Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 89. Aku terbakar cemburu, cemburu buta. (Lirik lagu padi)


__ADS_3

.


.


.


Tomy masih setia menemani bosnya yang terlihat kacau, sudah selama sebulan ia menemani bosnya, bahkan bekerja dan menjalani apapun bersama Leo.


Di Apartemen milik Leo yang tak kalah mewahnya dengan rumah yang biasa ia tinggali. Lengkap dengan segala fasilitas, memiliki dua kamar yang pas untuk kebutuhan mereka berdua.


"Aku harus bagaimana Tom, kenapa Bella menghindariku? bagaimana caraku meminta maaf kepadanya" ucap Leo frustasi.


Tomy hanya diam, bisa jadi dia lebih bingung. Karena ia sama sekali tak berpengalaman untuk hal satu ini. Definisi dari jomblo akut.


****


Entah ada angin apa Jessika tiba tiba berniat mengunjungi David, dia ingin mengantarkan makan siang untuknya di hari liburnya ini.


Beberapa bulan berada di kota S, membuatnya cukup familiar dengan akses dan situasi disana.


Pernyataan David kepadanya beberapa waktu lalu " Aku tertarik padamu", perlakuannya yang selalu membuat jantungnya seakan meledak, juga hadiah ulangtahun berupa cincin yang pernah di berikan untuknya itu, mungkin bisa jadi modal kepercayaan dirinya untuk menemui David.


Sudah lama juga ia tidak bertemu, Ia sengaja memasak olahan seafood istimewa buatan tangannya, hasil dari mengulik resep di YouTube.


Berbekal alamat dari hasil pencariannya di Google, ia memesan sebuah taksi online. Tidak masalah meskipun harus menahan rasa mual, tiap kali menaiki moda transportasi roda empat itu.


Ia sudah sampai di pelataran gedung Darmawan Group, bangunan menjulang tinggi itu terlihat menakjubkan. Banyak orang berpakaian macam macam keluar masuk tempat itu.


Ia memberanikan diri memasuki lobby, dan masuk kedalam perusahaan itu. Membawa kotak makanan kekinian dan merk terkenal, hasil dari kreditnya di tukang perkakas yang biasa mangkal di sekitar kost Vera, dengan target utama ibu ibu.


"Selamat siang, ada yang bisa di bantu" sapa resepsionis ramah. Hal dasar yang sudah di ajarkan saat menerima tamu, siapapun itu. Bagian dari service excellent.


" Siang mbak, mau bertemu David. Emmm maksud saya tuan David" ucap Jessika gugup.


"Maaf sebelumnya apa sudah ada janji dengan beliau" tanya resepsionis dengan menggunakan name tag bertuliskan "Ratna" itu.


"Emmm belum mbak" jawabnya sopan.


Ia pasti sudah gila nekad berkunjung kemari, bahkan tangannya kini sudah menjadi dingin lantaran takut dan grogi.


Ia merasa menjadi kecil, tak sepadan, dan bukan siapa siapa. Oh tidak!!!!


"Maaf dengan mbak siapa?" tanya Ratna pada Jessika, dengan tangan masih menggenggam gagang telepon yang masih menempel di telinganya. Sepertinya ia sedang melakukan panggilan dengan seseorang.


"Saya Jessika mbak" ucapnya makin grogi.


"Baik nona Anda bisa naik ke atas, ke lantai ( ia menyebutkan lantai dimana ruangan David berada)"


"Baik mbak terimakasih" ucapnya setelah mendapat arahan dari Ratna.


"Huft, pegawainya saja cantik cantik. Apa aku pulang saja ya, perasaanku tidak enak" gumamnya sambil memanyunkan bibirnya.


Jessika merasa grogi, dan tiba tiba nyalinya hilang saat berhadapan dengan orang orang yang berpakaian serba rapi.


Ia menekan tombol lift, kemudian dia masuk seorang diri. Ia melihat kotak makan yang dia bawa," kenapa aku tiba tiba gak yakin begini ya".


Ting


Lift terbuka, ia melangkah menyusuri koridor yang ada disana, terdapat banyak ruangan dengan kaca besar yang di blur separuh.


Banyak pasang mata menatap dirinya heran, ada juga yang berbisik bisik. Membuat nyalinya makin menciut.


Sampai ia melihat sosok yang ia kenal, "tuan" sapanya saat melihat Adrian tersenyum ke arahnya.


"Kau disini, tadi Ratna udah ngasih tau aku kalau kamu mau kemari. Ada apa?" Adrian bertanya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Emmm aku mau bertemu tuan David" ucapnya tertunduk malu.


"Ah iya kau langsung masuk saja disana ya, itu ada tulisannya. Aku mau kebawah sebentar" ucapnya memberitahu.


Jessika yang sudah merasa kegugupannya berlangsung hilang, karena bertemu dengan Adrian akhirnya dengan percaya diri melangkahkan kakinya ke depan.


"Ruang Direktur" ucapnya membaca tulisan yang ada di samping pintu kantor itu.


Jessika yang seakan terhipnotis ucapan Adrian "Ah iya langsung masuk aja ya" tanpa mengetuk langsung membuka pintu itu, ia lupa jika kini ia berada di kantor David.


Ceklek


Pintu ruangan itu terbuka, membuat hati Jessika sedikit bahagia dan deg degan.


Namun semua itu hanya bersifat fana, tatkala matanya menangkap sesuatu yang membuat dirinya lemas saat itu juga.


"Jessika!!!!" ucap David yang melepas pelukan seorang wanita yang tengah bersamanya di kantor itu.


Jessika langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun, tubuhnya lemas dan hatinya sudah tidak karuan rasanya.


"Loh Jes, kok balik" tanya Adrian yang baru saja kembali dari bawah.


"Ini tuan, buat anda" ucapnya pada Adrian sambil menahan air mata, dan langsung pergi.


Membuat Adrian bingung, dan menoleh ke arah David yang juga menatapnya penuh tanda tanya.


Flashback On


David


Aku senang tatkala saudara dekatku berkunjung ke kota S, namanya Calista. Ia adalah anak dari kakak tertua dari pihak mama.


Sudah lama tidak berkomunikasi,lantaran mereka berada di Indonesia timur. Tepatnya ndi pulau A.


Ia kemari karena ada pertemuan yang menyangkut kedinasannya sebagai guru disana, dia adalah wanita cantik dan usianya sama denganku.


Aku juga memeluk dirinya dengar erat, harusnya aku memanggilnya kakak. Karena bagaimanapun juga dia adalah anak dari bude.


Namun karena usia kami yang sepadan, aku memanggilnya dengan nama saja.


Namun aku terkejut saat pintu tiba tiba terbuka, dan nampak sosok yang selama ini aku rindukan dalam keterasinganku berjuang melawan rasa itu demi Leo.


Aku tahu dia menangis, seperti dia sudah salah paham. Bahkan aku belum sempat menjelaskan apapun, dia sudah pergi.


"Siapa dia David? kenapa tidak jadi masuk" Calista bertanya kepadaku, namun tak segera ku jawab karena aku langsung keluar mengejarnya.


Namun langkahku terhenti saat melihat dia menyerahkan sebuah benda kepada Adrian, dan langsung pergi tanpa mempedulikan aku lagi.


Flashback Off.


"Kenapa dia" ucap Adrian yang bingung.


"Ada apa David" Calista turut menyusul keluar karena ia ingin tahu apa yang terjadi, dan mengapa wanita cantik tadi tidak jadi masuk.


"Dia Calista, kakak sepupuku" ucap David saat mereka bertiga terlah duduk di ruangan David.


"Jadi wanita tadi teman kalian? kenapa tidak kalian kejar, dia sudah salah paham denganku" ucap Calista menyesal dengan wajah sendu.


"Biarkan saja dulu" ucap David.


Kurang lebih dua jam Calista disana dan akhirnya pamit karena harus bergabung bersama teman temannya di Hotel untuk pelatihan.


"Ini" ucap Adrian saat Calista keluar.


"Apa ini" tanya David saat Adrian menyerahkan kotak dengan tas warna merah mari diatas mejanya.

__ADS_1


"Dia sepertinya berniat mengantar ini untukmu, selesaikanlah sendiri David. Akhir akhir ini aku seperti tidak mengenalmu" Adrian berucap dengan nada kecewa, bahkan ia juga tidak tahu bila ada Calista di ruangannya.


Biasanya David pasti memberitahu dirinya bila ada tamu.Sungguh sikap yang berbeda.


David hanya menatap punggung Adrian yang semakin berlalu meninggalkan dirinya diruangan itu.


Menatap nanar tas bekal yang ada di meja kebesarannya.


"Maaf Jes, tapi aku harus melupakanmu" ucapnya tertunduk lesu.


Ia membuka makanan itu, dihirupnya aroma yang menggugah selera itu." Aku masih belajar masak, semoga suka" terdapat sebuah note kuning di dalamnya.


Membuat David tersenyum, namun seketika senyum itu memudar saat Adrian masuk kembali ke ruangan David.


"Wow, seafood istimewa. Jika kau tidak mau, dengan senang hati aku akan menerimanya. Aku juga belum makan siang" ucap Adrian yang mengantar berapa berkas penting.


"Apa kau mau mati?" ucap David memberikan tatapan membunuh.


Namun Adrian justru tertawa keras, ia merasa David sudah bersikap normal saat ia berkata seperti barusan.


"Hahahaha David, sepertinya Jessika mulai berani membalas rasamu. Ini bagus bukan" ucapnya pada David.


Dia tidak tahu apa yang sebenarnya David rasakan, benar benar seperti benang kusut.


" Tidak Adrian, aku tidak bisa" ucapnya lesu.


"Apa maksudmu" dahi Adrian sudah mengernyit tatkala mendengar jawaban yang tidak sinkron dengan tema pembicaraan.


David menjelaskan kerumitan hatinya, terkait Leo dan sikap acuhnya beberapa waktu belakangan ini. Mau tidak mau dia harus merelakan Jessika.


"Astaga David, bahkan kau telah menyakitinya tadi,sumpah dia sudah salah paham. Vera juga bilang kalau dia sering cerita kalau mengharap ketemu sama kamu. Dan untuk Leo, kalian bisa bicarakan baik baik"


"Aku sudah bicara Adrian, aku cuma gak mau hubungan ku dengan adikku menjadi tidak baik hanya karena wanita. Aku tidak bisa"


"Lalu apa rencanamu" Adrian sebenarnya tidak setuju dengan ucapan David barusan.


"Membuatnya benci kepadaku, agar dia menerima Leo" ucapnya memejamkan mata.


"Kau gila David"


****


Jessika sampai salah menekan tombol lift untuk turun, dengan hati yang terasa di hujam oleh benda tajam ia memaksakan kakinya untuk cepat keluar dari tempat itu.


"Bo doh!!!, harusnya aku tida perlu kesini. Siapa aku?" ucapnya merutuki dirinya saat berada di dalam lift seorang diri.


Sesekali ia mengusap cairan bening dari matanya, menggunakan punggung tangannya. Apa itu, apa dia cemburu? ya mungkin saja ia sudah terbakar api cemburu saat ini.


Bahkan ia ingat dengan wanita yang memeluk David, wanita cantik dengan rambut pirang yang di Curly, bertubuh tinggi dengan pakaian mahal, juga make up cetar.


Sementara dirinya, seketika ia merasa menjadi butiran debu.


Ia berjalan kaki ke trotoar sambil menunggu taksi online datang menjemput dirinya, tujuannya hanya satu tempat kost Vera.


Saat di dalam taksi ia sampai melupakan rasa mual yang basa ia rasakan saat naik mobil, ia merasa bodoh, terlalu percaya diri jika David serius dengan ucapannya.


Ia juga ingat perlakuan Leo sebulan yang lalu, yang membuat dirinya hingga kini terputus komunikasi dengan adik David tersebut.


"Terimakasih pak" ucapnya pada supir taksi saat sampai di kost, dengan langkah gontai ia berjalan ke gang dimana kost Vera berada.


Ia membersihkan dirinya dan segera menunaikan shalat yang waktunya hampir habis, lebih baik telat dari pada tidak mengerjakan. Wallahu alam begitu pikirnya.


Ia mengambil ponselnya, pikirannya melayang lagi. Dua bersaudara itu sama sama menyakiti dirinya. Bukan apa apa saat ia membuka hati untuk David, mengapa justru David membuatnya patah hati.


Ia harusnya peka, sudah sebulan ini juga David jarang berinteraksi dengannya. " Harusnya aku paham jika mungkin sebulan ini kamu sudah tidak menginginkanku, aku terlalu bodoh".

__ADS_1


Jessika terus saja berbicara sendiri di kamar Vera, ia berencana akan mengembalikan ponsel yang diberikan Leo dan juga hadiah dari David.


Ia ingin tidak terlibat dalam urusan dengan dua lelaki yang menyakiti hatinya, sudah cukup!.


__ADS_2