
.
.
.
Malam menjelang, hangatnya mentari kini berganti dengan sinar rembulan yang menenangkan.
Seusai menuanaikan ibadah magrib, Jessika duduk di depan tv dan kemudian mbok Yah membawakan secangkir teh jahe hangat untuk cucu satu satunya itu .
"Gimana nduk hari ini?" Tanya mbok yah sambil dia melipati jemuran yang menumpuk karena belum ada yang mengerjakannya lantaran semua penghuni rumah sibuk membanting tulang.
"Lumayan lah wek, dan ini buat tambahan bayar hutang ke buk Lastri." Ucap Jessika sembari menyerahkan amplop putih yang belum dia buka itu.
"Lo la nyapo kok durung di bukak nduk ( la kenapa kok belum di buka nak)?" Tanya mbok yah pada sang cucu.
"Kita buka sama sama wek, berapapun isinya kita terima. Nanti kalau kurang aku tak pinjam ke lek Soleh dulu nggenepi ( menggenapi) yang yang musti di bayar ke buk Lastri". Jawab Jessi sembari menyeruput teh buatan neneknya itu.
Kemudian meraka sama sama membuka amplop itu, mereka terkejut ada pecahan 100 ribu berjumlah 10 lembar di dalam amplop itu .
"Alhamdulilah nduk, kok okeh banget juraganmu lek ngewehi ( alhamdulilah nak, kok banyak banget bos kamu kalau memberi)."
__ADS_1
Ucap mbok yah bahagia dan terharu, di tengah kebingungan dan kesulitannya Allah mengirimkan rejeki dari arah yang tak di sangka sangka.
"Berapa mbok, sejuta ya? Kalau gitu aku tinggal pinjam pak Lik 500 jadi pas ." Sahut Jessika.
"Apa pak lekmu ada nduk uang segitu?" Tanya mbok yah ragu.
"Ya di coba dulu wek, barangkali paklek ada rejeki lebih." jawan Jessi dengan pembawaannya yang tenang.
Ya, lek Soleh adalah paklek nya Jessika. Ia adalah adik dari almarhumah ibunya, lek Soleh pria berusia 35 tahun,namun dia belum juga berkeluarga. Bahkan kadang di juluki bujang lapuk.
Dari lek Soleh lah juga ilmu bermain gitar didapatkan Jessika. lek Soleh bekerja sebagai agen penjual sayur yang biasa di bawa ke pasar besar di kota B, dengan menggunkan mobil pickup, Ia biasa membawa dagangannya tersebut.
para warga juga banyak yang menjual hasil kebun mereka ke lek Soleh, bisa dibilang lek Soleh itu bakul yang membeli sayur dari desa dan menjualnya lagi ke kota.
"wek, habis ini aku mau ke pasar malam sama Arin sama Eka." ucap Jessika meminta ijin kepada neneknya.
"Lo la opo masih ada pasar malem e?" tanya mbok yah.
"Ada, tapi terakhir malam ini kayaknya". jawab Jessi.
"Ya wes, Lagian kamu juga jarang keluar nduk. tapi jangan malam malam ya, kamu anak wedok Lo ( kami anak perempuan Lo)". ucap mbok yah sambil memberi reminder.
__ADS_1
"Beres mbahku sing ayu dewe ( siap mbahku yang paling cantik)". Jessi menjawab sambil terkikik geli.
tak memerlukan waktu lama, Arin dan juga Eka sudah datang kerumah Jessika.
malam itu Jessi mengenakan jean panjang, juga baju blous yang matching. Tentu saja itu merupakan salah satu pakaian terbaik yang dia miliki.
Jessika terlihat cantik malam itu, dia menggerai rambutnya sebahu dan memakai riasan wajah natural. benar benar berbeda saat dia ke sawah, bagaikan seperti dua pribadi yang berbeda.
begitu juga dengan Arin dan Eka, mereka tak kalah cantik juga. para gadis itu terlihat berbeda malam ini.
*********************
sementara itu di belahan bumi lain, seorang wanita tengah asyik meminum alkohol dan tengah bersama pria.
benar, dia adalah Sherly. wanita itu memanfaatkan kesempatan ditinggal David keluar kota.
"Sherly, kapan kau akan putuskan David? aku bahkan bisa memberimu apapun yang kau mau sayang". ucap Alex pria yang saat itu tengah bersama Sherly.
"Entahlah sayang, aku rasa dia sekarang jatuh miskin. Sampai-sampai dia harus belajar tanam cabai di kota orang hahaha". racau Sherly yang sudah setengah mabuk itu.
Hingga akhirnya mereka berdua mabuk bersama dan terjadi sesuatu yang hanya mereka dan Tuhan yang tahu.
__ADS_1
******************
biar author makin semangat, yuk kasih like comment dan vote nya🙏