
.
.
Jessika yang mengetahui bila suaminya tengah mencari Tomy, tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Ia ingat betul, saat dirinya di sekap mantan pacar David dulu, Sherly. Tembakan, perkelahian , bahaya yang mengintai nyawa sewaktu- waktu. Jelas adalah sesuatu yang tak bisa dihindarkan.
Semalaman ia tak bisa tidur, hatinya masih sakit dan kecewa. Namun ia benar-benar tak bisa membohongi dirinya, bahwa ia sangat khawatir dengan suaminya.
"Assalamualaikum" ucap Eka yang datang kerumah almarhumah nenek Jessika. Pagi-pagi buta. Ia sendirian, sementara Arin tak terlihat bersamanya. Mungkin karena sibuk mengurus acara jelang pernikahannya, dengan Rendra.
"Walaikumsalam" Jawab Jessika, yang heran siapakah di pagi buta seperti ini datang bertamu.
Ia tengah duduk diatas gelaran karpet bekas digunakan untuk acara tahlilan semalam, sementara Lek Soleh sepertinya masih tidur. Jelas badannya penat dan lelah, lantaran ia lah seksi sibuk dirumah itu. Sementara Slamet, mungkin sudah ngacir duluan ke rumah Lek Soleh. Menunggu rumahnya, takut di gondol keong mungkin.
Ia kemudian berdiri, masih dengan wajah kacau balau, juga mata sembab. Mencoba mencari tahu siapakah gerangan, yang datang sepagi ini kerumah almarhumah neneknya.
"Eka, pagi banget?" Jessika terkejut, menatap heran sahabatnya itu. Ia bahkan sempat melihat jam di dinding berkali-kali, guna memastikan apa benar sahabatnya itu tidak salah.
03.32 WIB
" Bagaimana, apa ada kabar?" bukannya menjawab pertanyaan Jessika, ia malah balik bertanya. Tentu saja, yang dimaksud adalah bagaimana progres pencarian Tomy. Karena jujur saja, semenjak ia juga tahu bila David pergi untuk mencari Tomy, entah mengapa ia mendadak kelimpungan tak bisa memejamkan matanya barang sejenak.
"Masuk dulu" Jessika mempersilahkan sahabatnya itu, untuk masuk kedalam. Udara dingin pagi buta jelas membuatnya tak betah berlama-lama di luar.
Mereka berdua menuju dapur, merebus air untuk membuat teh. Jessika juga kini tengah merasa lapar, ia Berniat akan makan seadanya. Makanan sisa dari acara tahlilan semalam.
"Kamu duduk aja, biar aku yang buat" Eka meminta Jessika untuk duduk, ia yang mengambil alih proses penyeduhan minuman kaya manfaat itu.
"Minumlah, selagi hangat" Eka mengangsurkan secangkir teh, untuk Jessika. Sejurus kemudian ia turut duduk tepat di depan Jessika. Turut menyeruput teh di pagi buta.
"Terimakasih" Jessika tersenyum. Eka menatap wajah sahabatnya itu dengan intens. Terlukis kesedihan yang mendalam, walau masih nampak cantik, namun wajah sendunya menjelaskan bila sahabatnya itu benar-benar terpuruk.
Mereka berdua menyeruput teh dengan diam, hening sejenak. Namun beberapa detik kemudian,"Kruuuuukk" suara perut Jessika. membuat Eka memasang telinganya, seraya mengerutkan dahi.
"Aku lapar!" ucap Jessika malu.
"Sudah aku duga, semua akan lapar pada waktunya" senyuman licik terbit dari bibir Eka, yang sebenarnya ingin tertawa. Tidak ada perut yang sanggup menahan lapar bukan?, sekalipun dengan dalih apapun.
__ADS_1
****
David, Leo dan pak Edy dan Pak Sis yang tengah tak sadarkan diri, dengan kecepatan tinggi mengendarai mobil menuju rumah sakit. Mencari rumah sakit terdekat, yang bisa mereka jangkau begitu keluar dari kawasan pantai itu.
Sementara Adrian, Tomy dan Vera berada di dalam satu mobil, yang berada di belakang rombongan David. Dan untuk Jack dan Victor, juga bersama anggotanya yang lain berada dalam satu mobil, membawa Mayang dalam kondisi hidup hidup. Ini penting, pengakuannya akan membuat persolan Bos-nya terurai.
"David lebih cepat!" Pak Edy memasang wajah khawatirnya, melihat darah yang terus keluar dari perut Pak Sis. Ya, Pak Sis sengaja menembakkan pelurunya sendiri, kepada dirinya. Mungkin ini mencoba bunuh diri.
Benar-benar diluar dugaan mereka, saat David hendak menembak ke arah lawan, yang bisa saja menyerang mereka secara membabi-buta, justru matanya membulat seketika, tatkala melihat Pak sis terkulai setelah dua timah panas, berhasil bersarang di tubuhnya.
Mereka semua terperanjat, tak percaya bila akan berakhir seperti ini.
"Ke-na-pa ka -lian me-nolong-ku?" ucapnya tersengal, menahan sakit. Saat David, Leo, pak Edy, Jack dan Victor menghampiri Pak Sis yang tak berdaya.
"Biarkan sa-ja a-ku ma-ti!" Pak Sis masih menahan nyeri hebat di perutnya, sejurus kemudian ia tak sadarkan diri.
Pak Edy yang ingat dengan kebaikan Pak Sis, tentu saja tak bisa membiarkan mantan orang kepercayaannya itu, mati konyol begitu. Ia tahu, emosi memang bisa membuat siapa saja menuju ke arah yang tak baik. Namun sebagai manusia biasa, ia juga memiliki rasa iba.
Ia tahu betul bila Pak Sis adalah pribadi orang yang baik, namun tekanan hidup yang datang bersamaan jelas tak bisa lagi di tahan. Sifat suci sebagai manusia akan hilang, tatkala diri kita di hadapkan dengan persoalan besar. Mungkinkah akan menyalahkan Tuhan?, tolong beritahu untuk hidup yang tak selamanya lurus.
...Rumah sakit Tanjung...
Tiga mobil tengah terlihat memasuki area Rumah Sakit, David dengan langkah gusar berteriak kepada para perawat disana, membuta suasana menjadi gaduh.
"Keadaan darurat!, tolong dipercepat!" ucap David yang melihat beberapa perawat pria yang sigap dengan kedatangan mereka, tengah mendorong brankar menuju mobil yang tengah terparkir di lobby.
Leo, David juga Jack terlihat membantu memindahkan tubuh Pak Sis, berharap nyawa lelaki itu masih bersemayam di tubuhnya.
Mereka dengan cepat mendorong tubuh tak berdaya itu, menuju ruang tindakan. "Mohon di tunggu di luar" ucap seorang perawat, sebelum menutup pintu.
David terlihat mengusap wajahnya kasar, sementara sinar horizon sudah terlihat memancarkan sinar kehangatan. Pertanda, bila hari baru telah datang.
"Astaga, aku bahkan tidak tidur semalaman" ucap David dalam hati.
Leo mengantar Tomy untuk menuju ruang tindakan lain, luka di kakinya membutuhkan penanganan. Sementara Jack dan Victor masih menjaga Mayang agar tak kabur.
.
__ADS_1
.
Adrian
Ia menguap berkali-kali, mengerjapkan matanya, sesat setelah ia sadar. sungguh pencarian Tomy benar benar diluar ekspektasinya. Apalagi, ia juga terkejut saat melihat Leo dan David serta Jack dan Victor berlari sembari membawa tubuh lemah, yang ia ketahui adalah mantan kaki tangan Pak Edy.
"Apa yang sebenarnya terjadi" pikirannya benar-benar belum bisa mencerna, apa itu artinya kejahatan yang terjadi adalah ulah orang dalam?, atau telah terjadi hal lebih ekstrem lagi?,
"Sayang!" ia mencari-cari keberadaan Vera, tertidur sebentar saja sudah membuat kekasihnya itu hilang. Ia membuka pintu mobil. Mengedarkan pandangannya untuk mencari Vera, sialnya mengapa ia tadi terlelap sejenak, begitu dirinya menarik tuas hand rem.
Benar-benar keterlaluan, sementara yang lain bingung untuk memberikan pertolongan untuk Pak Sis dan Tomy. Dia malah tertidur.
.
.
Vera
Ia belum tahu siapakah orang yang di bawa David menuju ruang tindakan itu, terlalu banyak pertanyaan yang belum sempat ia tanyakan.
Ia menuju tempat Jack dan Victor, mereka berdua terlihat bersiaga di sebelah mobil. "Bagiamana?" tanyanya.
Polisi sudah mengamankan orang orang di sekitar pantai, rupanya mereka menyelundupkan barang haram melalui kapal-kapal nelayan. Pantas saja mereka bisa dengan mudah membeli persenjataan, rupanya hasil dari barang haram.
"Sebenarnya siapa tadi orang itu?" tanya Vera kepada Jack. Karena ia bingung, mengapa malah menolong musuhnya. Sementara dirinya tertidur sewaktu dalam perjalanan menuju rumah sakit tadi. Ia manusia biasa, yang memiliki lelah.
Sementara saat bangun, ia sudah melihat Tomy tak berada di dalam mobil, dan melihat Adrian tertidur juga.
"Dia adalah mantan orang kepercayaan Tuan Edy?" ucap Victor, menjawab pertanyaan Vera. Vera mengernyitkan dahinya, lantas mengapa ia justru menyerang keluarga Darmawan. Begitu pikirnya.
"Apa dia ayah Putri?" tanya Vera lagi.
"Benar, sepertinya ini ada sangkut pautnya dengan masalah di masa lalu"
Vera menjadi makin penasaran, sejurus kemudian terdengar suara yang membuat mereka bertiga menoleh kebelakang.
"Sayang, mengapa kau terus meninggalkan aku!!" gerutu Adrian dari kejauhan.
__ADS_1
Membuat Jack lagi lagi memutar bola matanya malas.