
.
.
.
Jika waktu bisa memberikan kesempatan kedua kalinya, tentu Gendis ingin memilih menjadi orang yang tak mau di pertemukan dengan pria berbaju safari tadi. Ia bahkan belum mengetahui nama pria yang sudah empat kali membuatnya naik pitam dan berakhir dengan kenelangsaan itu.
Iksan yang sibuk memberi pakan puluhan ekor kambing itu menatap Gendis terheran-heran. Perempuan itu berjalan gontai dengan pandangan kosong. Tak memiliki rona.
" Loh la endi sukete ( loh la mana rumputnya!)"
Gendis tak menjawab, ia malah merebahkan diri diatas lincak ( tempat tidur dari bambu) yang berada di bawah pohon nangka besar. Memejamkan matanya sejenak. Dan menghela napas.
" Kamu kenapa?" Iksan kini duduk di dingklik kecil. Menatap Gendis yang seperti orang kehilangan semangat juang.
" Aku leren cak ( aku berhenti cak)" Gendis langsung beringsut duduk.
" Kenapa? mendadak begini!" Iksan menatap muram wajah perempuan tegar di depannya itu.
" Mau cari kerjaan lain saja. Atau mau ikut si Sono aja!" Gendis frustasi.
" Kamu ada masalah? atau bayaran kamu kurang Ndis. Nanti aku bisa bilang ke juragan!" Iksan merasa tak enak hati dengan keputusan Gendis yang mendadak.
Gendis diam, hanya terdengar samar-samar suara kayu andra yang terbakar. Hendak di jadikan diang ( bara api) untuk mengahalau nyamuk.
" Enggak Cak. Ya saya pingin berhenti saja. Capek!" Gendis meringis.
Padahal jah dalam hatinya, gadis itu tak mau lagi berurusan dengan pria yang mengoyak harga dirinya itu. Ia miskin, itu jelas dan pasti. Namun berkali-kali mendapat perlakuan tak mengenakan dari pria yang sama. Jelas bukan suatu prestasi yang gemilang untuk terus di diamkan.
Ia memilih untuk mencari pekerjaan lain saja, yang kemungkinan untuk bertemu pria mengesalkan itu lebih kecil.
Namun bak seperti hukum alam. Makin kita tidak suka dengan sesuatu, makin kita sering di pertemukan dengan hal itu.
Dua minggu pasca gendis berhenti menjadi perumput tetap di tempat Haji Jaroni, ia yang tak sengaja bertemu Jessika sewaktu di pasar malah justru di tawari bekerja di rumah sebagai tukang bantu- bantu.
__ADS_1
Ani yang baru saja bekerja disana mengundurkan diri lantaran hamil muda bersama pacarnya. Wanita itu tenggelam dalam arus paling melenakan sebelum waktunya. Usai pamit baik- baik, gadis berusia muda itu meninggalkan kediaman Jessika dengan menangis.
Membuat Jessika harus segera mencari pengganti
Dan kini, Gendis yang memang kesulitan mencari pekerjaan itu terpaksa mau menjadi pembantu dirumah Jessika. Wanita asli desa P yang memiliki nasib bak Cinderella, dengan segala kemurahan dan kebaikan hatinya.
...Flashback...
Tiga belas hari bukanlah waktu yang sebentar. Namun selama waktu itu pula, ia sudah mencoba mencari pekerjaan lain namun hasilnya nihil. Tak memiliki skill lain di bidang komunikasi maupun software, membuat Gendis tak punya banyak peluang untuk join di tempat kerja yang lebih bersih.
Ia saja sewaktu sekolah sering ogah-ogahan buat mengerjakan pekerjaan kelompok. Termasuk dalam kategori siswi bengal yang hobi bolos. Sudah bisa lulus saja untung. Maklum, terlahir miskin membuat segala sesuatunya tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Hingga di hari ketiga belas ini, ia terpaksa standby di pasar. Ia di terima bekerja di sebuah lapak sayuran toko kelontong milik janda cerewet. Itupun paruh waktu. Degan upah harian yang terbilang tak seberapa. Tapi daripada menganggur, ia terima saja.
Namun Gendis yang memang sering grusa-grusu dalam melakukan hal apapun, tak sengaja menjatuhkan satu tray telur puyuh yang baru saja datang. Ia di pecat di hari pertamanya masuk bekerja.
Dan kebetulan hari itu Jessika belanja bersama bik Darmi ke pasar.
Gendis yang belingsatan sewaktu mendengar siraman roh halus dari janda pemilik kios itu, nampak tak mempedulikan ocehan yang tak berarti itu. Ia malah fokus kepada wanita cantik dengan dandanan sederhana namun terkesan mahal , yang pernah ia jumpai beberapa waktu yang lalu.
" Bu Jessika!" Gendis menyalami wanita itu dengan senyum sumringah. Gendis nge-fans terhadap istri David itu. Menurutnya, Jessika adalah wanita pertama yang berbicara dengan nada halus, dan tak jijik berdampingan dengan orang miskin seperti dirinya.
" Woy, dengar gak kamu!!! kamu ganti semua ini!" janda pemilik kios itu berang.
Gendis menelan ludahnya. Tak memiliki pilihan. Apalagi duit.
" Ada apa ini Bu!" Jessika mencoba mencari tahu keributan yang cukup menyita perhatian khalayak disana.
" Dia nih...kerja gak becus, malah numpahin telor. Disuruh ganti malah menye-menye jawabnya!" Janda pemilik kios itu benar-benar dibuat kesal oleh Gendis.
" Saya kan udah bilang, bukan saya. Tapi ibuk yang ..maaf ...gendut ( agak mengecilkan volume suaranya). Jadi saat ibuk geser kena badan saya , terus badan saya kena itu deh!" Gendis benar-benar bermulut licin.
" Kurang aja kamu ya!!"
" Saya laporin ke keamanan nanti kamu!""
__ADS_1
"Dasar anak kurang aj!!!" janda itu hendak melempar sebuah botol kecap ke arah Gendis.
" Eee buuk!!" Jessika pasang badan disana. Ia sangat kasihan melihat Gendis. Ia juga pernah berada di posisi anak itu. Miskin dan terhina.
" Saya yang ganti!" ucap Jessika.
.
.
Bik Darmi pulang terlebih dahulu. Itupun atas perintah Jessika. Ya, suaminya sudah dua Minggu terakhir ini masih sering bolak balik ke luar kota guna mengurus surat-surat untuk PT Ground Handling yang akan ia dirikan.
Membuat Jessika lebih leluasa untuk berbelanja ke pasar. Sementara Deo, ada Yu Sal yang menjaga putranya itu.
" Makasih Bu Jes. Saya jadi..gak enak!" Gendis tersenyum kikuk, sesaat setelah menghabiskan segelas es jeruk segar.
Jessika mengajak Gendis makan baso legendaris yang ada di pasar itu. Baso jaman Jessika masih bersama mbok yah berjualan cenil disana. Jessika mendadak menjadi rindu dengan neneknya itu.
" Sama-sama. Kamu udah lama kerja disana?" entah mengapa, Jessika merasa Gendis itu mirip sekali sifatnya dengan salah satu sahabatnya. Eka.
" Saya di pecat di hati pertama saya masuk Bu. Ya gara-gara tadi!" Gendis malah terkekeh. Entah mengapa, Jessika menjadi orang pertama yang bisa nyambung saat ia ajak bicara.
Jessika tersenyum. Ia sebenarnya geli mendengar cerita Gendis. Dan satu jam itu berlalu dengan cerita Gendis tentang kisah hidupnya. Kisah hidup yang bisa di katakan sama dengan Jessika. Hanya saja, Gendis masih memiliki seorang bapak. Meskipun fungsinya tidak optimal.
" Saya ya begini ini Bu. Makanya susah dapat kerja yang kayak cewek-cewek lainnya. Saya miskin dan..yah, ibu tau. Banyak yang curiga kalau nerima orang miskin kayak saya. Mungkin mereka takut saya nyolong barang mereka kali ya..." Gendis meringis.
Sejenak hati Jessika merasa nyeri. Kenapa Gendis tak sampai terekrut di gudang cabai milik suaminya. Padahal tujuan Jessika ingin memprioritaskan generasi lokal dan putra daerah.
" Kamu mau kerja sama saya. Atau di gudang cabai?"
Gendis tertegun. Banyak yang bilang jika masuk ke gudang harus menyetor uang dulu untuk mempermulus jalan. Semacam nepotisme dan banyak yang berkata bila masuk kesana harus memiliki ijsah tinggi. Kecuali bagian pemetikan dan penanaman dari kalangan ibu-ibu.
" Saya tidak cocok Bu bekerja yang begituan. Kalau ada lowongan, saya mau jadi tukang masak saja!" Gendis tak mau membahas persoalan oknum yang meminta upeti saat ingin masuk ke lingkup Darmawan Group.
Dan hari itu menjadi titik balik Gendis. Wanita itu mendapat pekerjaan tetap sebagi babu. Yang membuatnya beda adalah. Sang bos sendiri yang menawarinya langsung.
__ADS_1
Membuatnya kini bisa tidur dengan lebih nyenyak. Cihaaaa!
...Flashback office...