Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 70. Gara- gara Handuk


__ADS_3

.


.


.


Keheningan terjadi di ruangan itu, Jessika berusaha meraih minum yang berada di nakas di samping ranjangnya.


Vera lupa memberinya minum setelah menyuapinya tadi, Jessika mencoba meraih gelas itu namun tidak sampai, ia sambil meringis menahan nyeri di perutnya.


David hanya diam sambil melipat kedua tangannya ,saat melihat Jessika yang kesulitan meraih gelas itu.


Karena tidak tahan David akhirnya mengambilkan gelas itu " apa mulutmu itu tidak bisa berkata untuk meminta tolong, kau pikir aku apa" ucap David kesal yang melihat Jessika yang sok mandiri.


"Aku sudah cukup banyak merepotkan banyak orang" ucap Jessika menatap David, kemudian meminum air dalam gelas yang baru diberikan oleh pria tampan itu.


"Jika terjadi apa apa denganmu lagi, atau kau jatuh dari ranjang itu apa kau tidak akan lebih merepotkan orang lagi, berhentilah bersikap sok mandiri" ucap David sambil meraih gelas yang sudah kosong di tangan Jessika.


Jessika mengalihkan pandangannya, ia malas jika harus adu mulut dengan David disaat kondisinya sedang seperti ini.


Tiba tiba ia merasa ingin buang air kecil, dan tentu saja dia malu jika harus meminta tolong David.


Ia kemudian berusaha bangun dari ranjangnya, kemudian berusaha menurunkan kakinya. Nyeri yang sangat hebat ia rasakan, ia meringis kesakitan.


"Apa yang kau lakukan" tanya David panik melihat Jessika yang kesakitan.


"Aku aku mau ke toilet" ucap Jessika menundukkan kepalanya.


"CK tinggal bilang saja susah sekali sih" gerutu David sambil mengangkat tubuh Jessika secara pelan.


Tak lupa Jessika membawa ampul infus yang sudah di lepas oleh David dari tiangnya.


Jessika kaget dengan perbuatan David, ia sungguh merasa tak nyaman tapi ia juga tidak bisa berjalan sendiri menuju kamar mandi itu.


Aroma maskulin menyeruak di hidung Jessika, ia menatap wajah David yang begitu tampan, wajahnya yang tegas itu tiba tiba membuat jantung Jessika menjadi menari nari didalam sana.


"Diam kau jantung bodoh" batin Jessika yang wajahnya sudah memerah karena malu dengan posisi mereka yang begitu dekat.


David menurunkan pelan Jessika di dalam toilet itu, ia membantu Jessika menggantungkan infus itu ke tiang yang sudah di siapkan petugas di dalam kamar mandi itu.


"Tuan anda keluarlah dulu" ucap Jessika malu.


"Hemm, nanti panggil aku jika sudah selesai" jawab David.


David menutup pintu toilet itu, ia menunggu diluar. Ia senyum senyum sendiri karena ia bisa mencium rambut Jessika.


"Astaga bisa gila aku jika terus ada di dekatnya" ucap David mengusap wajahnya.


"Tuan saya sudah selesai" suara Jessika dari dalam.


David lantas membuka pintu itu, dan kemudian perlahan membawa Jessika keluar dengan cara menggendongnya seperti saat ia membawanya masuk tadi.


Dengan pelan David meletakkan tubuh Jessika di ranjang itu kembali, saat hendak membantu menata bantal diatas ranjang itu mata mereka saling bertemu.

__ADS_1


Jessika menatap manik mata David, pandangan mereka terkunci satu sama lain,ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Rasa nyaman saat bersama David, rasa yang hanya bisa di ia rasakan ketika ada David di sampingnya.


David pun juga merasakan hal yang sama, ia menatap bibir wanita itu , bibir yang beberapa waktu lalu pernah ia lahap dengan paksaannya.


Jessika memalingkan wajahnya seketika saat kesadarannya kembali, David yang merasa kikuk langsung membaringkan Jessika dengan pelan.


Istirahatlah, aku akan keluar sebentar. Ucap David yang menahan malu, dan dada yang sudah berdetak tidak karuan.


"Tuan" ucap Jessika menghentikan langkah David.


David kemudian menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.


"Terimakasih" ucap Jessika pada David.


"Hem" jawab David.


"Ihhh kenapa dia itu, kadang baik kadang seperti itu. Apa maunya coba" gerutu Jessika.


****


"Hey apa yang kau lakukan?" tanya Adrian yang melihat Vera membuka pintu belakang mobil itu.


"Saya mau masuk tuan, bukannya tuan mau mengantar saya" ucap Vera bingung.


"Aku bukan supirmu, duduk di depan" ucapnya sambil masuk kedalam mobil, di bagian kursi kemudi.


"CK ribet banget sih, padahal sama aja " Vera menggerutu sambil menutup pintu belakang, dan berganti membuka pintu depan mobil itu.


Vera masuk dan duduk di kursi penumpang yang ada di sebelah Adrian, Vera sedikit kesal karena seharian ini ia sudah lelah.


"Iya iya" ucap Vera sambil cemberut.


Mereka berdua menuju kost Vera, di perjalanan Vera yang lelah karena hampir seharian ini menemani Jessika dirumah sakit, akhirnya tertidur di mobil.


Adrian memperhatikan wajah wanita muda di sampingnya itu, "kalau tidur begini dia terlihat cantik" gumam Adrian dalam hati.


"Apa yang aku pikirkan, dasar bodoh" ia menonyor kepalanya sendiri karena menyadari ucapannya barusan.


Adrian sedikit merasa kasihan pada Vera, tapi ia terpaksa membangunkannya karena sudah sampai di kostan itu.


Adrian sudah mengetahui kostan Vera, karena ia pernah mengantar Jessika saat terjadi insiden tumpahan bubur nasi🤣waktu itu.


"Hey bangun, hey !" Adrian menepuk lengan Vera yang masih tertidur pulas itu.


"Eeeeeuuuuuggghhh" lenguh Vera.


"Hey, astaga kau ini jadi atau tidak mau mengambil keperluanmu" ucap Adrian.


"Iya iya, duh udah sampai ya" ucap Vera sambil melepas sabuk pengaman yang ia kenakan.


Kost itu terlihat gelap tanpa ada lampu yang menyala, hal itu terjadi karena seharian ini Jessika dan Vera ada di rumah sakit.


Vera membuka pintu kamar kostnya, ia kemudian masuk dan menyalakan lampu.

__ADS_1


"Silahkan masuk tuan, aku ingin mandi sebentar apakah anda tidak keberatan menunggu" ucap Vera yang merasakan seluruh badannya lengket.


"Pergilah, aku akan menunggu disini" ucap Adrian sambil mendudukkan tubuhnya di kursi ruang tamu.


Vera bergegas mandi, namun sialnya ia lupa membawa handuk saat masuk kedalam kamar mandi .


Sementara bajunya tadi sudah terlanjur ia rendam dalam timba , yang ada dalam kamar mandi itu


"Astaga aku lupa bawa handuk, aduh gimana ni kalau aku keluar nanti tuan Adrian lihat gimana donk, apa aku minta tolong aja ya"


"Tuan tuan Adrian" panggil Vera berkali kali pada Adrian.


Merasa namanya di panggil Adrian akhirnya bangkit dari duduknya, dan menuju ke asal suara.


"CK ribut sekali kau ini, ada apa sih" tanya Adrian yang kesal karena Vera memanggilnya tanpa henti.


"Tuan bisakah aku minta tolong, ambilkan aku handuk di belakang itu, di atas jemuran. Aku tadi lupa membawanya" pinta Vera dari dalam kamar mandi.


"CK dia ini bodoh atau apa, bisa bisanya dia mandi tidak membawa handuk" ia menggerutu.


"Tuan apa anda mendengar saya, mint......" ucapannya terhenti karena Adrian menyahuti.


"Iya iya, cerewet sekali kau ini" akhirnya Adrian terpaksa mengambilkan handuk milik Vera.


"Buka pintunya, handuk ini sudah bersamaku" ucap Adrian.


"Tuan anda jangan macam macam, taruh handuk itu di handle pintu. Kemudian pergilah nanti saya akan ambil" ucap Vera dari dalam.


"Baiklah" ucap Adrian berbohong, ia masih ada di samping kamar mandi itu.


Vera meraba raba handuk itu, seperti berusaha meraihnya dari dalam kamar mandi. Ia membuka sedikit pintunya, dan ia berhasil mendapatkan handuk itu.


Adrian terkikik geli melihat cara Vera mengambil handuk itu.


"Ceklekkk" suara pintu terbuka.


"Ah segarnya" suara Vera sambil menggosok rambutnya menggunakan handuk.


"Merepotkan sekali kau ya" tiba tiba Adrian berdiri di samping kamar mandi itu.


"Aaaaaaa" Vera kaget setengah mati, ia malu ia bahkan hanya memakai handuk yang menutupi dada dan dengan panjang handuk diatas lututnya, menampilkan tubuh sexy dan putih itu.


Seketika Vera masuk kembali kedalam kamar mandi, dan menguncinya dari dalam.


Adrian terpaku karena melihat pemandangan indah barusan, sesuatu yang berada di bawah sana tiba tiba menegang. Adrian merasakan panas di sekujur tubuhnya.


"Sialan, aku yang ingin mengerjainya kenapa jadi aku yang merasa seperti di kerjai" ia berbicara sendiri.


"Tuan apa anda sudah gila, kenapa anda disana. cepat pergi dulu, kalau tidak lihat saja setelah ini" ucap Vera kesal dengan ulah Adrian.


"Baiklah, lagipula aku tidak nafsu dengan wanita tomboy sepertimu" ucap Adrian yang langsung pergi dari tempat itu.


Adrian berbohong, ia pergi karena ia takut jika tidak bisa menahan dirinya. Bagaimanapun juga ia adalah pria normal.

__ADS_1


Vera mengeluarkan kepalanya memastikan Adrian sudah pergi dari sana, setelah keadaan kondusif ia segera berlari menuju kamarnya dan mengunci pintu dari dalam.


Tinggalkan jejak dengan beri like and comment 🙏


__ADS_2