
.
.
.
....
Tomy malu setengah mati, lagi-lagi sikap suudzon nya kepada orang lain membuatnya rugi. Tapi, ia lega. Setidaknya Eka bebas dari stempel yang buruk.
"Jadi dia kakak sepupumu?" Tomy menyatukan alisnya, seraya menatap Eka.
" Iya, kalau gak percaya kita balik. Terus tanya deh sendiri!" ucap Eka sambil membenahi rambutnya.
"Kenapa kau tidak bilang dari kemaren" ucap Tomy.
"Tuan Tomy yang terhormat, anda sendiri tidak bertanya kepada saya!" Eka mulai memutar bola matanya malas.
Tomy melempar punggungnya ke sandaran kursi itu, menyadari ia yang bodoh. Terlalu cepat berasumsi rupanya bisa membuat kita malu.
"Pantas saja mereka dekat. Tapi mengapa aku masih tidak rela dia dekat dengan Eka, meski dia kakaknya!" sungguh egois.
Mereka berdiam sejenak, sibuk dalam pikirannya masing masing. Tomy terlihat tersenyum meski tak di ketahui oleh Eka. Tentu saja, ia happy banget. Ciuman lembut sudah mendarat di pipi kirinya. Oh my God, begini kah rasanya jatuh cinta. Pikir Tomy.
.
.
Tomy memarkirkan mobilnya di depan sebuah butik terbaik di kota kecil itu, berniat mencari sebuah baju yang akan mereka gunakan untuk menghadiri undangan salah seorang kolega bisnis David.
Ya, Tomy akan mewakili David untuk datang ke acara itu. Acara ulang tahun salah seorang pengusaha tambang rekan bisnis David.
"Ngapain berhenti disini?" ucap Eka bingung.
Tomy tak menjawab, ia lebih memilih membuka pintu mobil itu lalu turun.
"CK, kebiasaan banget ni orang. Di tanya main nyelonong turun aja. Gak sopan banget sih!" Eka menggerutu, demi melihat sikap Tomy yang main acuh seenaknya.
"Kebiasaan ninggal mulu ni orang, ah elah!!!" ucap Eka mengomel seraya mengikuti Tomy, yang terlihat sudah masuk kedalam butik besar itu.
"Woy, tungguin!!. Duh orang ini!!!" ucap Eka setengah berlari.
Eka turut masuk kedalam butik itu, saat masuk ia disambut oleh udara dingin AC dan aroma wangi yang membuatnya betah disana.
"Hemmm wangi banget!!" ucapnya dalam hati.
Eka melihat Tomy yang sedang berbincang dengan wanita cantik, terlihat mereka berbicara serius.
__ADS_1
"Cih, dasar meninggalkan aku tidak taunya enak-enakan ngobrol sama orang cantik!" ucap Eka menyebikkan bibirnya, sepertinya agak kesal.
Ia lebih memilih untuk jalan jalan, mengitari beberapa gantung baju dan gaun yang terlihat indah. Tanpa sengaja ia melihat bandrol yang tergantung di baju itu.
"Hah!!, gak salah ini?" ia membelalakkan matanya terkejut, harga baju itu bahkan tiga kali lipat dari gajinya.
Eka melempar pelan bandrol dengan harga tak wajar itu, baginya ini benar-benar bukan dunianya. " Kok ada baju harga mencekik seperti itu!" gumamnya.
Saat ia membalikkan badannya, tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
Bruk
"Astaga maaf Tu...!" ucapnya menguap ke udara.
"Hay!" pria itu tersenyum menyapa.
"Kita ketemu lagi!"ucap si pemilik badan itu.
Eka terlihat berfikir, seraya mengingat- ingat siapa pria yang sok kenal sok deket kepada dirinya itu. Menatapnya tak jemu.
"Resto Mangir, kita gak sengaja tabrakan kemaren!" ucap Jason, pria yang tak sengaja ia tabrak tempo hari.
"Astaga tuan, aku tidak percaya kita bertemu kembali" Eka tersenyum girang, ia juga tak menduga akan dipertemukan kembali dengan pria berwajah oriental itu.
"Kamu lagi ngapain?, maksud aku lagi cari apa?" tanya Jason.
Jason tersenyum," Oh, enggak ini butik punya mamaku. Tadi aku sengaja mampir kemari!" ucap Jason.
"Wah gila, butik sebesar ini milik mama dia. Bukan kaleng-kaleng emang!" Eka mengangguk-angguk, seraya berbicara dalam hatinya.
"Wah, jadi kakak yang punya tempat ini!" Eka berbicara polos seraya takjub. Benar- benar terpukau.
Namun saat mereka tengah asyik-asyiknya ngobrol, lagi-lagi suara Tomy datang menginterupsi.
"Apa sepanjang hidupku harus terus kau buat repot dengan selalu menunggu begini?" Tomy berucap seraya berkacak pinggang.
Membuat Eka dan Jason menatap pria datar itu." Apa maksudnya?" Jason berkata dalam hati.
"Cih, orang itu membuatku malu saja!" Eka menggerutu dalam hati. Selalu saja Tomy itu membuatnya sebentar bahagia, sebentar kesal. Ah entahlah!.
"Tuan, jadi bagaimana?" tanya salah seorang wanita, yang menjadi pegawai disana. Berdiri di samping Tomy.
"Itu orangnya, carikan dia gaun terbaik!" ucap Tomy.
"Gaun terbaik?, untukku?,memangnya ada acara apa?" kata-kata dalam hatinya malah ia ucapkan, membuat Jason menoleh ke arahnya.
"Cepat ikuti dia!" ucap Tomy kepada Eka, menunjuk dengan dagunya.
__ADS_1
Eka memanyunkan bibirnya, selalu saja pria datar itu seenaknya. Tanpa konfirmasi apapun, main menyuruhnya untuk ini itu.
"Mari kak!" pamit Eka kepada Jason.
Jason hanya membalas senyum terbaik, kemudian beralih menatap Tomy. Ia menangkap wajah tak ramah dari pria itu.
Tatapan penuh permusuhan.
.
.
"Yang ini bagaimana Tuan?" ucap seorang pegawai, saat mengantar Eka yang baru selesai mengganti bajunya dengan sebuah gaun berwarna merah, dengan punggung yang terbuka.
Tomy terlihat memindai tampilan Eka, dari atas hingga bawah. Ingin dia tertawa, karena sungguh itu tidak cocok.
"Jelek!!"
Kemudian mereka mengganti baju dengan gaun warna maroon, dengan belahan dada yang menunjukkan lekuk tubuh Eka. Wow sungguh sexy, tapi Tomy tak rela bila orang lain turut menikmati keindahan tubuh Eka.
"Aku tidak mau pakai ini, bisa masuk angin aku!" Eka berucap dengan wajah kesal, sungguh ia tak nyaman.
"Ganti yang lain!" titah Tomy.
Mereka berdua terlihat masuk kembali, entah sudah berapa banyak gaun yang dicoba. Dan kebanyakan Eka tak setuju, karena terlalu sexy. Ia tak pernah memakai pakaian seperti itu.
Keluar, ganti lagi. Keluar, ganti lagi.
Sampai akhirnya petugas wanita itupun, memberikan opsi terakhir. Memberikan sebuah gaun tanpa lengan, berwarna light blue, dengan sedikit aksen yang membuat tampilan Eka makin terlihat glamour.
( credit from google)
Tomy bahkan tak mengedipkan matanya, seolah mendapat sugesti untuk terus menatap. Bahkan bibirnya membentuk huruf O.
"Tuan, gaun ini menjadi opsi terakhir" ucap pegawai itu sedikit putus asa.
"Bagaimana?" Eka sudah sangat letih, karena harus bolak-balik untuk mengganti bajunya.
"Bungkus yang itu!"
.
.
.
__ADS_1