
.
.
.
Bella duduk termenung di tepi ranjang besar di kamarnya.
Ucapan Leo kepada David tadi, membuat Bella berfikir jelas bila suaminya itu benar benar memprioritaskan Jessika.
"Bang apa kau lupa, beberapa bulan kita masih diliputi persoalan bersama Jessika. Bahkan kita sempat tak saling sapa, dan kau? "
Ia benar benar merasa sedih, bagaimana bisa ia memiliki raga Leo, tapi hatinya?.
Tidak, lebih tepatnya belum.
"Maaf membuatmu tak nyaman" Leo kini mendudukkan dirinya di samping Bella.
"Tidak apa, aku sudah terbiasa" Bella tersenyum kecut kepada Leo.
"Aku hanya ingin misteri hilangnya pak Eko segera terungkap, tidak ada maksud untuk lainnya" Leo mengetahui bila istrinya itu telah salah paham.
"Aku lelah, aku mau tidur" Bella sengaja berbohong, matanya sudah panas. Siap meluncurkan cairan bening, entah mengapa dia begitu sensitif.
Leo menghembuskan nafasnya kasar, lagi lagi dia menjadi suami yang buruk.
Namun baru saja dia membaringkan tubuhnya, Bella tiba tiba merasa mual.
Secepat kilat ia menuju kamar mandi yang berada di kamar tersebut.
Memuntahkan semua isi perutnya, Leo terlihat panik ia menyusul istrinya ke kamar mandi, memijat tengkuk istrinya itu, berharap bisa meringankan muntahnya.
"Huek huek" sepertinya semua yang ia makan tadi, keluar tanpa sisa.
Bela mengusap mulutnya, ia terlihat lemas. Seketika Leo membopong tubuh istrinya ke ranjang.
"Kau tidak apa apa, kau pucat Bel" tanya Leo panik.
Bella hanya menggelengkan kepalanya," tidak apa apa sudah biasa begini".
Ucapan Bella barusan tak pelak membuat dirinya seperti kena hantaman, sebulan ini ia sibuk ke kantor. Bahkan saat pulang ia sudah mendapati istrinya tidur.
Ketidakhadiran Tomy di perusahaan mereka, jelas membuat Leo harus bekerja ekstra.
"Maafkan aku bel" gumamnya dalam hati.
Dalam hati ingin merubah dirinya menjadi mencintai istrinya, namun kenyataannya usaha itu tak semudah kata kata bijak yang seiring ia baca di berbagai portal media sosial.
"Akan aku bawakan air jahe hangat, tunggu sebentar" ucap Leo
Bella hanya membalas ucapan Leo dengan anggukan.
Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan kita bila sudah menjadi seorang istri, namun jelas terlihat masih ada sekat yang seolah menjadi tembok pemisah.
"Ini minumlah selagi masih hangat" ucap Leo yang sudah membawakan segelas air yang di beri jahe geprek hangat, dan juga madu. Berharap bisa mengurangi mual yang di alami Bella.
*****
Sekembalinya David dari mengantar Jessika, ia duduk di ruang tengah dengan menyulut rokok.
Terlalu lebay sih emang, marah kepada Jessika yang notabene tidak melakukan kesalahan fatal.
Toh Tomy juga sudah menjelaskan, tapi David tetaplah David.
"Kamu sudah pulang" ucap pak Edy yang tiba tiba muncul dari arah belakang.
"Baru nyampek pa"
"Jangan mempermasalahkan hal sepele, Tomy hanya menjalankan tugasnya"
David hanya diam, seraya menghisap rokok itu dalam dalam.
"Papa sekarang malah bingung bagaimana mengemukakan semua ini kepada pak Sis"
David menggerus batang rokok yang masih panjang ke dalam asbak.
"Aku ingin segera menikahi Jessika pa, aku tidak berlama lama lagi" ucap David serius memandang papanya.
"David, kamu tahu warga disini sebagian besar masih menganggap Jessika itu pelaku pencurian. Kita harus segera membersihkan namanya dulu, papa tidak ingin membuat dinamika buruk di masyarakat. Apalagi kamu adalah anak papa"
"Ada beberapa RT yang masih belum bisa menerimanya"
"Kamu paham kan maksud papa"
Hidup di desa memang begitu kompleks, perkara buruk seperti pencurian sudah barang tentu menjadi konsumsi publik dengan cepat.
.
.
Jessika
Pagi harinya Jessika kaget dengan banyaknya panggilan di ponselnya, nomer yang tidak ia kenal.
27 panggilan tak terjawab
__ADS_1
1 pesan
+62857904902xx
"Jes, ini aku Bella. Bisa kau temani aku beli rujak soto, aku pingin makanan itu. Dan maunya di antar sama kamu"
Jessika mengernyitkan dahinya, kemudian segera membalas.
"Baik nona" balasannya, kemudian bergegas mandi.
"Mau kemana wangi banget nduk" mbok yah yang muncul dari dapur, menatap penuh selidik cucunya.
"Mau ngantar istrinya mas Leo Wek, ngidam rujak soto katanya"
"Loh Den Leo sama istrinya ikut kesini" tanyanya sambil menyenderkan tubuhnya di tembok, dan mulai tertarik mengobrol kan hal ini.
"Ia sama mas David kemaren" ucapnya sambil memakai sepatu putih miliknya.
"Kamu pergi sama istrinya Den Leo saja?"
"Belum tahu Wek, mas David sepertinya ngambek tuh. Udah ya aku berangkat dulu. Assalamualaikum" ucapnya sambil meraih tangan yang sudah keriput di sana sini.
"Walaikumsalam" jawab mbok Yah.
Setelah mengetik sebuh pesan kepada lek Soleh, jika hari ini dia tidak bisa membantu untuk mengemas sayuran.
"Lek aku gak datang, mau ngantar istri Den Leo ke kota" pesannya melalui WhatsApp.
"Ok nduk, cariin janda kalau ada buat paklek nduk😁" balas pria bujang lapuk itu.
Jessika hanya terkikik dan berniat membalas, sejurus kemudian ia memasukkan ponselnya kedalam sling bag andalan.
Bella
Sejak tadi malam ia susah tidur, membuatnya terjaga hingga hampir dini hari dan menghabiskan waktu untuk berselancar di media sosial.
Ia memandang Leo di sampingnya yang sudah terlelap, ia lapar malam hari namun tak tega untuk membangunkan suaminya.
Dia juga baru pertama datang ke rumah di desa, malu sudah pasti.
Dia menscroll ponselnya, saat jari jemarinya lihai menjelajah Instagram miliknya.
Sebuah foto makanan yang begitu menggiurkan, membuat saliva bening di tenggorokannya ia telan sendiri.
glek
Ia mengklik info tentang makanan itu, "Rujak soto khas kota Gandrung" keterangan yang ada di bawah foto itu.
Dia berada di desa yang dekat dengan lokasi tempat itu, rasanya ia begitu menginginkan saat ini juga.
Pagi harinya ia sudah tak bisa lagi menahan rasa untuk mengunjungi tempat itu.
"Aku antar ya, Jessika gak bisa bawa mobil" ucap Leo yang entah mengapa khawatir.
"Enggak, aku gak mau sama kamu. Pingin makan rujak soto itu sama Jessika, berdua aja terus di makan disana"
Leo pernah mendengar cerita jika ibu hamil itu ngidamnya aneh aneh, apakah istrinya saat ini juga demikian?
"Ya aku gak ngijinin kalau kamu yang bawa mobil sendiri" tolak Leo tegas.
"Aku ada ide" ucap Bella seolah mendapat lampu pencerahan dari Albert Einstein.
.
.
David sempat terkejut, sepagi ini Jessika berada di rumahnya. Bahkan dia belum sempat mandi.
Namun Leo menjelaskan jika kedatangan Jessika lantaran atas keinginan Bella, dengan mengatasnamakan ibu hamil yang tengah ngidam.
"Memangnya ada seperti itu" ucap David tak percaya.
"Makanya kak David nikah, biar tahu ngadepi istri yang lagi hamil terus ngidam" ucap Bella memutar bola matanya malas.
"Biarkan mereka David, biar Tomy yang jadi supir" ucap pak Edy yang tiba tiba muncul, namun sudah mendengar obrolan mereka.
"Apa?" Leo dan David kompak berbicara.
Bagaimana bisa papanya meminta Tomy yang mengantar, sementara dia yang suaminya dilarang ikut.
Begitu dengan David, rasa cemburunya semalam saja sudah hilang kini dia harus mendengar jika Tomy akan mengantar adik iparnya dengan kekasihnya.
"Oke aku setuju" ucap Bella.
Membuat Tomy yang berdiri disana langsung pucat.
Tentu saja, secara on the spot mendapat tatapan tajam dari dua pria tampan di depannya.
"Bukan mau saya" ucapnya dalam hati.
****
Tomy sudah menyalakan GPS di dashboard mobilnya, Jessika dan Bella berada di kursi penumpang yang ada di belakang.
"Kamu gak mual lagi kan Jes"
__ADS_1
"Sudah lumayan terbiasa non"
"Maaf kemaren saya belum sempat menyapa anda, karena baru datang langsung..." ucapan Jessika terjeda demi mengingat wajah David yang menuduh.
"Gapapa, emm lagian kayaknya kak David emang lagi bucin sama kamu"
Jessika hanya malu mendengar ucapan Bella.
Perjalanan mereka tempuh selama 2 jam. Kota itu adalah kota kecil, Kabupaten dari dari desa P.
Molor 1 jam dari waktu biasanya, karena terjadi kecelakaan yang melibatkan truk bermuatan nanas dengan sebuah pickup.
Ekor kepadatannya mengular hingga bermeter meter, membuat mereka harus sabar.
Demi Rujak Soto.
Mereka sampai di tempat makan bernuansa klasik, dengan dominasi kayu dan jendela yang luas pada bangunannya.
...Rujak Soto Emak Isun...
Itulah papan nama yang terdapat di depan bangunan itu, persis dengan yang terdapat di Instagram.
Bella memesan dua porsi rujak soto, Jessika sampai keheranan.
Makanan dari lontong dengan bumbu yang terdiri dari kacang tanah yang di ulek bersama petis, cabai, gula merah dan rempah lainnya.
Serta siraman kuah soto lengkap dengan topping daging, ayam, juga kerupuk kriuk.
Lezaaaat.
Menggugah selera.
"Apa habis nona?" Jessika bertanya dengan ragu.
Lebih tepatnya terkejut, dua porsi itu banyak gaes.
Satu porsi saja sudah setinggi gunung Raung, benar benar, kekuatan ibu hamil itu amazing.
"Habis lah, pingin banget"
Sementara Tomy menolak ajakan Bella untuk makan, ia lebih memilih mencari aman saja.
"Stay away from her!!" titah David sebelum menutup pintu mobil saat mereka hendak berangkat tadi, jelas menjadi warning yang harus selalu dia antisipasi.
.
.
Saat pulang mereka hendak mecari jalan alternatif, karena jalan yang mereka lalui awal tadi jelas masih terjadi kemacetan.
"Setelah ini kemana nona" tanya Tomy yang mendadak menjadi supir itu.
"Emm Jalan jalan yang bagus dimana disini Jes?"
"Waduh saya kurang tahu non, maaf saya jarang sekali jalan jalan" ia meringis, karena pada kenyataannya ia memang tidak pernah jalan jalan.
"Ke toko oleh oleh aja Tom"
"Baik nona"
Dengan kekuatan kecanggihan teknologi, ia dengan mudah menemukan tempat yang di inginkan istri bosnya itu.
Mereka kini melewati jalan aspal, dengan pinggiran yang di tanami kayu sengon.
Mereka tengah melintasi jalan alternatif, yang akan tembus ke jalan provinsi nantinya.
"Sejuk banget Jes, aku betah di desa" ucap Bella tersenyum ke arah Jessika.
"Iya nona, saya terimakasih karena jika nona tidak mengajak saya. Saya malah belum pernah lewat jalan ini"
Bella heran, apakah hidup Jessika benar benar sulit, sehingga untuk jalan jalan saja tidak sempat.
Mereka saling ngobrol di dalam mobil, asyik sampai tak menganggap keberadaan manusia datar yang tengah berada di depan kemudi.
Namun mereka tiba tiba terkejut, karena Tomy menginjak rem mendadak.
Ciiiiitttt
Suara decitan yang menimbulkan stempel ban di aspal itu.
"Astaga, Tomy kau ini kenapa" Bella kesal karena Tomy dengan tiba tiba menginjak pedal rem, secara mendadak.
"Anda tidak apa apa nona" Jessika panik, apalagi mengetahui bahwa Bella tengah berbadan dua.
"Sebentar nona" ucap Tomy kemudian membuka pintu mobil dengan terburu-buru.
Karena lama, Jessika akhirnya ikut turun guna ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Ia melangkahkan kakinya kedepan, menuju tempat Tomy yang tengah berjongkok.
Ia membulatkan matanya begitu melihat seorang pria yang bersimpuh di jalan aspal itu, sepertinya Tomy nyaris saja menabraknya, atau bahkan sudah menabraknya.
Namun saat pria itu berdiri, Jessika sangat terkejut demi melihat sosok yang selama ini di cari cari.
"Pak Eko!"
__ADS_1