putri.
"Sudah lebih baik kalian bertiga mulai untuk belajar, dan kau put silahkan menemui ayahmu" titah David yang sukses membuat mereka bubar.
****
__ADS_1
Tiga pria tampan yang sedang dalam perjalanan pulang menuju kota S, masing-masing larut dalam pikirannya.
Leo merasa sangat hambar dan juga kehilangan semangat juang, Tomy juga merasa ada yang kurang tapi entah apa itu. Sementara Adrian, entah apa yang tengah dipikirkannya.
Leo bolak balik mengecek ponselnya namun pesan singkat yang ia tujukan pada Jessika itu belum juga terbaca.
"Masa iya belum di aktifkan handphone nya" Leo bergumam dalam hati.
Tiba tiba dalam pikiran Tomy muncul bayangan Eka yang tengah cemberut, wajahnya yang marah marah, dan juga sikapnya yang bar bar. Semua hal tentang Eka itu menari- nari dalam pikiran Tomy.
"CK apaan sih" Tomy berbicara sendiri, sampai membuat Leo dan Adrian menoleh ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Tomy yang bingung karena mereka berdua menatapnya.
"Harusnya kami yang bertanya, kau ini kenapa" jawab Adrian kesal.
Akhirnya mereka tertidur dalam perjalanannya menuju kota S.
****
Usaha pertanian cabai milik pak Edy memang tidak bisa di pandang sebelah mata, ia menekuni dengan serius bisnis ini.
Lahan yang sangat luas membuat cabai yang ditanam panen dalam waktu yang tidak bersamaan, pak Edy sengaja membaginya agar masa panennya bisa berkesinambungan.
Cabai yang telah di petik kemudian di kumpulkan di gudang ,dengan tempat yang sudah diatur sebelumnya sesuai dengan proses masing masing.
Dari penyortiran, penimbangan, packing, pelabelan, dan juga penerbitan semacam airwaybill untuk cabai yang akan dikirim keluar kota menggunakan transportasi udara atau cargo.
Untuk itu David mengajari Jessika dan sahabatnya untuk mempelajari sistem itu, menginput data masuk dan keluar, berapa banyak cabai yang dihasilkan, serta laporan pertanggungjawaban semua kegiatan akan menjadi tugas mereka bertiga saat ini
Pak Edy meminta David langsung yang mengajari mereka karena sistem yang mereka pakai ini terbilang baru, David yang memiliki intelektual tinggi tentu saja tidak sulit untuk mengimplementasikan ilmunya dan menularkannya pada pegawainya itu.
Sungguh suatu keberuntungan bagi warga sekitar, sangat terbantu degan adanya usaha yang didirikan oleh pak Edy Darmawan.
****
Putri sangat kesal, ia tak menyangka menyaingi Jessika tidak semudah yang dia bayangkan, dia pikir pria kaya seperti Leo akan mudah untuk ia dekati karena Putri juga bukanlah orang biasa, tapi ternyata tidak semua yang ia rencanakan berjalan mulus begitu saja.
"Apa kau pikir aku akan tinggal diam, aku harus menyusun rencana untuk membuat Jessika tidak bisa bekerja lagi bahkan berada di dekat keluarga Darmawan" ia berucap dalam hati sambil menatap ketiga wanita yang tengah sibuk belajar sistem.
__ADS_1
"Put, ayah mau ke petak 6 kamu ikut atau mau disini" tanya Pak Sis menawari.
"Aku mau pulang saja yah, ga ada yang mau aku kerjakan juga" ucapnya malas.
Putri yang datang ke gudang pagi itu bukan tanpa suatu maksud, ia sengaja kesana mengikuti ayahnya karena ingin bertemu Leo, tapi sayangnya Leo malah pergi hari itu, kembali ke kota tempat dimana perusahaannya membutuhkan dirinya.
Saat ini tiba jam makan siang, para pekerja disana diberikan time break selama kurang lebih 45 menit untuk beristirahat, makan dan juga shalat, tanpa terkecuali Jessika dan dua sahabatnya.
"Duh susah juga belajar kayak gini, mending di sawah aja gak usah mikir pusing pusing" ucap Eka tak bersemangat.
"Namanya juga awal Lo ini ka, wajar lah kalau kita masih bingung" jawab Arin bijak.
"Apa kau sudah lupa witing tresno jalaran Soko kulino " ucap Jessika menambahi.
"Iya bener tu, nanti kalau kita udah terbiasa pasti gampang. Kamu semenjak di tinggal Tomy kayak manusia gak bertulang tau gak" ucap Arin kemudian.
"Iya iya" ucap Eka sambil berdiri lesu.
David yang berada di ruangan khusus untuk dirinya ,juga turut keluar karena ingin makan siang.Saat keluar dari ruangan pribadinya itu, ia melihat ketiga wanita itu berjalan mendahuluinya.
"Kalian akan makan dimana" tanya David.
"Emm anu tuan, eh den kami mau shalat dulu baru makan, tadi kami sudah bawa bekal" jawab Arin mewakili.
David hari itu bingung mau makan dimana, karena baru hari itu juga dia berada di gudang untuk mengajari mereka bertiga.
"Ya sudah" jawabnya datar.
Mereka bertiga saling pandang, bingung harus bersikap bagaimana, mau menawari makan mereka takut jika David tidak berselera.
"Kalau tuan mau nanti kita bisa bersama sama makan, kebetulan nenek saya tadi membawakan makanan lebih, tapi jika tuan ingin membeli makan diluar tidak apa apa" jawab Jessika setengah takut.
David terdiam dan tidak langsung menjawab, tapi mendengar kata bahwasanya neneknya membawakan makanan lebih, ia menjadi teringat dengan masakan yang di bawakan Jessika tadi pagi saat sarapan ,sungguh hal itu membuat David tiba tiba menjadi lapar.
"Baiklah jika kalian memaksa, aku akan menunggu. Jangan membuatku menunggu terlalu lama" ucap David sambil berlalu hendak masuk lagi ke dalam ruangannya.
Mereka bertiga kembali saling tatap, padahal tidak ada yang memaksa David, Jessika bahkan hanya menawari.
Bosnya itu benar benar susah di tebak, sewaktu-waktu baik, sewaktu-waktu menjadi dingin.
__ADS_1
Akhirnya mereka bertiga bergegas menuju mushola yang ada di area gudang itu, untuk menunaikan kewajiban mereka sebagai umat muslim.
Please like and comment 🙏