Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 170. Nasib Aset Berharga


__ADS_3

.


.


.


Leo dan Bella juga baby Claire sudah sampai di Rumah Besar Pak Edy. Mereka kini ingin membalas budi, mereka juga membuat dekorasi meriah guna menyambut kedatangan Jessika.


"Bik, udah siap semuanya?" tanya Bella. Memastikan jika pagi ini, mereka akan sarapan bersama sembari merayakan kepulangan Baby Deo.


"Sudah non, bibik juga sudah masak urap. Kalau orang menyusui harus banyak makan sayur, biar ASI-nya lancar!" jawab Bik darmi dengan rona berbinar.


Panganan dari sayur yang di rebus, di tiriskan dan di campur oleh kelapa muda yang sudah di beri bumbu khas itu, menjadi andalan bagi ibu menyusui di desa itu.


"Sayang, habis ini kita ketemu sama kakak kecil ya." Bella mencubit gemas pipi gembul anaknya, rentang usia Claire dan Deo terpaut satu tahun. Tentu saja Claire tetap memanggil Deo dengan sebutan yang secara silsilah harus memanggil Deo dengan Kak, Mas, atau Abang.


Meskipun umur Claire lebih tua.


.


.


Eka menjadi biang rempong dalam setiap langkah Jessika. Wanita cerewet itu kini tengah menggendong Deo. Mereka semalam sempat pulang dulu, sementara David dan Pak Edy menginap di RS. Dan pagi ini, Tomy serta Eka menjemput mereka kembali di RS.


"Awas hati-hati, jangan sampai anakku kenapa- kenapa!" ucap David yang tengah mendorong kursi roda Jessika, namun masih memperhatikan anaknya yang berada di bawah tanggung jawab Eka.


David tak membiarkan istrinya itu berjalan, apalagi ia tahu dan ingat **** ********** Jessika yang di jahit. Membuat dia harus ekstra memasang badan.


"Aman bos, biar belum punya aku sudah teruji klinis!" Eka terkekeh, ia menghujani bibi gembul Deo dengan ciuman.


Pak Edy terus menyunggingkan senyumnya, ia benar-benar bahagia. " Leo sudah dirumah pasti , ayo Tom kita langsung pulang!"


"Baik Tuan!" Tomy selalu sigap meski kini mereka sudah tidak serumah lagi.


David membopong istrinya dengan sangat pelan, ia mendaratkan tubuh istrinya di kabin tengah. Tomy berada di belakang kemudi, sementara Deo terlihat nyenyak dalam gendongan Eka.


Tomy memperhatikan Eka meski tak terlalu kentara, ia sangat bahagia. Baginya, Eka adalah paket komplit. Mahir di ranjang, mahir di situasi apapun , juga mahir dalam hal apapun.


"Ada enam nyawa yang kau bawa saat ini Tom. Aku harap saat menyetir kau fokus ke jalan, bukan ke istrimu terus!" tukas David yang baru saja duduk di samping istrinya.


Pak Edy dan Jessika tertawa bersama, pasangan yang masih bisa di sebut pengantin baru itu, memang terlihat kompak.


"Iri bilang bos!" ucap Eka.


David mencibir," Iri apanya, punyaku lebih completed " jawab David tak mau kalah.


Eka tergelak," Iya deh untuk yang itu aku kalah ukuran memang!" Eka menunjuk dua benda kenyal di dada Jessika menggunakan dagunya, ia mengatupkan mulutnya menahan tawa, ukuran dada Jessika memang lebih besar dari miliknya.

__ADS_1


"Hey bukan itu!" David yang tahu maksud Eka mendengus kesal. Bisa-bisanya Eka membicarakan hal itu saat ada pak Edy bersama mereka.


"Hahahaha!" Eka tergelak kencang.


"Tom, istri elu tu. Kacau!" dengus David.


Tomy hanya terkekeh," Dia limited edition bos, one and only!" ucap Tomy memandang istrinya sambil tersenyum, sejurus kemudian pandangannya kembali fokus ke jalan.


Mereka semua tergelak, kecuali David yang merasa selalu kalah jika berdebat dengan Eka. " Sayang apa tidak sakit dibuat duduk?" tanya David kepada Jessika mengalihkan situasi kekalahannya. Mengingat ukuran senar yang di benamkan diantara daging, yang menjadi kesayangan David itu cukup membuat David gelisah.


"Agak nyeri, tapi gimana lagi. Makanya, gak boleh ada lelaki yang nyakitin perempuan. Kualat, lihat sendirian kan perjuangan ibu melahirkan itu seperti apa!" tukas Jessika.


David meringis," Tidak akan sayang" David berbisik, ia mencium rambut Jessika. Semenjak menikah dengan Jessika, ia kini menjadi lebih banyak bersenda-gurau dengan orang lain. Tak sekaku dulu.


.


.


Mobil itu membelah jalanan menuju desa P, keluarga yang tengah diliputi kebahagiaan itu, benar-benar tak hentinya bersyukur.


Tepat pukul tujuh lewat dua puluh menit, Jessika bersama rombongan sampai di rumah itu. David begitu menjaga istrinya. Usai membuka kursi roda yang ada di jok belakang, ia segera membopong Jessika kembali dengan pelan.


"Awas sayang kaki!" Tangan kekar nan kokoh milik David tentu saja tak kesulitan untuk mengangkat tubuh Jessika. Ya, meski berat badan wanita itu mengalami kenaikan. David mendudukkan tubuh istrinya ke atas kursi roda itu, ia sendiri yang akan mendorong untuk masuk ke dalam rumah besar.


Deo yang masih dalam gendongan Eka masih saja diam, Tomy terlihat menemani istrinya dengan berjalan di sampingnya. Bahkan, hal itu membuat Eka dan Tomy nampak seperti orang tua yang memiliki bayi itu.


David masih mengurus istrinya, jahitan Jessika cukup banyak. Hal itu terjadi karena bayi Deo lahir besar. Membuat David tak sampai hati membiarkan istrinya berjalan.


Claire berada dalam gendongan mbak yang biasa membantu mengasuh, jika Bella dan Leo tengah sibuk bekerja.


"Selamat datang kakak ipar, selamat atas status barunya ya. Juga welcome to the world David junior!" Bella mencium pipi bulat Deo yang berada dalam gendongan Eka.


Semua orang yang datang tentu saja senang, diiringi canda tawa, serta sahutan kelakaran dari Eka, mereka semua larut dalam sukacita.


"Sini ikut Tante nak!" Bella ingin mengambil alih Deo, namun saat baru saja akan melepas Jarit yang di kenakan Eka, Claire yang tengah belajar berjalan itu menangis karena melihat mamanya hendak menggendong bayi lain.


Pak Edy menjadi orang yang paling bahagia melihat interaksi itu, baginya tak ada hal lain yang lebih membahagiakan di usia senjanya itu, selain melihat anak cucu yang hidup sehat dan damai. Terlepas dari rumitnya masa lalu yang terjadi diantara mereka, namun keadaan saat ini adalah keadaan yang patut ia syukuri.


Semua orang tergelak melihat kecemburuan Claire kepada Deo. " Buruan bikinin adek biar gak begitu mbak!" sahut Eka terkekeh.


" Aku sih maunya begitu!" ucap Leo santai.


Bella hanya mencibir, "Satu aja belum bisa ngurus, mau dua." sindir Bella. Membuat Leo tertawa, harus dia akui Leo memang tak terlalu mahir dalam menegangkan Claire jika menangis.


Mereka semua akhirnya sarapan, sementara David mengantar istrinya ke dalam untuk meng-Asihi Deo. Bayi mungil itu mulutnya bergerak kesana kemari, seolah mencari sesuatu. Dan itu adalah tanda bagi Jessika untuk segera memberikan ASI.


Usai memastikan Jessika duduk dengan nyaman, Eka memberikan Deo kepada sahabatnya itu." Awas pelan- pelan masih fragile itu!" David menjadi takut, ia juga belum terlalu berani menggendong bayi itu.

__ADS_1


"Jangan meremehkan wong ndeso bos!" gerutu Eka.


"Ya sudahlah, aku mau ngisi lambungku dulu, aku selalu butuh tenaga. Mengingat suamiku selalu butuh asupan energi peranjangan dariku!" Eka terkekeh geli.


David melempar Eka dengan sebuah bantal mini, bisa- bisanya wanita itu membicarakan hal itu sepagi ini, namun Eka berhasil menghindar. Sejurus kemudian Eka menjulurkan lidahnya kepada David.


"Sialan!" umpat David saat Eka berhasil keluar degan wajah menye-menye.


Jessika hanya tersenyum, entah sampai kapan suami dan sahabat itu akan selalu seperti Tom & Jerry yang tak pernah akur.


" Kok bisa Tomy mau sama dia ya mam!" ucap David. Jessika merasa senang dengan panggilan baru, yang baru saja di ucapkan oleh suaminya itu.


"Kok pertanyaan gitu, papa juga kok mau sama mama?" Jessika berusaha membalas David.


David terperanjat, panggilan manis dari istrinya itu membuat dirinya melayang bagai balon. Melayang ke udara, dia sangat bahagia. Sangat dan sanga bahagia.


"Kan mama beda, gak ada duanya!" dan sejak saat itu, David sudah mengukuhkan panggilan sayang terbarunya.


Jessika hanya mencibir. Melihat suaminya yang kini sangat berbeda dari pribadinya yang dulu." Gombal!"


David menelan ludahnya tatkala Jessika sudah mengeluarkan isi buah dadanya yang makin terlihat berisi, David duduk di depan istrinya dengan menunggangi kursi kotak.


Deo kecil terlihat langsung menyambar sumber kehidupannya itu dengan rakus. Ya, ASI Jessika sudah keluar. Itu karena dokter menganjurkan untuk tetap memberikan ****** kepada Deo, meski ASI itu belum keluar. Hisapan mulut kecil Deo akan bisa merangsang ASI agar bisa terproduksi dengan segera.


Dan saat ini, hal itu sudah terjadi. " Dia rakus sekali sayang!" ucap David iri kepada anaknya.


" Tentu saja dia harus rakus, memangnya papanya saja yang boleh rakus?" Jessika terkekeh.


David berengut namun terselip rasa geli saat mengingat dirinya yang begitu memuja dua benda kenyal milik istrinya itu, sejurus kemudian ia menangkup wajah istrinya kemudian mencium bibir Jessika lembut, penuh cinta. Posisi Jessika masih menggendong dan memberikan ASI kepada Deo. Jessika merasakan kebahagiaan, suaminya itu begitu lembut memperlakukan dirinya.


"Astaga, aku lupa.." ucap David murung usai melepaskan ciuman mereka.


"Ada apa?" Jessika terlihat bingung dengan suaminya.


"Sekarang bagaimana nasib aset berhargaku ini?, dokter tadi bilang masa breakmu 40 hari kan sayang. Apa bisa aku puasa selama itu?" wajah David tertunduk layu, wajahnya lesu tak memiliki semangat juang.


Jessika tergelak, astaga dia pikir hal apa.


"Oalah Pa, aku pikir ada apa" Jessika terlihat mengusap kening Deo yang berkeringat, karena aktivitasnya saat meminum ASI.


Melihat istrinya yang B aja, David menjadi bingung. " Ini serius sayang, benda pentingku ini kan milikmu. Jadi, kamu juga harus turut memikirkan nasibnya!" David meraih tangan kanan Jessika, lalu mengarahkannya ke atas kejantanannya.


David meremaskann tangan lembut itu, ke bagian kelelakiannya. Jessika membelalakkan matanya, sementara David tergelak melihat wajah terkejut istrinya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2